Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Remaja Kudu Paham! Meluruskan Taaruf dengan Pacaran





Oleh: Ismawati


Dear, pernah nggak sih ngerasa banget punya rasa cinta dan sayang? Contohnya nih cinta kepada orang tua, keluarga, hewan peliharaan atau benda kesayangan. Wajar, karena sebagai manusia kita telah diberikan Allah Swt. naluri berkasih sayang. Naluri ini muncul sebagai bagian dari fitrah manusia untuk saling menyayangi. Terlebih, jika rasa cinta itu muncul kepada lawan jenis merupakan hal yang alami terjadi. 

Hanya saja, Allah Swt. tidak membiarkan manusia bebas memenuhi naluri ini sesuai kehendaknya. Semua diatur dalam rambu-rambu syari'at Islam. Termasuk adanya bunga-bunga cinta yang tumbuh dalam hati remaja. Allah Swt. telah memberikan aturan pemenuhannya yakni hanya dalam ikatan pernikahan. 

Sayangnya, jalan menuju pernikahan tidaklah mudah. Biasanya perlu dilakukan seleksi untuk menentukan siapa yang tepat menemani hidup kita. Karena harapan terbaik adalah hidup bersama pasangan sehidup dan sesurga. Seleksi yang dimaksud inilah aktivitas pacaran. Pacaran dianggap sebagai seleksi awal, saling mengenal dan berkomitmen sebelum menuju jenjang pernikahan.

Namun faktanya, aktivitas pacaran selama ini selalu diwarnai dengan aktivitas yang melanggar norma agama. Seperti misalnya berdua-duaan, pegangan tangan, atau bahkan bisa menukar kehormatan berujung kehamilan. Meskipun ada akhirnya untuk menikah. Sejatinya, jika sebuah pernikahan yang berkah dengan mengharap rida Allah Swt., maka jalannya pula harus sesuai dengan perintah-Nya. Tentu jalannya bukan dengan pacaran yakni ta'aruf. 

Beberapa waktu lalu sempat viral di sosial media, seorang Habib yang terkenal dan banyak diundang di media membahas tentang taaruf dan pacaran. Beliau mengatakan bahwa hukum pacaran itu tergantung, sebab dalam Islam itu ada yang namanya ta'aruf dan ta'aruf itu bisa disebut juga pacaran. Karena keduanya itu saling mengenal, saling berkomitmen untuk menikah. 

"Jadi gini, tergantung dalam Islam itu ada yang namanya ta'aruf, ta'aruf itu bisa disebut juga pacaran, artinya keduanya itu saling mengenal, saling berkomitmen untuk menikah, perkara nanti jadi atau nggak, terserah, tapi komitmen untuk menikah itu penting," Ungkap Habib Ja'far dalam acara kePoin Ramadhan yang ditayangkan secara live di YouTube Rans Entertainment.

Pernyataan ini jelas menimbulkan pro dan kontra di tengah-tengah masyarakat. Sebab, ta'aruf dan pacaran tidaklah sama. Meskipun keduanya sama-sama bertujuan untuk menikah. Namun, aktivitas ta'aruf dan pacaran sangat berbeda. 

Ta'aruf merupakan sebuah proses perkenalan pasangan sebelum menikah. Prosesnya tidak seperti pacaran yang berdua-duaan, namun didampingi oleh mahram si wanita. Bumbu-bumbu cinta pacaran lebih menghantarkan kepada nafsu semata. Sementara dalam ta'aruf keduanya menjalani proses menuju pernikahan yang penuh keberkahan.

Oleh karena itu, jika seseorang sudah siap menikah akan menyampaikan niat baiknya kepada keluarga atau perantaranya. Selanjutnya ada proses lain yakni nazhar (melihat). Dalam proses ini dibolehkan calon pria dan wanita saling bertanya visi misi pernikahan dengan didampingi mahram tentunya. 

Barulah jika ada keseriusan berlanjut dengan khitbah (ikatan). Khitbah adalah sebuah ikrar pria yang menyampaikan niat baiknya untuk menikahi si wanita. Namun, setelah di khitbah tetap tidak boleh melakukan hal-hal yang dilarang syariat. Sebab, posisinya belum halal karena belum terucap akad.

Seperti inilah proses ta'aruf yang sesuai syariat. Kehormatan dan marwah seorang wanita akan terjaga sebelum akad terucap. Sangat jauh berbeda dengan aktivitas pacaran yang saat ini melanda generasi muda. Syariat Islam telah memberikan rambu-rambu dalam mengatur kehidupan pria dan wanita. Tugas kita adalah menerapkannya dalam kehidupan, sebagai konsekuensi keimanan kita kepada Sang Pencipta. 

Merebaknya virus sekularisme (memisahkan agama dari kehidupan), menjadikan kehidupan remaja terpisah dari norma agama. Agama hanya dianggap sebagai ibadah ritual saja. Sementara dalam kehidupan manusia bebas menentukan hidupnya sendiri. Seperti inilah jika sekularisme merasuk kepada jiwa kaum Muslim. Ta'aruf dan pacaran seolah bias dan dianggap serupa.

Maka, remaja harus selalu membentengi diri dengan akidah dan belajar Islam secara rutin. Agar, kita berada dalam circle orang-orang salihah yang dapat menyelamatkan hidupmu dunia dan akhirat. Aamiin. 


Wallahua'lam bishowab. 

Posting Komentar untuk "Remaja Kudu Paham! Meluruskan Taaruf dengan Pacaran"