Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Media dan Penguasa


Oleh : Kanti Rahmillah

“Jurnalis bukan boneka. Dan tidak mengurus boneka," tulis Rocky Gerung. Rocky yang terkenal pedas kritikan nya pun. Menyoroti media dan insan media. Yang kini seolah hanya menjadi corong penguasa.

Banyaknya media mainstream yang manut terhadap penguasa adalah bukti keberpihakan mereka. Masih segar dalam ingatan. 11 juta manusia berkumpul di Monas. Dan sejarah Indonesia mencatat, ini adalah peristiwa pertama yang seharusnya dicatat media. Namun, media massa memilih bungkam. 

Wajar akhirnya, media massa mulai ditinggalkan massa. Mereka lebih memilih mencari informasi lewat dunia mayaang beritanya dibuat langsung oleh mereka. Reportase jalanan. Tanpa edit dan persiapan. Tapi murni kebenaran. 

Kemerosotan fungsi dan peran pers menjadi catatan dalam Peringatan Hari Pers, 9 Februari 2019 di Surabaya, Jawa Timur. Pasalnya, peringkat kebebasan pers Indonesia di posisi 124 versi Reporters Without Borders (RSF) yang dirilis 25 April lalu . Posisi ini jauh dari negara yang baru lahir seperti Timor Leste (95) dan negara yang masih penuh konflik, Afghanistan (118). 

Begitupun penangkapan atas nama pasal ujaran kebencian. Semakin mengukuhkan bahwa penguasa hari ini, tak memberikan ruang pada oposisi. Tak ada kebebasan berpendapat.

Oleh karena itu, menurut Fadli Zon, sungguh ironis saat Pa Jokowi diberikan penghargaan medali kemerdekaan pers. Selain media mainstream yang tak berimabang. Dan juga penangkapan aktivis yang kritis terhadap pemerintah. Pa Jokowi pun sempat membuat kebijakan pemberian remisi pada otak pembunuhan wartawan Radar Bali, meskipun pada akhirnya dibatalkan.

Media dalam Demokrasi

Seperti tabiat aslinya. Demokrasi yang mempunyai pilar freedom of speech. Harus juga berbenturan dengan sisi lain kecacatannya. Media mainstream hanya bisa dikuasai oleh para kapitalis. Mereka adalah para pengusaha yang telah memonopoli kekayaan Indonesia. Termasuk media di Indonesia.

Bukan rahasia, hubungan yang mesra antara penguasa dan para pengusaha. Mereka akan terus bersinergi dalam kepentingannya. Pengusaha butuh sebuah regulasi dalam memuluskan bisnisnya. Tak peduli bisnisnya merugikan jutaan rakyat Indonesia. Lihat saja konversi lahan yang menyebabkan bencana. 

Begitupun penguasa, butuh triliunan untuk bisa sampai pada tampuk kekuasaan. Siapa lagi yang akan digandeng, jika bukan mereka yang bisa support dana. Mengapa untuk menjadi penguasa membutuhkan dana yang gila-gilaan. Itulah mahalnya ongkos demokrasi. Harga yang harus dibeli, agar tidak terjadi otorisasi, katanya. Faktanya, jalan demokrasi dipilih. Rezim otoriter terpilih.

Jadi wajar, media mainstream dan penguasa seolah kompak. Karena mereka mempunyai kepentingan yang sama. Inilah cacatnya demokrasi. Satu sisi kebebasan pendapat di gembor-gemborkan. Sisi lainya, sistem ini pula lah yang akan memadamkannya.

Media dalam Islam

Bertolak belakang dengan Islam. Naiknya seseorang menjadi penguasa. Semata karena imannya. Juga semata karena wujud cintanya pada sang pencipta. Ingin mengabdi lebih dalam, dengan melayani umat manusia. Motivasinya satu, Ridho Allah SWT. Syurga istimewa buat mereka yang amanah. Neraka jahanam bagi mereka yang lalai. Sehingga, jika mereka merasa tak sanggup menerima amanah dan masih banyak yang lebih dari dirinya. Tak akan ia ambil amanah menjadi penguasa. 

Begitupun media, karena asasnya bukan sekularisme. Kebebasan pun dikaitkan dengan syariat. Pemilik media akan senantiasa menjaga agar media yang dikelola, hanya bermuara pada kebenaran. Karena semua akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. 

Media menjadi wadah aspirasi umat dalam kontrol kepada penguasa. Penguasa pun memanfaatkan media dalam mengedukasi umat terkait dengan kebijakan-kebijakannya, yang semata untuk kemaslahatan umat. Jawil iman tercipta. Hubungan masyarakat dan penguasa harmonis, berkat pemilik media yang amanah. Rakyat mendoakan penguasanya. Penguasa cinta pada rakyatnya.

Sungguh, media adalah alat. Dia akan menjelma menjadi baik jika dikelola dengan sistem baik, yaitu Islam. Sebaliknya, media akan berubah menjadi senjata pemusnah jika disetir oleh sistem buruk buatan manusia. [vm]

Posting Komentar untuk "Media dan Penguasa"

close