Naluri Ibu Kian Terkikis, Dampak Penerapan Sistem Kapitalis


Kita kembali dikejutkan media dengan berita seorang ibu tega menyiksa anaknya kandungnya hingga meninggal. Bayi Calista, bayi yang masih berusia 15 bulan meninggal setelah terbaring koma selama 15 hari di rumah sakit. (Kompas.com, 25/3/2018). Menurut pengakuan terdakwa, Calista sudah sering disiksa sejak dua bulan yang lalu. Sang ibu sering mencubit, memukul dan membenturkan kepala Calista ke dinding. Dan sebelum akhirnya Calista koma, Calista sempat terjatuh ke rak dinding dan mengalami benturan keras.

Peristiwa menyayat hati seperti ini seakan sudah menjadi hal yang tidak tabu lagi. Belum lama kita juga mendapat kabar, seorang  ibu (Rolina Wahyuni) yang rela membunuh anaknya yang berusia 9 tahun (Clarita) di Wamena Papua. Ada juga di Jakarta, seorang ibu (Novi) membunuh anaknya yang masih berusia 5 tahun dengan menggunakan tali. Serta masih banyak lagi kejadian – kejadian lainnya. Naluri ibu saat ini seakan telah tergadai. Tekanan ekonomi, sering dijadikan alasan kenapa seorang ibu tega menghabisi nyawa anak – anaknya. Peristiwa memilukan ini hanya terjadi di dunia kapitalisme, dimana semua hal dinilai dengan uang atau materi. Kapitalisme mengajarkan bahwa segala sesuatu hanya bisa diperoleh dengan uang. Jika kita tidak punya uang maka kita akan jadi pihak yang tertindas. Kesulitan ekonomi,  sering menghantarkan pelaku pada kondisi stres atau tertekan dan akhirnya memilih membunuh atau bunuh diri.

Ditambah lagi banyak suami yang tidak memenuhi kewajibanya kepada istri. Mereka cenderung menjadikan istri hanya sebagai alat pemuas, sehingga hubungan suami istripun tidak sebagai sahabat. Ketidak harmonisan dalam keluarga mengakibatkan banyaknya kaum ibu yang mengalami depresi tingkat tinggi. pilihannya, melakukan perceraian atau tindak kriminal. Keadaan ini berakibat fatal bagi keluarga. Khususnya anak-anak. Demikianlah, sistem kapitalis telah banyak melahirkan ibu – ibu dengan tingkat depresi tinggi. yang akhirnya melahirkan ibu – ibu yang kehilangan nalurinya.

Islam adalah agama yang sempurna dan menyeluruh. Selain mencakupi pemikiran dasar mengenai akidah (aspek ruhiyah /spiritualitas),  Islam pun mengatur aspek politik (dalam arti pengaturan urusan kehidupan manusia), baik dalam masalah ekonomi,  sosial,  budaya,  politik, hankam,  termasuk hukum-hukum keluarga. 

Islam menjamin tercapainya kesejahteraan hidup melalui mekanisme penerapan sistem politik ekonomi Islam. Dalam politik ekonomi Islam upaya meraih kesejahteraan bukan hanya dibebankan kepada individu dan keluarga,  melainkan juga merupakan tanggung jawab negara.

Individu (suami/ayah) berkewajiban dalam mencukupi kebutuhan dirinya juga keluarganya. Dalam pandangan Islam,  yang pertama bertanggung jawab memenuhi nafkah keluarga adalah suami/ayah. Dengan begitu, Mereka akan memfokuskan perhatian pada peran strategisnya sebagai istri dan pencetak generasi berkualitas serta orang yang berperan dalam pencerdasan umat.

Jika seseorang tidak memiliki suami/ayah atau ada suami tetapi mereka tergolong miskin,  sehingga tidak mampu menafkahi orang-orang yang berada dalam tanggung jawabnya, kewajiban penafkahan tersebut beralih kepada ahli warisnya. Negara berkewajiban menjamin terpenuhinya kebutuhan masyarakat. Jika tidak ada laki-laki atau kerabat yang dapat menanggungnya,  nafkah seseorang,  termasuk perempuan dan anak-anak, menjadi tanggungan Baitul Mal (negara).

Mekanisme berikutnya adalah peran negara. Negara sebagai penanggung jawab urusan umat wajib memenuhi kebutuhan warganya. Islam menetapkan bahwa negara wajib memenuhi kebutuhan rakyatnya,  baik kebutuhan dasar sebagai individu (sandang,  pangan,  dan Perumahan) maupun kebutuhan kolektif (keamanan,  kesehatan,  dan pendidikan). Dalam rangka negara dapat melaksanakan hal-hal yang diwajibkan oleh syariat, syara' telah memberikan kekuasaan kepada negara untuk memungut harta kekayaan tertentu sebagai pungutan tetap,  seperti jizyah dan kharaj dan harta zakat.

Paparan-paparan di atas membuktikan betapa Islam amat peduli kepada pengayoman individu,  keluarga,  dan masyarakat. Dalam sistem Islam negara bertanggung jawab pada semua pihak tersebut,  sehingga tidak ada yang merasa ditelantarkan pada satu pihak dan diprioritaskan pada pihak lain. Semua diperlakukan secara proporsional oleh negara sesuai kondisi masing-masing.

Mungkin sudah saatnya, kita tidak terus mengutuk keadaan. Namun saatnya kita berperan merubah peradaban. ketika sistem kapitalis telah gagal menkyelamatkan keluarga, kepada sistem apalagi kita berharap selain sistem islam? dimana secara fakta sejarah, islam telah berhasil diterapkan hingga 3,5 abad. Wallhu a’lam. [vm]

Penulis : Ririn Umi Hanif, Pemerhati Ibu dan Anak, Gresik

Belum ada Komentar untuk "Naluri Ibu Kian Terkikis, Dampak Penerapan Sistem Kapitalis"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel