Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ramadhan, Perjuangan Mengakhiri Kepiluan Palestina


Oleh : Sholihah, S.Pd 
(Institut Kajian Politik dan Perempuan)

Ramadhan adalah bulan mulia bagi kaum muslimin, menyambut dengan suka cita adalah hal niscaya. Di saat yang sama kita disuguhi berita dan pemandangan yang memilukan tentang saudara kita di Palestina. Kaum muslimin di negeri-negeri yang lain bisa menikmati sahur dan berbuka, melaksanakan ibadah dengan tenang dan senang. Sedangkan mereka harus menghadapi kenyataan bahwa israel meluncurkan roketnya hingga menggetarkan Bumi Palestina, diiringi suara tangisan dan jeritan saudara-saudara di sana. Perasaan sedih dan pilu meyelimuti hati, teriring doa untuk mereka sembari terus berfikir bagaimana kepiluan ini diakhiri. Dari tahun ke tahun, genosida ini terjadi terus berulang hingga berganti generasi, nyawa kaum muslimin disana seolah tiada artinya, padahal nyawa seorang muslim lebih berharga dibanding dunia. 

Bumi Palestina Milik Kaum Muslimin 

Konflik antara Israel dan Palestina sejatinya adalah masalah aqidah, keinginan besar mereka ingin menguasai Bumi Palestina dikarenakan di sana tepatnya di Jerusalem terdapat Masjidil Aqsha yang merupakan kiblat pertama bagi kaum muslimin, Masjidil Aqsha merupakan tempat Rasulullah SAW melakukan perjalanan Isra Mi’raj. Terkait kepemilikan, Bumi Palestina milik kaum muslimin secara mutlak yang tak bisa direbut begitu saja oleh Israel. Dalam sejarah islam, perjuangan untuk merebut kembali wilayah Jerusalem kaum muslimin melakukan peperangan di bawah pimpinan panglima Shalahuddin al-Ayyubi, yang sebelumnya pernah direbut oleh orang Katolik. 

Konflik ini tidak akan pernah selesai selama dunia membiarkan dan melegalkan kebrutalan Israel. Bagaimanapun wilayah Palestina adalah hak kaum muslimin dan merupakan bagian dari aqidah mereka, upaya perdamaian yang selama ini ditawarkan PBB tidak bisa diterima dan tidak masuk akal, solusi dua negara yang berat sebelah. Sebagian besar warga Palestina sudah mengungsi untuk menyelamatkan diri, ada yang sebagian bertahan akan tetapi mereka mengalami penderitaan yang benar-benar memilukan. 

Sekat Nasionalisme 

Pemimpin negeri-negeri muslim tidak bisa berbuat apa-apa, mereka hanya bisa mengecam. Apakah arti sebuah kecaman? Kecaman tidak berefek apa-apa bagi Israel. Dengan adanya sekat Nasionalisme menjadikan saudara se-aqidah terpisah bahkan bersikap acuh, dengan anggapan itu urusan dalam negeri mereka. Padahal kaum muslimin itu ibarat satu tubuh, jika ada satu bagian tubuh yang sakit maka bagian tubuh yang lain harusnya juga merasakan sakit. 

Sekat Nasionalisme seolah menjadi obat bius bagi kaum muslimin, sehingga sakit yang dirasakan saudara mereka di Palestina tidak menjalar ke negeri-negeri yang lain. Kalaupun ada yang empati dengan masyarakat Palestina, itu hanya bersifat individu atau lembaga mandiri yang tidak didanai oleh pemerintah, dengan mengumpulkan dana untuk memberikan bantuan kemanusiaan. 

Keamanan yang Mereka Butuhkan 

Solusi integral untuk kaum muslimin di Palestina sejatinya bukanlah berupa bantuan kemanusian, akan tetapi bantuan keamanan, yakni tentara kaum muslimin di seluruh penjuru dunia yang bisa melindungi mereka dari melawan kebrutalan Israel. Berhubung para pemilik tentara yaitu penguasa, tidak memberangkatkan tentaranya ke Palestina, sedangkan keberangkatan mereka berdasarkan komando dari penguasa. Mengingat para penguasa negeri-negeri muslim terikat dengan hubungan dan perjanjian internasional, yang mewajibkan mereka untuk tunduk kepada aturan main Negara Adidaya. Parahnya, Negara Adidaya yaitu AS merupakan sahabat Israel. Sebagaimana yang disampaikan Presiden AS, Donal Trump, bahwa AS 100 persen bersama Israel (liputan6.com,06/05/2019). 

Perjuangan Mengakhiri Kepiluan Palestina 

Saatnya mengakhiri kepiluan Palestina. Masalah Palestina adalah masalah kita bersama, selain masalah kemanusian terlebih adalah masalah aqidah, Bumi Palestina milik kaum muslimin, al-Aqsha kini dihinakan oleh Israel. Kepiluan ini hanya bisa diakhiri dengan adanya persatuan dari kaum muslimin dalam satu panji islam, satu komando untuk melawan kebiadaban Israel. Mengingat bulan Ramadhan adalah bulan perjuangan bagi kaum muslimin, perjuangan untuk melawan hawa nafsu dan perjuangan untuk menegakkan islam. Banyak kisah perjuangan Rasulullah dan para sahabatnya untuk menegakkan islam juga terjadi di bulan Ramadhan, perang Badar dan perang Tabuk. 

Nasib Palestina ada di tangan kita, satu-satunya solusi yang bisa menuntaskannya dengan adanya Junnah (perisai). Mewujudkan junnah dengan terus mendakwahkan islam kepada masyarakat, membangkitkan pemikiran, mengantarkan pada kesadaran politik islam sehingga menumbuhkan rasa untuk memiliki aturan yang sama, aturan dari Sang Pencipta manusia. Aturan tersebut bisa sempurna jika ada wadahnya berupa negara. Maka negara inilah yang nantinya akan mengomando tentara muslim untuk berjihad membebaskan rakyat dan Bumi Palestina dari penjajahan Israel. Wallahu a’lam bi showab. [vm] 

Posting Komentar untuk "Ramadhan, Perjuangan Mengakhiri Kepiluan Palestina"

close