Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Harga Beras Tak kunjung Turun, Bukti Kesejahteraan Menurun




Oleh: Hestiya Latifah (Mahasiswi, Aktivis Dakwah)


Beras merupakan salah satu makanan pokok masyarakat Indonesia. Sejak dua tahun terakhir, harga beras terus naik. Hingga saat ini, harganya tidak kunjung turun, justru melambung.

KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) menemukan kenaikan harga komoditas beras premium secara rata-rata sebesar 21,58% menjadi Rp 16.900/kg dari sidak di Pasar Cihapit Bandung. Padahal HET beras premium sebesar Rp 13.900/kg sebagaimana telah ditetapkan Badan Pangan Nasional (Bapanas).

Beras medium pun mengalami kenaikan sebesar 28,44% dari HET sebesar Rp 10.900/kg menjadi Rp 14.000/kg.

(Katadata.co.id, 11/2/2024)

Arief Prasetyo Adi, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) menilai jika harga beras kembali turun ke level Rp10.000 per kg untuk beras medium, maka petani akan menangis, karena otomatis harga gabah akan tertekan ke bawah lagi. Menurut Adi, dengan harga beras yang ada saat ini petani sedang berbahagia, karena setidaknya para petani bisa bernafas sejenak dengan harga gabah yang tidak ditekan murah.

(Cnbcindonesia.com, 5/1/2024)

Kelalaian Negara, Rakyat Tak Sejahtera

Banyaknya penyebab kenaikan beras pun menjadi dugaan yang kuat. Pertama, adanya penurunan pasokan beras dalam negeri akibat musim kemarau. Kedua, terjadinya El Nino yang menyebabkan suhu permukaan air laut naik sehingga berdampak kekeringan ekstrem pada pertanian. Ketiga, India mengeluarkan kebijakan penutupan ekspor beras nonbasmati yakni beras pecah.

Keempat yaitu adanya persaingan pasar. Para pengusaha tidak mau rugi dengan usahanya. Mereka tidak peduli stok lebih ataupun kurang, yang penting dapat untung. Kelima, adanya konversi lahan yang dilakukan secara besar-besaran. Peralihan fungsi lahan pertanian menjadi lahan pemukiman atau industri membuat luas lahan pertanian semakin sempit. Keenam, biaya produksi yang tinggi. Kenaikan pupuk dan tenaga kerja berpengaruh pada kenaikan harga beras.

Kenaikan harga ini jelas berdampak negatif bagi masyarakat. Penduduk yang berpenghasilan menengah ke bawah dapat dipastikan mengalami kesulitan untuk mendapatkan beras yang layak makan. Tidak jarang mereka terpaksa mencampur beras dengan bahan makanan lain, seperti gaplek, jagung, ubi, dsb.

Kalau harga beras ini terus naik, bencana kelaparan dan krisis pangan bisa saja terjadi dan tidak segan-segan memakan korban.

Permasalahan yang sulit untuk diatasi termasuk konversi lahan yang berhubungan dengan para kapitalis. Mereka membuka industri dan perumahan di lahan-lahan yang subur. Ini jelas-jelas mengurangi luas lahan pertanian. Meski ada upaya penanggulangan terkait permasalahan ini, tetapi belum ada kebijakan jelas, mengingat pendapatan pajak dari dunia industri dan perumahan yang cukup menggiurkan.

Tumpang tindihnya solusi hingga tidak menyelesaikan masalah ini sejatinya memperlihatkan kelemahan dan kelalaian negara dalam kedaulatan pangan. Negara hanya menjadi regulator, yakni sekadar menjalankan regulasi yang diarahkan para korporasi.

Islam Menyejahterakan Pangan

Islam sangat memperhatikan masalah pangan karena pangan merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat. Islam mewajibkan seorang pemimpin negara (khalifah) dan jajarannya untuk memenuhi seluruh kebutuhan rakyatnya, terutama pangan. Dengan adanya iman dalam diri mereka, akan melaksanakan tugasnya dengan baik. Mereka paham bahwa kepemimpinan adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat.

Islam mewajibkan pemerintah untuk menyediakan kebutuhan pokok. Tak hanya memperkirakan kecukupan, tetapi juga memastikan kebutuhan setiap individu dapat terpenuhi. Islam mengharamkan pemerintah mematok harga, tetapi Islam memiliki mekanisme agar ketersediaan pangan dan harganya tetap terjaga.

Islam tidak melarang impor, asalkan memenuhi kriteria syariat, seperti larangan bekerja sama dengan negara kafir harbi. Negara juga tidak diperbolehkan bergantung pada asing agar negara menampakkan sikap independen.

Negara juga memiliki kebijakan untuk mewujudkan ketahanan pangan, yaitu di antaranya dengan menyediakan lahan pertanian dan meminimalkan alih fungsi lahan (ekstensifikasi) dan meningkatkan kualitas benih, pupuk, metode pertanian dst (intensifikasi).

Selain produksi, negara juga mengatur distribusinya yaitu dengan memotong rantai distribusi hingga dapat meminimalkan biaya. Maka, harga bahan pokok tidak akan naik melambung. Akan ada sanksi bagi yang melakukan kecurangan sehingga tidak ada yang berani berlaku curang. Semua dilakukan semata karena dorongan iman kepada Allah dan hanya negara yang berlandaskan Islamlah yang dapat mewujudkannya yakni Daulah Khilafah.

Wallahu 'alam bishawab. 

Posting Komentar untuk "Harga Beras Tak kunjung Turun, Bukti Kesejahteraan Menurun"

close