HTI dan Paradoks Iklan Gratis

HTI - hizbut tahrir indonesia

Oleh : Ahmad Sastra

Saya tidak tahu berapa biaya iklan sebuah produk via televisi, mungkin biayanya perdetik. Jika benar perdetik, maka mengiklankan produk lewat media televisi bisa menghabiskan biaya ratusan juta hingga milyaran rupiah. 

Perusahaan berani mengiklankan produknya lewat televisi atau koran tentu dengan perhitungan bisnis yang matang. Perusahaan sangat paham psikologi konsumen bahwa mereka akan mengenal produk lewat televisi. Target iklan adalah konsumen memutuskan membeli produk karena melihat iklan yang begitu memukau. 

Dari sejuta mata yang melihat iklan produk di televisi, maka estimasi 50 persen konsumen memutuskan untuk membelinya, bahkan bisa jadi lebih dari itu. Harga produk ditinggikan, tayangan iklan dibuat semenarik mungkin, bahkan kadang tak masuk akal. 

Inilah paradoks iklan produk bisnis, meski tidak semua, tapi iklan banyak irasionalnya (hoax) dibandingkan produk aslinya. Coba perhatikan iklan obat dimana dalam sekejab penyakit orang yang minum lansung hilang, padahal faktanya mustahil. Ada juga iklan makanan ringan, dimana yang makan bisa terbang melayang, padahal faktanya tidak mustahil. 

Paradoks adalah suatu situasi yang timbul dari sejumlah premis yang dijadikan asumsi dan proposisi namun menghasilkan kontradiksi. Dengan bahasa sederhana, paradoks adalah beda kata, beda pula fakta. Dalam kajian dramaturgi Guffman, paradoks politik adalah berupa pencitraan. Paradoks iklan produk adalah fakta produk tak seindah yang diiklankan.  

Adalah paradoks iklan : jika iklannya berlebihan, maka faktanya adalah sebaliknya. Nah bagaimana jika iklannya justru negatif, maka bisa jadi faktanya justru baik.  Contohnya adalah iklan tentang HTI, iya benar tentang HTI. 

HTI memang istimewa sebab kini rame-rame diklankan setiap hari secara gratis oleh orang-orang yang justru membecinya. Tujuan iklan gratis itu adalah agar masyarakat membecinya. Nah, apakah target iklan itu tercapai ?. 

Disaat kebencian rezim kepada HTI memuncak, maka mereka mengiklankan HTI dengan mencabut BHP nya. Maka yang terjadi justru sebaliknya, masyarakat yang tadinya tidak mengenal HTI, setelah dicabut BHP dan ditayangkan di televisi, maka hampir seluruh rakyat Indonesia jadi mengenal HTI, padahal sebelumnya tidak kenal sama sekali. 

Nah itulah mengapa, para simpatisan HTI justru sujud syukur saat mendengar keputusan  pengadilan atas pencabutan BHP ormas Islam pengusung khilafah ini. Sebab setelah  dicabut BHP, sontak HTI dikenal oleh mayoritas rakyat Indonesia dan penasaran untuk mengenal lebih jauh lagi. Walhasil, rakyat justru banyak yang membela HTI dan mengecam keputusan politik rezim. 

Lihatlah lagi disaat HTI diiklankan melalui propaganda demonologi bahwa HTI adalah organisasi berbahaya yang mengancam Indonesia. Walhasil, justru makin banyak diadakan seminar-seminar tentang HTI dan khilafah, dari kampus, komunitas hingga lembaga-lembaga pemerintahan. Rakyat justru makin paham bahwa HTI berbahaya hanyalah tuduhan dan khilafah ternyata ajaran Islam untuk kebaikan bangsa ini. 

Sebagaimana diungkap oleh Ma’ruf Amin bahwa ajaran khilafah adalah islami. Kata islami tentu maknanya adalah ajaran yang bersumber dari Al Qur’an, Al Hadits, Ijma dan Qiyas. Secara normatif, historis dan empirik, nilai islami tidak mungkin menjadi ancaman bagi Indonesia. Sejarahnya justru sebaliknya, Islam menjadi ancaman bagi ideologi jahiliah penjajah kapitalisme dan komunisme. 

Satu lagi, saat panji tauhid diiklankan dengan tuduhan sebagai bendera HTI, bahkan iklannya sampai dengan dibakar, namun yang terjadi justru sebaliknya, kini masyarakat dengan bangganya mengibarkan panji tauhid, tanpa rasa takut. Satu panji dibakar, sejuta panji justru berkibar. Lihatlah, kini simbol tauhid bertebaran dimana-mana, dari nempel di dinding becak hingga kaca belakang mobil mewah. 

Maka, tidak berlebihan jika aktivis HTI semestinya tambah bersyukur, sebab ormasnya kini rame-rame diklankan gratis setiap saat. Apapun masalahnya, HTI selalu dibawa-bawa dengan fitnah dan tuduhan. Makin banyak dituduh dan difitnah, maka HTI makin dicintai rakyat Indonesia. Dahulu, Rasulullah difitnah dan dituduh macam-macam, namun beliau justru makin dicintai hingga banyak yang justru masuk Islam. 

Entah sudah betapa triliun dana dihabiskan oleh berbagai pihak untuk mengiklankan HTI melalui berbagai media online, visual dan cetak. Sebab iklan itu paradoks, maka semakin difitnah, HTI akan semakin di hati. Makin buruk iklan tentang HTI, maka semakin membuka kebaikan HTI. Begitulah karakter iklan produk yang dijiwai oleh ideologi kapitalisme. 

Untuk itu, melalui tulisan ini, diucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah mengiklankan dengan citra buruk terhadap HTI, sebab rakyat justru akan melihat kebaikan-kebaikan HTI. Makin diiklankan dengan ujaran kebencian, maka rakyat makin cinta dan jatuh hati kepada HTI. 

Sebab rakyat sudah tahu, bahwa iklan adalah paradoks. Bagi ormas HTI, selamat ya, karena telah dibantu diiklan ke seluruh penjuru nusantara dan kepada seluruh rakyat Indonesia dan dunia, tanpa harus merogoh kocek serupiahpun. 

Sekali lagi terima kasih atas iklan gratisnya, semoga Allah memberikan balasan yang setimpal di dunia dan di akherat. Amiin Ya Mujiba Saailiin. [vm]

Belum ada Komentar untuk "HTI dan Paradoks Iklan Gratis"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...