Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Haji: Reminder Ketaatan Total pada Syariat dan Bersatunya Umat





Oleh: Sherly Agustina, M.Ag. (Penulis dan pemerhati kebijakan publik)



Allah Swt. berfirman dalam surat As-Shaaffaat ayat 102:

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. 

Umat Islam memiliki dua hari raya, yaitu hari raya Iduladha dan hari raya Idulfitri. Idulfitri dirayakan setelah berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadan, yaitu 1 Syawal. Umat Islam merayakan hari raya tersebut dengan suka cita. Karena di hari raya itu umat bisa saling berkunjung dan silaturahmi ke sanak saudara. Khususnya di hari raya Iduladha, umat yang memiliki kelebihan rezeki bisa saling berbagi. 

Pada saat umat Islam di belahan bumi mana pun merayakan Iduladha, sebagian umat yang sudah 'dipanggil' oleh Allah melaksanakan ibadah haji di tanah suci. Haji termasuk pada rukun Islam yang kelima, umat Islam berupaya selama hidupnya bisa menunaikan ibadah haji walau hanya sekali. Begitu yakinnya umat pada syariat haji, siapa pun berusaha untuk mempersiapkannya baik lahir maupun batin.

Rasulullah saw. sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang berasal dari Abdullah bin Umar RA, "Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, membayar zakat, haji ke Baitullah, dan puasa Ramadan." (HR Bukhari dan Muslim).

Umat Islam yang sudah mampu menunaikan ibadah haji, mereka melakukannya sebagai panggilan taat secara total. Begitu pun dengan umat yang beribadah kurban, melakukannya atas panggilan taat. Hal ini sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim dan Ismail, Allah perintahkan Nabi Ibrahim menyembelih anaknya yang sangat dicintai dan dinanti. Nabi Ibrahim dan Ismail ikhlas melakukan penyembelihan itu karena dorongan taat secara total.

Hikmah dari ketaatan mereka, bahwa umat harus taat secara total pada syariat. Bukan hanya pada satu aturan, tapi seluruh aturan dalam kehidupan. Bukan hanya masalah ibadah, tapi mulai dari akidah, syariah, muamalah, dakwah dan Khilafah. Ketaatan total pada syariat ini sebagai wujud konsekuensi keimanan seorang hamba pada Rabb-Nya. Ibarat orang yang jatuh cinta, akan melakukan apa saja yang disukai oleh orang yang dicintainya. 

Ibadah haji dan kurban tidak hanya dilakukan oleh Muslim Indonesia saja, tapi di seluruh dunia. Hal ini membuktikan bahwa syariat Allah diciptakan untuk semua manusia di muka bumi. Membuktikan juga, bahwa syariat ini tidak berubah dari masa ke masa atau zaman ke zaman. Tetap seperti itu. Sekaligus membantah jika ada orang jahil mengatakan, bahwa syariat Allah bisa berubah bergantung tempat dan zaman. 

Walau ada upaya pengaburan dan pengikisan akidah Islam, misal adanya perbedaan penentuan waktu Iduladha yang terjadi di negeri ini. Seharusnya umat tidak dibuat bingung dengan adanya perbedaan waktu Iduladha tahun ini, namun faktanya pemerintah membuat resah. Atas dasar nation state (nasionalisme), telah membuat umat terpecah belah dan terkikis akidah. 

Haji sejatinya menjadi reminder untuk umat Islam di seluruh dunia bahwa dari ketaatan Nabi Ibrahim dan Ismail mendorong umat untuk taat syariat secara kaffah. Ibadah haji mengumpulkan umat Islam di seluruh dunia, hal ini menjadi bukti bahwa umat Islam seluruh dunia bisa dipersatukan dengan akidah dan syariat Allah. Sekaligus bisa membungkam siapa saja yang meragukan bahwa syariat Khilafah mampu menyatukan milyaran umat Islam di dunia. 

Dengan demikian, menjadi bukti dan bantahan jika ada yang mengatakan bahwa syariat Allah hanya akan memecah belah dan tak mungkin bisa menyatukan umat di dunia. Jika satu syariat saja bisa menyatukan umat seluruh dunia, apalagi seluruh syariat jika diterapkan. Umat harus terus dipahamkan dan disiram keimanannya agar tumbuh subur sehingga lebih bersemangat menerapkan syariat.

Firman Allah Swt. di dalam Al Quran surat Al Jasiyah ayat 18: "Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui."

Allahualam bishawab. 

Posting Komentar untuk "Haji: Reminder Ketaatan Total pada Syariat dan Bersatunya Umat"