Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Budaya Merusak Generasi yang Diapresiasi

Ilustrasi 



Oleh : L. Nur Salamah (Aktivis Muslimah Batam & Kontributor Media)


Fenomena CFW (Citayam Fashion Week) sampai hari ini masih menjadi perbincangan hangat, baik pro maupun kontra. Banyak juga yang memberikan dukungan bahkan berupa penghargaan. Namun, tidak sedikit juga menuai berbagai kritik tajam.

Seperti dilansir dari laman detikedu, Selasa (19/07/2022), Sandiaga Uno yang menjabat sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi turut memberikan apresiasi terhadap kreativitas anak-anak muda tersebut dengan menawarkan kerjasama dalam bentuk beasiswa dan pembekalan. Menurutnya adanya CFW mampu mendongkrak perekonomian wilayah di sekitarnya.

Realitas CFW sendiri merupakan tempat atau tumpuan para remaja dari berbagai latar belakang untuk berjalan lenggak-lenggok di tengah jalan dengan memamerkan busana nyentrik yang jauh dari nilai agama dan budaya ketimuran. 

Di samping itu aksi mereka yang mondar-mandir di tengah jalan ini jelas sangat mengganggu pengguna jalan dan pengendara umum. Belum lagi aktivitas campur baur antara laki-laki dan perempuan ini secara tidak langsung merupakan kampanye pacaran dan kebebasan. Mengapa hal yang semacam ini justru diapresiasi?

Sangat berbanding terbalik. Beberapa bulan yang lalu, ada kegiatan yang diinisiasi oleh BWA (Badan Waqaf Al-Quran) yakni membaca Al-Qur'an di trotoar jalan Malioboro, setelah viral hal ini justru dipersoalkan dengan alasan tidak ada izin. 

Padahal jika diperhatikan, kegiatan mereka ini sama sekali tidak menggangu lalulintas, karena duduk dan tenang dengan mengaji. Bahkan sebagai orang yang mengaku beriman justru hati menjadi tenteram dengan mendengarkan alunan ayat suci. Namun, kenyataan berbeda. Yang begini ini justru akan dinilai macam-macam bahkan bisa dituding radikal dan segala macam. 

Sekuler Kapitalisme Pangkal Kehancuran 

Sekularisme merupakan paham yang memisahkan agama dari kehidupan, sukses mengantarkan generasi menjauh dari nilai-nilai agama dan norma ketimuran. Tolak ukur perbuatan mereka bukan lagi halal ataupun haram. Mereka akan berbuat sesuka hati demi memuaskan nafsu duniawi.

Begitu juga dengan kapitalisme yang memandang bahwa kebahagiaan dan kemuliaan hanya diukur dari materi duniawi dan sesuatu yang bersifat jazadiah semata. Yang akhirnya menjadikan manusia atau generasi saat ini hanya berfikir bagaimana caranya mendapatkan materi yang sebanyak-banyaknya tanpa harus bersusah payah. 

Wajar, jika tingkah laku para remaja di CFW ini tidak lagi ada rasa malu, harga diri tak lagi berarti. Mereka berjoget-joget dan bergaya dengan pakaian nyentrik, bahkan yang perempuan hanya mengenakan tanktop, sambil jalan berlenggak-lenggok. Sehingga, mereka menjadi viral di media sosial, akun mereka seketika dihujani ribuan follower. Dengan begitu saja mereka bisa meraup keuntungan yang luar biasa dari sisi materi. Akhirnya mereka bisa mendapatkan banyak uang dalam waktu sekejap tanpa harus bersusah payah. 

Jika kita renungkan, apabila anak-anak seantero negeri ini menyaksikan dan mem-follow lantas apa yang ada dalam benaknya? Mereka pasti akan berpikir untuk apa berlelah-lelah sekolah dengan berbagai tugas yang membosankan. Anak-anak jalanan seperti itu saja bisa mendadak terkenal dan punya penghasilan. Hancurlah sudah potensi generasi ini. 

Namun, anehnya para petinggi dan artis papan atas pun turut memberikan apresiasi terhadap tingkah polah yang mengabaikan marwah ini. Mereka menilai ini ada sebuah kreativitas. Padahal sudah jelas-jelas rusak dan menghancurkan generasi. Astaghfirullah hal azim.

Islam Menuntun Generasi Memahami Jati Diri

Sangat berbeda dengan Islam. Selain agama, Islam sekaligus sebagai ideologi (akidah yang memancarkan segenap aturan) dari Sang Pencipta. Yang pasti aturan itu dibuat untuk kebaikan dan kemaslahatan seorang hamba. Karena tidak ada kepentingan dengan apapun dan siapapun di muka bumi ini. 

Generasi Islam jelas benar-benar memahami hakikat dan tujuan hidupnya di dunia. Mereka menyadari bahwa hakikat penciptaannya adalah hanya untuk beribadah kepada Allah SWT. Sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur'an Surat Az-Zariyat ayat 56, yang artinya, "Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaku"

Ayat di atas menegaskan bahwa manusia diciptakan itu hanya untuk beribadah, menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangannya. Dan tolak ukur suatu perbuatan adalah halal atau haram. Pada hakikatnya hidup manusia itu bebas terikat. Karena setelah kematian akan ada pertanggungjawaban. 

Oleh karena itu sebagai generasi yang menyadari untuk apa dirinya diciptakan di dunia ini, maka akan fokus pada sesuatu perbuatan yang sekiranya diridai Allah SWT. Seperti belajar, menyibukkan diri dengan aktivitas yang bermanfaat untuk kemaslahatan umat. Boleh dan sah-sah saja jika harus berselancar di media sosial, seperti tik tok, menjadi YouTubers ataupun kreator, namun semua itu dimaksudkan untuk berdakwah atau menginspirasi orang lain dalam kebaikan. Bukan berorientasi pada eksistensi diri yang mengabaikan rambu-rambu syariat.

Pun dengan penguasa atau pemimpin, mereka adalah periayah, mengurusi urusan umat. Memberikan pelayanan dalam berbagai bidang dan menetapkan berbagai kebijakan demi kemaslahatan umat. Bukan karena dorongan materi dan keuntungan semata. Mereke bekerja dan beramal hanya untuk meraih rida Allah SWT. Allahu'alam Bishowwab. 

Posting Komentar untuk "Budaya Merusak Generasi yang Diapresiasi"