Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tentara Muslim di Kubu Rusia dan Ukraina, UIY: Bisa Ditepis Jika…



Jakarta, Visi Muslim-   – Menyoal tidak sedikitnya tentara Muslim di masing-masing kubu, Rusia maupun Ukraina, Cendekiawan Muslim Ustaz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) mengatakan, hal itu bisa ditepis apabila umat Islam memiliki agenda sendiri.

“Yang bisa menepis itu semua itu adalah jika umat Islam punya agenda sendiri,” ujarnya dalam Fokus: Krisis Ukraina, di Mana Umat Islam? Ahad (6/3/2022) di kanal YouTube UIY Official.

Fakta tersebut, kata UIY, juga menunjukkan bahwa politik militer memang sarat dengan kontradiksi. Sebab, militer selalu digerakkan oleh kepentingan.

Menurutnya, hal demikian dikarenakan umat Islam belum punya preseden di masa lalu. “Baru kali ini terjadi sepanjang 1400 tahun secara perkembangan umat Islam,” ungkapnya.

Terlebih, saat ini umat Islam berada di banyak negara bangsa yang sebagian besarnya berada di dalam cengkeraman negara besar, dan sebagian lagi malah saling berhadapan. “Kondisinya memang sangat parah,” sesalnya.

Sebutlah Rusia. Dengan perhatian yang berbeda dari Boris Yeltsin, presiden sebelumnya yang keras kepada Chechnya, Vladimir Putin tampak lebih akomodatif terhadap keberadaan umat Islam di sana. “Khususnya pada kantong-kantong umat Islam itu di Chechnya, di Dagestan,” jelasnya.

Sehingga ia tak heran umat Islam serta para tentara republik otonom yang tergabung dalam Federasi Negara Beruang Merah tersebut, yang mayoritas Muslim turut mendukung Rusia.

Tetapi, UIY menilai, bisa jadi sikap Chechnya yang demikian, dijadikan langkah awal agar nantinya, Rusia balas mendukung Palestina di dalam konfliknya dengan Israel.

Hebatnya, Putin pun mencoba menggambarkan Ukraina sebagai pendukung Israel. “Presiden Ukraina sekarang kan keturunan Yahudi. Dan dengan terbuka juga, Ukraina itu meminta Israel itu menjadi penengah. Jadi bukan bela Rusia,” terangnya.

Sedangkan Ukraina, UIY mengatakan, Presiden Volodymyr Zelensky juga menggambarkan bahwa Ukraina saat ini sedang diserang oleh Neo Hitler.

Lantaran itu, siapa pun diserukan untuk melindungi Ukraina, termasuk umat Islam. “Kata dia, ini adalah jihad. Begitu pula yang diserukan kepada Afghanistan,” ucap UIY yang sekali lagi menyayangkan, lanskap perpolitikan di dalam sebuah konflik, selalu diwarnai oleh sikap-sikap umat Islam yang kontradiktif antara dua pihak yang sedang berseteru.

Bahkan di Indonesia pun, sindirnya, secara pilpres masing-masing kubu mencoba memberikan gambaran bahwa calon yang diusung juga sesuatu yang bersifat Islam.

Lebih luas, hal itu makin tampak di tengah Perang Dunia Pertama terjadi. “Sampai orang menyebut ini jihad ala Eropa. Karena di pihak Jerman dan Kekhilafahan Utsmani, di situ diserukan jihad. Tetapi di Inggris juga dibantu kurang lebih 300 ribu pasukan Islam yang juga mengatakan jihad,” ungkapnya.

Maka itu sebagai Muslim cerdas, penting melihat konstelasi politik itu secara lebih jernih. “Sesungguhnya krisis ini atau lebih tepatnya invasi Rusia kepada Ukraina itu lebih karena konteks politik atau kepentingan politik Rusia di area itu atau kepentingan politik regional Rusia,” bebernya.

“Dan sesungguhnya juga tidak ada hubungannya sama sekali dengan Islam. Kecuali di dalam konteks domestik Rusia seperti yang saya sebutkan tadi,” imbuhnya.

Standar Ganda

“Standar ganda ini adalah sesuatu yang sangat mengenaskan. Sesuatu yang kalau orang lugas mengatakan, sangat menjijikkan!” tegasnya.

Hal itu ia sampaikan berkenaan dengan narasi yang telah dibangun Rusia tersebut, yakni berperang melawan entitas Yahudi, mengaitkan dengan entitas Presiden Ukraina, sekadar mendapatkan dukungan hari komunitas Muslim.

Padahal di sisi lain, yang dilakukan di Suriah sangat kontradiktif. “Apa yang dilakukan di Suriah, itu jauh sekali dengan narasi yang dikembangkan ini hari,” tandasnya.

Pasalnya, Barat memandang perlakuan Rusia atas Ukraina telah menyentuh kepentingan mereka, baik aliansi Eropa, NATO maupun Ukraina sendiri. “Sementara aneksasi serupa yang dilakukan oleh Rusia terhadap Suriah itu tidak menyentuh kepentingan mereka,” ujarnya.

Sampai-sampai, terdengar teriakan dari orang-orang Timur Tengah yang memilukannya. “Apakah saya harus suntik tubuh saya untuk menjadi putih dan menjadi mata biru untuk bisa mengundang simpati dunia?” demikian teriakan orang-orang di sana yang ditirukannya.

Di samping itu, sikap hipokrit tampak dari pergelaran olahraga sepakbola di Inggris. “Celtic, pada tahun 2016 itu didenda oleh FIFA karena fansnya mengibarkan bendera Palestina dan dianggap membawa unsur politik ke dalam sepak bola,” ungkapnya.

Tetapi hal sama tidak terjadi ketika, masih di liga Inggris, baru-baru ini para pemain salah satu klub sepakbola profesional menunjukkan simpatinya dengan berbaris mengenakan bendera Ukraina di atas bahu mereka sebelum bertanding.

“Tidak ada sanksi, tidak ada pelarangan, tidak ada kecaman dan tidak dianggap itu semua memasukkan unsur politik di dalam sepakbola,” geramnya.

Makin meyakinkan, lanjut UIY, umat Islam memang tidak memiliki kekuatan. Artinya, posisi umat Islam saat ini hanya menjadi korban atau part of (bagian dari) suatu dinamika politik dunia. “Umat Islam ini hari, itu menjadi part of, menjadi bagian saja dari setiap dinamika domestik regional, termasuk juga global,” timpalnya.

Kendati secara kuantitas menjadi yang terbesar di dunia, yakni lebih 1,7 miliar jiwa (World Population Review), tetapi umat Islam sangat fragmented, terutama dari sisi politiknya. “Menjadi bagian dari Rusia atau menjadi bagian dari Ukraina. Kalau di Timur Tengah, dia (Muslim) menjadikan korban,” selanya.

Bahkan secara Rusia pun yang berpenduduk Muslim sekitar 20-30 juta jiwa, tetap, di dalam konteks global tidak memiliki power. “Hanya menjadi pelengkap saja. Pelengkap subyek maupun pelengkap dari obyek penderita,” sedihnya lagi.

Dua Unsur

Situasi demikian, menurut UIY, akan terus berlangsung sepanjang umat tidak memiliki kekuatan dan persatuan. “Kapan umat Islam bersatu? Ketika ada dua unsur penting yang menyatukan umat Islam. Apa itu?” tanyanya runtut.

Pertama, ada institusi politik yang memang berdirinya untuk kepentingan menyatukan umat Islam. “Itulah yang di dalam Islam disebut sebagai khilafah,” jelasnya.

Kedua, ada pemimpin dari institusi politik dimaksud yang nantinya menjadi pemimpin umat Islam seluruhnya. “Itulah yang disebut dengan khalifah,” jawabnya lagi.

Dengan membaca berbagai konflik yang meskipun tak secara langsung berkaitan dengan Islam, semestinya mampu memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi umat Islam bahwa kondisi demikian akan terus terjadi.

“Menjadi penonton, menjadi pelengkap penderita atau pelengkap dari subyek, sepanjang umat Islam tidak memiliki kekuatan,” ujarnya.

“Dan kekuatan itu hanya mungkin terwujud ketika memiliki dua unsur yang tadi disebut,” paparnya.

Namun, meski gagasan penyatuan umat dianggap sebagian pihak sebagai sesuatu yang utopis, ia justru optimis, dengan kembali kepada tuntunan sebagaimana thariqah dakwah Rasulullah, akan muncul kesadaran umat tentang pentingnya persatuan dan khilafah.

Maknanya, semua akan menjadi energi kumulatif yang pada titik tertentu, menjadi sebuah energi sangat besar yang mampu mendorong umat pada satu tujuan, bahwa tidak ada lain yang bisa diharapkan kecuali untuk dirinya serta tegaknya Islam. “Izzul Islam wal Muslimin,” pungkasnya.[] Zainul Krian

Posting Komentar untuk "Tentara Muslim di Kubu Rusia dan Ukraina, UIY: Bisa Ditepis Jika…"