Gaya Hidup, Konsumerisme, Pemiskinan dan Penindasan Dunia Ketiga Oleh Dunia Barat


Oleh : dr.Muhammad Amin, M.Ked.Klin, SpMK 
(Analis dari Poverty Care)

Pertumbuhan populasi yang meningkat sering dijadikan kambing hitam sebagai sebab langkanya pangan. Kesimpulan ini diyakini sebagai sebab adanya kemiskinan, kerusakan lingkungan, dan konflik sosial kemasyaratan. Pembangunan ekonomi di dunia ketiga tidak akan berhasil apabila angka pertumbuhan populasi tidak dikontrol. 

Itu sebabnya lembaga internasional dan pemerintahan mengembangkan dan menerapkan strategi untuk mengontrol angka pertumbuhan di dunia ketiga. Meledaknya angka populasi ini dinamai ‘over’, berimplikasi pada penggunaan sumber daya yang habis-habisan untuk menunjang besarnya pertumbuhan populasi tersebut dan mengakibatkan ketidakstabilan global.

Ketika asumsi-asumsi tersebut dicermati, maka tampaklah bahwa populasi bukanlah kambing hitam yang selama ini dipercaya, namun justru agenda politik yang menyebabkan bencana dibanyak belahan dunia. Agenda ini bermaksud untuk mengalihkan masyarakat awam dari faktor penyebab yang sesungguhnya yaitu gaya hidup, konsumerisme, pemiskinan, dan penindasan dunia ketiga oleh dunia barat.

Negeri-negeri maju seperti Jepang, Rusia, Jerman, Swiss dan Eropa Timur saat ini mengalami dilema seperti menurunnya tingkat pertumbuhan penduduk karena rendahnya angka kelahiran. Negara-negara di Barat lainnya juga pasti akan mengalami penurunan populasi kalau saja tidak adanya imigrasi dari penduduk negeri lainnya. Menurunnya jumlah penduduk di Barat dibandingkan dengan negeri-negeri lain seperti negeri dunia Islam, menyebabkan penduduk di negeri muslim memiliki hak suara yang lebih tinggi dalam percaturan kelembagaan internasional karena populasinya yang meninggi.

Isu tentang jumlah populasi ini sering digunakan untuk menjatuhkan negeri yang berpopulasi besar sehingga bisa mengurangi ancaman pengaruh dari negeri tersebut di masa mendatang. Contohnya, Turki. Kalau saja Turki bisa masuk ke dalam keanggotaan Uni Eropa, jumlah penduduk Turki sebesar 70 juta jiwa adalah jumlah kedua terbesar di parlemen Eropa. Lebih jauh lagi, demografi Turki akan menyalip Jerman dalam jumlah perwakilan di parlemen Eropa pada tahun 2020. Keanggotaan Turki juga akan mempengaruhi arah masa depan Uni Eropa seperti rencana perluasan, sebagai dasar penolakan Valery Giscard d’Estaing dari Perancis terhadap masuknya Turki ke Uni Eropa (“The ins and outs: The EU’s most effective foreign-policy instrument has been enlargement. But how far can it go?” The Economist, March 2007, http://www.economist.com/research/ articles BySubject/displaystory.cfm?subjectid=682266&story_id=8808134). D’estaing mengatakan bahwa masuknya Turki akan berlanjut pada keinginan Maroko untuk ikut bergabung pula.

Walhasil, dunia ini sebetulnya tidak atau belum mengalami ledakan populasi (over populated). Hanya Dunia Barat saja yang rakus. Dunia Barat telah mengkonsumsi 50% dari sumber daya alam terpenting abad ke 21, tapi hanya memproduksi kurang dari 25% saja. Kerakusan Barat ini jauh melampaui kebutuhan Cina dan India terhadap energi. Khususnya, AS hanya memproduksi 8% minyak, namun mengkonsumsi 25% jumlah minyak yang ada. Jumlah penduduk Barat sekitar 20% dari populasi dunia, namun menghabiskan 80% dari produksi pangan. Kerakusan merupakan salah satu karakteristik diterapkannya sistem ekonomi kapitalistik sebagaimana tersirat dalam buku “The Wealth of Nation”-nya Adam Smith.

Adapun tingginya tingkat kemiskinan ada lebih disebabkan diterapkannya sistem Kapitalisme Sekuler. di negara maju sekalipun seperti AS, tingkat kemiskinan masih sangat tinggi. Kegagalan Kapitalisme dalam mensejahterakan umat manusia adalah suatu keniscayaan. Ini dikarenakan sejak lahirnya paham ekonomi Kapitalisme memiliki kecacatan. Kecacatan Kapitalisme sejak awal adalah pandangannya dalam melihat permasalahan ekonomi. 

Kapitalisme memandang bahwa permasalahan ekonomi berawal dari terbatasnya sumber daya alam dalam memenuhi kebutuhan umat manusia yang tidak terbatas. Maka dari itu Kapitalisme memiliki semboyan “produce, produce, and to produce“ untuk mencapai pertumbuhan ekonomi setinggi mungkin. Tanpa memperhatikan lagi bagaimana distribusi dari sumber daya alam yang ada kepada masyarakat.[vm]

Belum ada Komentar untuk "Gaya Hidup, Konsumerisme, Pemiskinan dan Penindasan Dunia Ketiga Oleh Dunia Barat "

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...