Hiperinflasi di Venezuela!

Mata Uang Venezuela Ambruk: Kertas Tisu Dijual 2,6 Juta
Penulis : Umar Syarifudin (pengamat politik Internasional)

Jalan buntu. Pemadaman listrik yang terus menerus dalam sembilan bulan terakhir ditambah pemandangan sehari-hari antrean warga, contohnya di sudut Kota Maracaibo untuk mengakses daging yang tak layak konsumsi di Negara ini. Sejak 2014 krisis ekonomi menggerogoti negara kaya minyak di Amerika Selatan ini, Venezuela. Negara ini menderita hiperinflasi.

Sesuatu yang ironis, mengingat negara berpaham sosialis ini memiliki persediaan minyak di daerah itu yang melimpah. Negara ini bahkan kesulitan memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya. Tampaknya kebijakan penerapan uang baru yang disebut Bolivar Soberano (Bolivar Berdaulat) tidak berkorelasi dengan perbaikan ekonomi negeri. Dalam uang baru itu, angka nol dikurangi lima. Jadi, 1.000.000 bolivar hanya menjadi 10 bolivar di uang baru. Namun, uang lama dan uang baru masih sama-sama beredar sampai waktu yang belum ditentukan.

Para ekonom dan IMF sebelumnya mengatakan tingkat inflasi ekonomi Venezuela akan mencapai 1 juta persen pada tahun ini. Berdasarkan Financial Times, 95 persen pendapatan ekspor Venezuela berasal dari minyak. Ketergantungan Venezuela terhadap minyak akhirnya menjadi bumerang saat harga minyak jatuh. Dan fakta yang terjadi sekarang menempatkan Negara ini mengalami satu krisis hiperinflasi terburuk dalam sejarah modern. Ekonomi Venezuela terjun bebas sejak harga minyak merosot. Presiden Nicolas Maduro mengatakan negara itu menjadi korban "perang ekonomi" yang dilancarkan oleh bisnis oposisi dengan dukungan Washington. Kondisi Venezuela semakin sulit setelah mendapat sanksi dari Amerika Serikat (AS).

Skala besar krisis di Venezuela menunjukkan bahwa pandangan sosialisme tidak dapat memecahkan masalah ekonomi. Venezuela dalam keadaan macet. Meski ekonomi negara ini sempat menuju membaik karena kenaikan harga minyak, Negara ini gagal membangun kemandirian ekonomi dalam negeri. Venezuela sangat bergantung impor untuk memenuhi berbagai kebutuhannya pokok internalnya. Kemandirian ekonomi sangat lemah didukung tidak mampu menjadi Negara industri, sehingga jumlah produksi dalam negeri terbatas, dismaping dikenakan sanksi embargo AS. Walhasil, kelangkaan pangan dan barang-barang meledak, harga-harga barang melambung, ditunjang kebijakan rezim menutup dengan cetak uang, akhirnya inflasi yang sangat parah.

Adapun terkait dominasi ekonomi dan politik Amerika Serikat (AS), dunia telah merasakan penderitaan dan tekanan. AS terus menantut dunia agar tunduk padanya, biaya terciptanya berbagai konflik sangat besar bagi Amerika baik secara militer maupun ekonomi. AS masih belum pulih dari krisis keuangan dan ekonomi dari perang Irak dan Afghanistan. Defisit anggaran AS untuk 2017 adalah sekitar $ 50 miliar, dan sifat krisis Venezuela tidak menjadi ancaman bagi keamanan nasional AS atau kepentingan vitalnya secara langsung. 

Krisis Venezuela selain karena faktor kelemahan internal sistem ekonomi sosialistik, juga dipaksakan dan direkayasa AS. dan Venezuela tetap berada dalam lingkaran krisis ekonomi, diplomatik dan politik melalui berbagai sanksi jika Venezuela konsisten menentang AS. Krisis Venezuela akan membayangi negara ini, ketika menggunakan ideologi rendah dalam menyelesaikan problem ekonomi yang nyata. dan ini menyibak fakta tentang kapitalisme dan sosialisme, bahwa ideologi-ideologi ini menyeret dunia ke dalam bencana dan perang, dan krisis ekonomi dan militer; untuk mencapai keinginan para kapitalis di negara-negara besar. Negara-negara pengusungnya tidak peduli atas risiko hilangnya nyawa jutaan orang dalam kelaparan maupun peperangan. 

Seluruh dunia, termasuk non-Muslim, membutuhkan sistem rahmat ilahi — sistem Islam, yang menyebarkan pemikirannya hanya untuk menyelamatkan rakyat, bukan untuk kepentingan duniawi lainnya. Sistem ini mampu menyelesaikan berbagai krisis dan konflik yang disebabkan kezaliman penguasa kapitalis maupun sosialis. Sistem Islam secara alamiah mempercepat keruntuhan sistem yang korup. [vm]

0 Response to "Hiperinflasi di Venezuela!"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel