Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Politik Identitas, Salah Satu Upaya Pengaburan Fakta

 


Jakarta, Visi Muslim- Munculnya istilah politik identitas yang lantas cenderung ditujukan kepada individu atau kelompok Islam, dinilai Cendekiawan Muslim KH Rokhmat S Labib sebagai salah satu upaya pengaburan fakta.

“Menurut saya ini satu pengaburan fakta,” ujarnya dalam Perspektif PKAD: Fobia Politik Identitas di Tengah Penistaan Nabi Muhammad SAW, Rabu (23/11/2022) di kanal YouTube Pusat Kajian dan Analisis Data.

“Kenapa pengaburan fakta? Karena sebenarnya semua politik itu harus ada identitasnya,” sambung Kiai Labib, seraya menyebutkan tidak ada politik ataupun aktivitas politik tanpa identitas.

Tak hanya itu, ia pun menyebut aneh dengan kemunculan istilah politik tanpa identitas dimaksud. “Kalau enggak ada identitasnya itu justru dipertanyakan, kok aneh politik tanpa identitas,” sebutnya.

Terlebih, definisi politik sendiri sebenarnya adalah pengaturan terhadap segala urusan rakyat. Tentunya apabila disebut politik Islam, mestinya menggunakan sudut pandang Islam dalam menilai segala aktivitas politiknya.

Sebutlah aktivitas politik yang dipraktikkan di dalam sistem yang berideologi sosialisme-komunisme, akan sangat berbeda dengan politik di dalam sistem kapitalisme-sekulerisme. “Tentu juga berbeda sama sekali juga dengan politik yang lahir dari Islam,” tambahnya.

Makanya, menurut Kiai Labib, identitas sangat penting karena menjadi kekhasan bagi yang lainnya. “Itu yang namanya identitas,” tandasnya.

Pembodohan

Oleh karena itu pula, Kiai Labib memandang, tudingan politik identitas yang selama ini hanya ditujukan kepada Islam, selain pengaburan juga termasuk bagian dari upaya membodohi umat.

“Kalau menggunakan istilah identitas politik kemudian hanya menunjuk kepada Islam, itu menurut saya jelas pengaburan dan sekaligus pembodohan,” tegasnya kembali.

Sama halnya dengan istilah radikal. “Radikal itu kan istilah netral yang ada dalam agama, ada dalam pendidikan,” terangnya.

Bahkan seringkali disebutkan pendidikan harus diubah secara radikal. Yang berarti melakukan perbaikan secara mendasar.

Namun, seperti halnya radikal, sebutan politik identitas juga kerap digunakan untuk menunjuk kepada Islam dengan tudingan yang berkonotasi stigma. “Lebih parah lagi kalau kemudian itu disertai dengan nada, rasa yang negatif,” imbuhnya.

Ujung-ujungnya, kata Kiai Labib, kelompok atau individu Islam dituduh bakal memecah belah bangsa, intoleran, dan segala sebutan negatif lainnya.

Penting

Lebih lanjut, Kiai Labib membeberkan keterangan yang termaktub di dalam Al-Qur’an tentang pentingnya menunjukkan identitas bagi kaum Muslim, termasuk yang berkenaan dengan politik dan aktivitasnya sekalipun.

Di antaranya, ayat tentang haramnya umat Islam mengangkat pemimpin dari kalangan orang kafir, yakni QS Al-Maidah, ayat 51.

Sebagaimana diketahui, Islam adalah agama dari Allah SWT, bukan dari Arab apalagi manusia yang sekadar sebagai makhluk. “Ini catatan yang paling penting, bukan dari Arab, bukan dari orang,” tegasnya.

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu,” ucap Kiai Labib, mengutip QS Al-Maidah ayat ke-3.

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam,” imbuhnya, yang juga melansir QS Ali Imran ayat ke-19.

Lantaran itu, Kiai Labib heran, bagaimana mungkin Islam yang datangnya dari Zat yang menciptakan bumi dan langit, kemudian dianggap memecah belah, intoleran, serta sebutan negatif yang lain, semisal bakal menyusahkan jika diterapkan.

Diterangkan di dalam QS Thaha di ayat-ayat awal, Al-Qur’an diturunkan sebagai peringatan bagi orang yang takut kepada Allah SWT. Bukan malah menyusahkan seperti anggapan kaum pembenci Islam berikut tudingan dengan istilah politik identitas tersebut.

“Apa enggak ‘kurang ajar’ ada orang seperti ini?” lontarnya, sembari menambahkan bahwa Islam sejatinya juga termasuk bagian dari kasih sayang Allah SWT.

“Ini dari Ar-Rahman, bagaimana mungkin ada orang yang juga Muslim yang dia mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim lalu menuduh agama dari Ar-Rahman itu sebagai agama yang buruk, memecah belah dan segala macam,” ucapnya mengingatkan.

Dengan demikian, apabila politik berikut segala macam aktivitas di dalamnya tersemat identitas Islam, harusnya aktivitasnya senantiasa mengajak kepada syariat Islam. “Itu yang diperjuangkan,” tekannya.

Artinya, kalau sudah berani menyebut dirinya sebagai partai politik Islam, mestinya konsisten dengan apa yang diucapkannya, yaitu memperjuangkan hingga benar-benar tegak dan dengannya seluruh umat merasakan kebaikan Islam.

Untuk itu, ia menukil QS Fussilat ayat 33 yang kata Kiai Labib, kalimat terakhirnya sebagai penegasan bahwa umat memang harus memiliki identitas. “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang salih, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang Muslim (yang tunduk kepada perintah dan syariat Allah)’.”

“Coba perhatikan kalimat terakhir. Ini menegaskan bahwa kita punya identitas. Dan itu dipuji oleh Allah SWT,” jelasnya.

Terakhir, masih berkaitan dengan politik identitas, Kiai Labib kembali menekankan bahwa sebenarnya Islam memiliki sebuah sistem politik yang detail dan jelas, yang itu telah ditulis oleh para ulama di dalam kitab-kitab fiqih yang lengkap.

“Biasanya pada Bab Imamah, atau kadang disebut Bab Imarah, atau kadang disebut sebagai Bab Khilafah,” ungkapnya.

Sebutlah syarat maupun tugas seorang pemimpin, misalnya. “Tetapi kalau kita lihat dari penjelasan para ulama, bahwa tugas pemimpin dalam Islam itu yang paling utama adalah menjalankan syariat Allah SWT,” pungkasnya.[] Zainul Krian

Posting Komentar untuk "Politik Identitas, Salah Satu Upaya Pengaburan Fakta"