MUALAF KHILAFAH (1)


Siapa yang tak kenal Khilafah? Barangkali manusia zaman now yang tak suka baca baru tahu khilafah. Ya, namanya baru dikenal pasca banyak yang memperbincangkan. Jangan ditanya, apakah pemahamannya sudah sesuai atau tidak? Yang penting, nama khilafah kian mendapat tempat. Berlepas dari pro dan kontranya.

Rasa baru tahu khilafah diibaratkan seperti mualaf. Jadi tak perlu menghujat si mualaf Khilafah. Perlu ada upaya konsisten untuk menjelaskan lebih rinci dan detail. Kalaulah si mualaf membenci Khilafah, barangkali belum tahu landasan dan sejarah panjangnya. Kadang mereka ketakutan kehilangan kehidupan dunianya, sebagaimana yang dialami politisi Barat. Bagi mualaf khilafah yang merindu, perlu dipupuk agar khilafah tak disamakan dengan konsep lainnya. Khawatir ada gagal faham.

Kondisi mualaf khilafah, bisa jadi dialami oleh mayoritas umat Islam. Pasalnya, tak banyak yang membahasnya. Kalaupun membahasnya ujung-ujungnya ini sekadar sejarah kebudayaan Islam. Ada pula yang mengatakan, jika khilafah memang wajib, mengapa ulama sini dan situ tak menyampaikannya? Bukankah ulama’ tahu segalanya?

Diskusi seputar khilafah telah mengisi kekosongan ruang publik. Upaya pemahaman yang benar terakait khilafah perlu terus digelorakan kembali. Kondisi mualaf khilafah juga menimpa politisi Barat. Mereka pun begitu rupa hingga telah menjadikan Khilafah sebagai ancaman nyata dengan berbagai konsekuensinya. Berikut mualaf khilafah dari politisi Barat:

a) Lembaga think tank Amerika sadar dengan konsekuensi khilafah. The National Intelligence Council (NIC) CIA Desember 2004 memprediksi bahwa tahun 2020 ‘satu khilafah baru – New Chaliphate’ muncul di pentas dunia. Laporan itu dipublikasikan setebal 123 halaman dengan judul “Mapping The Global Future”. Tujuanya mempersiapkan pemerintahan Bush selanjutnya untuk berbagai tantangan yang siap menghadang dengan memproyeksikan tren yang menjadi ancamann bagi kepentingan Amerika Serikat.

NIC ternyata sadar bahwa Khilafah begitu mendominasi pentas politik global. Kini sudah akhir 2017. Artinya tiga tahun lagi atau bahkan mulai sekarang, AS telah membangun narasi dan mempersiapkan diri agar impian buruknya tentang Khilafah tidak terwujud. Lompatan politik AS telah mengarah ke sana, dan siapapun bisa menerkanya jika memiliki kedalaman konstelasi politik internasional.

b) Pat Buchanan, pendiri The American Conservative dan penasihat tiga presiden AS : Nixon, Ford, dan Reagen mengatakan: “jika aturan Islam adalah ide mengakar di antara massa Islam, bagaimana bisa bahkan pasukan tentara terbaik dunia menghentikannya?”

c) Gorge W. Bush dalam pidato kepada bangsa Amerika pada Oktober 2005 menyatakan bahwa “para militan percaya bahwa mengendalikan satu negara akan menggalang massa kaum muslim memungkinkan mereke untuk mengeyahkan semua pemerintahan moderat kawasan itu. Dan mendirikan imperium Islam radikal yang membentag dari Spanyol ke Indonesia.

d) Mantan Presiden AS, Cheney, juga menjelaskan bahwa “mereka membicarakan ingin mendirikan kembali apa yang bisa kamu sebut sebagai Khilafah abad ke-7. Ini adalah dunia sebagaimana diatur 1.200, 1.300 tahun berlangsung ketika Islam atau orang-orang Islam mengendalikan apapun dari Portugal dan Spanyol di Barat. Semuannya hingga Mediterania ke Afrika Utara, seluruh Afrika Utara, Timur Tengah, hingga negara Balkan. Bahkan republik Asia Tengah pucuk selatan Rusia, kawasan Indoa dan sekitarnya ke Indonesia hari ini. Singkatnya dari Bali dan Jakarta di satu ujung, ke Madrid di ujung yang lain.

Tak terkecuali di Indonesia. Mualaf khilafah mencoba memaknainya sebagai acaman pada eksistensi Indonesia. Mereka yang awalnya melihat ide khilafah utopis dan mimpi di siang bolong. Kini menyadarinya sebagai sebuah ancaman.

Berikut pernyataan yang sering didengar dari mualaf khilafah di Indonesia.

a. Khilafah itu bertentangan dengan Pancasila. Karena Khilafah juga sistem pemerintahan yang bertolak belakang dengan sistem kenegaraan repulik Indonesia. Mualaf khilafah tak mau merinci pertentangannya di mana.

b. Khilafah akan mewajibkan non muslim salat di masjid. Tidak ada kebhinekaan dan budaya akan dihilangkan.

c. Khilafah diskriminatif pada minoritas. Tak akan ada warna-warni lagi. Justru khilafah menimbulkan otoriter, diktator, dan despotik. [vm]

Bersambung.....

Penulis : Hanif Kristianto (Analis Politik dan Media)

Belum ada Komentar untuk "MUALAF KHILAFAH (1)"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel