Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Permasalahan Gizi Buruk, Buah dari Sistem Buruk





Oleh : Reni Adelina (Aktivis Muslimah) 


Separuh penduduk Indonesia mengalami kelaparan tersembunyi (hidden hunger). Sontak berita ini membuat kaget saat membaca judul berita yang dipaparkan Media Indonesia pada 18 September yang lalu. Negeri yang kaya raya dengan sumber daya alam yang melimpah ternyata masih memiliki kualitas konsumsi pangan yang belum baik alias gizi buruk.

Fakta ini telah dirunut dan dipaparkan oleh pakar gizi sekaligus Guru Besar Ilmu Gizi Fakultas Ekologi Manusia IPB, Drajat Martianto mengungkapkan bahwa 50% penduduk Indonesia mengalami kelaparan tersembunyi (hidden hunger). Ia menjelaskan, sesuai penelitiannya bahwa separuh masyarakat Indonesia masih minim dalam pemenuhan gizi mikro khususnya zat besi, iodium, asam folat, seng, vitamin A, dan gizi mikro lainnya. Hanya 1% rakyat Indonesia yang tidak mampu mengakses pangan makro yang mengandung karbohidrat. Separuh masyarakat Indonesia masih masih sangat kekurangan dalam memenuhi kebutuhan gizi seperti sayuran, buah-buahan, pangan hewani dan kacang-kacangan. Menurutnya, hal ini disebut hidden hunger karena sering kali tanda-tandanya tidak tampak, namun dampaknya sangat besar. 

Penelitian ini diperkuat dengan pendapat para pakar di Badan Kesehatan Dunia (WHO) bahwa defisiensi zat gizi mikro ini bisa mempengaruhi kondisi kesehatan. Pada umumnya ditandai dengan penurunan tingkat energi, kejernihan mental dan seluruh kemampuan atau daya tahan pada seseorang terkhusus pada anak. Jika daya tahan anak menurun maka dapat dengan mudah terserang berbagai penyakit. Lalu apa yang menjadi akar permasalahannya? Padahal Indonesia negeri yang kaya dan makmur dengan sumber daya alam. Pun, Indonesia terkenal dengan tanah yang subur dan memiliki predikat negara agraria karena mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani. 

Akar Permasalahan Gizi Buruk

Permasalahan gizi buruk sebaiknya menjadi perhatian besar bagi setiap orang. Fakta seperti ini tidak boleh dianggap seperti angin lalu. Mengapa? Karena dengan permasalahan gizi buruk hari ini mampu mempengaruhi kualitas produktivitas para generasi untuk beberapa tahun ke depan? Siapa yang tidak bimbang ketika para generasi penerus tumbuh dengan kualitas kesehatan yang menurun? Siapa yang akan menjalankan urusan-urusan umat dengan baik jika calon-calon pemimpinnya lemah dalam fisik dan juga daya pikir. 

Fakta seperti ini sebenarnya sungguh menyedihkan. Tidak bisa dipungkiri untuk pemenuhan gizi yang berkualitas dipengaruhi dengan pendapatan yang layak. Jika dilihat fakta di lapangan masih banyak masyarakat Indonesia yang belum sejahtera. Jangankan untuk memenuhi gizi seimbang seperti sayur, buah, daging, dan lain-lain. Bahkan untuk membeli beras pun masih ada yang belum mampu. Belum lagi himpitan ekonomi dengan mahalnya kebutuhan barang-barang pokok. Mulai dari kenaikan harga beras, telur, minyak goreng, sayuran, cabai, tarif listrik hingga terbaru adalah kenaikan BBM yang sudah pasti mendongkrak kenaikan harga-harga lain. Lapangan pekerjaan pun masih sangat sempit. Hal ini membuat kepala rumah tangga merasa kesulitan untuk memenuhi kebutuhan perut keluarganya. Ibarat kata jangankan mau makanan bergizi, bisa makan sehari sekali saja sudah bersyukur.

Tata kelola sumber daya alam juga menjadi faktor penyebabnya. Hasil kekayaan sumber daya alam yang dimiliki negeri kaya raya ini belum mampu dijangkau oleh rakyat sendiri dengan harga yang murah. Murah menurut versi rakyat kecil, bukan murah menurut para pejabat dan pengusaha. Selain tata kelola, kepedulian para pengatur urusan rakyat mengenai kesejahteraan rakyat belum maksimal. Tentu banyak program yang telah dicanangkan, namun belum merata ke seluruh lapisan masyarakat yang membutuhkan. Artinya ada sistem pengaturan yang tidak tepat, ditambah sistem kehidupan yang tidak layak. 

Sistem kehidupan saat ini bernama kapitalisme sekuler. Sistem kehidupan yang menjauhkan kita dari aturan Sang Pencipta. Sistem ini membuat karut-marut berbagai aspek kehidupan. 

Islam Hadir sebagai Solusi

Permasalahan hidup kian hari kian rumit. Kesenjangan sosial dirasakan di mana-mana. Kaya makin kaya, miskin makin miskin. Ini tidak lain karena jauhnya manusia dari aturan Sang Pencipta ditambah kungkungan sistem yang salah. Dalam permasalahan gizi buruk ini sudah seharusnya menjadi tanggung jawab seorang pemimpin. Pemimpin yang adil, amanah, beriman dan bertakwa tidak akan membiarkan ada rakyatnya merasakan kelaparan. "Imam adalah pemelihara dan dia bertanggung jawab atas rakyatnya" (HR. al-Bukhari). 

Ada cerita yang begitu masyhur dan terkenal. Yakni kisah Khalifah Umar bin Khattab saat menjadi kepala negara. Dalam malamnya, beliau selalu memikirkan kondisi rakyatnya, sampailah pada waktu tertentu beliau menemui ada seorang ibu yang merebus batu untuk anak-anaknya. Sang ibu membohongi anak-anaknya bahwa masakan masih lama untuk disantap. Sang ibu merasa sedih karena tak ada lagi bahan makanan yang bisa diolah. Sang ibu mengulur waktu agar anak-anaknya dapat tertidur pulas karena menunggu makanan itu terlalu lama. 

Hal ini membuat Khalifah Umar merasa menjadi manusia yang paling bersalah, karena membiarkan rakyatnya merasakan kelaparan hingga merebus batu. Khalifah Umar merasa pilu, lalu ia menggendong gandum dari Baitul Mal untuk diserahkan kepada sang ibu tersebut. Khalifah Umar tak ingin bahwa kejadian ini menjadi hisab beratnya di hari kiamat. Khalifah Umar memikul gandum di pundaknya dan enggan dibantu para ajudannya. 

Kisah-kisah teladan para pemimpin lainnya telah banyak dicontohkan. Alangkah baiknya jika kisah ini dapat dijadikan hikmah bagi para pemimpin dalam memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Landasan keimanan dan ketakwaan dalam kepemimpinan juga harus diimbangi dengan sistem Islam. Agar terciptanya individu yang beriman dan bertakwa dalam segala hal. 


Wallahua'lam

Posting Komentar untuk "Permasalahan Gizi Buruk, Buah dari Sistem Buruk"