Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Turkistan Timur, Wilayah Muslim yang Malang


Oleh: Khusnul Khotimah, S.Pd (Pegiat Literasi Kab. Malang)

Kaum muslim Uighur sudah menjadi perbincangan hangat dan lama di dunia karena jerit sakitnya yang belum usai selama ini. Uighur memiliki sejarah unik yang belum banyak diketahui khalayak umum. Etnis muslim minoritas di China ini sebenarnya secara kultural lebih dekat terhadap bangsa Turk di Asia Tengah dari pada mayoritas bangsa Han China. Dalam sejarah, mereka menyebut daerahnya dengan sebutan Uighuristan atau Turkistan Timur. Turkistan Timur terletak di jantung Asia dengan julukan negara di balik sungai (Ma waroan nahri) karena diapit dua sungai Sihun dan Jihun. Wilayah ini dibebaskan Bani Umayyah yang dipimpin oleh Panglima perang Qutaibah bin Muslim Al-Bahily, sejak itulah cahaya Islam mulai bersemi di Turkistan. Di tempat ini pula banyak para tokoh-tokoh besar yang dilahirkan, seperti tokoh Ahmad Yuknakiy, ilmuwan matematika dan fisika Al-Biruni, penemu ilmu geografi dan peta dan penulis buku “Diwan Al-Lughah At-Turk” Mahmud Al-Kasghariy, Al-Farabi dan Yusuf Al-Hajib. Serta para ulama dibidang fiqih seperti pada bidang ilmu balaghah, Yusuf As-Sasaki dan Al-Murginani dan banyak lagi.

Namun sayang pada tahun 1759 wilayah Tukistan digempur oleh penguasa Manchu, China dengan kejamnya. Alkibatnya dua juta lebih nyawa kaum Muslim Uyghur menjadi korban dalam serangan ini. Pada 1863 Bangsa Uyghur berhasil memukul mundur pasukan China dan mendirikan negara secara independen namun hanya berlangsung selama 16 tahun saja. Tahun 1878 Inggris memberikan bantuan kepada China dalam penjajahannya di wilayah Turkistan. Rencana Inggris ini pun sukses yang akhirnya China berhasil menguasai wilayah Turkistan Timur dan mengubah namanya menjadi Xinjiang pada 1884. 

Perjuangan rakyat Turkistan Timur tak berhenti dan tak berputus asa. Muslim Uyghur terus melakukan penyerangan terhadap China dan memperoleh hasil yang menggembirakan. Bangsa Turkistan Timur berhasil mendirikan pemerintahan mereka secara merdeka pada 1933 di Kasghar hingga tahun 1944. Pemerintahan Turkistan Timur ini ternyata tidak berjalan mulus, Uni Soviet yang berideologi komunis tidak rela jika Turkistan Timur menjadi negara Muslim yang mandiri, Uni Soviet kemudian memberikan bantuan kepada China, lewat pasukan yang dipimpin Mao Zedong pimpinan Komunis. China kemudian berhasil menduduki kembali Turkistan Timur pada 1949 hingga saat ini. Kaum Muslim di Turkistan sejak itu bernasib miris dan tragis, mulai dari pelarangan beribadah, larangan puasa, larangan haji larangan membaca alquran, para Muslimah Uyghur dipaksa menikah dengan pria China (Han) yang beda agama, masjid-masjid juga banyak yang dirobohkan atau ditutup. Tidak hanya itu Muslim Uyghur juga dipaksa memakan dan meminum barang haram seperti daging babi dan alkohol. Bahasa dan budaya mereka diganti dengan bahasa dan budaya China. Bahkan kekerasan terhadap muslim Uyghur terus terjadi. Panel Hak Asasi Manusia PBB pada 2018 mengaku telah menerima banyak laporan terkait adanya satu juta etnis Uyghur yang ditahan di sebuah tempat pengasingan. Anggota Komite Penghapusan Diskriminasi Rasional PBB, Gary Mc Dougall juga mengatakan sekitar dua juta warga Uyghur dan kelompok minoritas Muslim dipaksa menjalani indoktrinasi di sejumlah penampungan (kamp konsentrasi) di wilayah Xinjiang. (Republika.co.id).

Mencuatnya isu Uighur mengundang banyak pihak untuk bersikap dengan berbagai kepentingan tertentu. Wakil Luar Negeri AS, John Sullivan mengatakan sebuah kewajiban bagi negara-negara anggota PBB untuk memastikan organisasi tersebut dapat memonitor secara ketat dugaan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan China. Sulvian menuturkan pernyataan yang digagas AS dan didukung oleh Kanada, Jerman, Belanda dan Inggris itu telah didukung lebih dari 30 negara, perwakilan Uni Eropa dan lebih dari 20 organisasi non-pemerintah termasuk para etnis Uighur yang menjadi korban penindasan China. Sulvian juga menuturkan AS juga mengundang negara lain untuk bergabung dengan upaya internasional demi menuntut dan memaksa China mengakhiri sikap yang menekan etnis Uighur. (CNNIndonesia, 26/09/2019)

Indonesia sebagai negeri berpenduduk mayoritas muslim memiliki sikap yang berbeda dengan AS dalam hal menanggapi kasus Uighur. Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengatakan pemerintah Indonesia tidak mau ikut campur urusan negara China. Moeldoko menegaskan bahwa pemerintah tak bisa mengintervensi urusan dalam negeri China.
”jadi pemerintah RI tidak ikut campur dalam urusan negara China mengatur dalam negeri. Itu prinsip-prinsip dalam standar hubungan internasional,” ujar Moeldoko di Kantor Staf Presiden Jakarta, Senin(23/12). (Merdeka,23/12/2019)

Kondisi yang menimpa umat Islam di Uighur bukan hal pertama yang menjadi perbincangan hangat dan mengundang banyak protes dari berbagai kalangan. Kondisi serupa di Palestina, Rohingnya, Kasmir dan negeri muslim lainnya sampai sekarang belum menemukan solusi tuntas penyelesaiannya. Berbagai kecaman yang diberikan berbagai pihak hanya sebatas omongan, belum ada aksi nyata untuk menghentikan berbagai penindasan di negeri-negeri muslim. Umat Islam harus memiliki kesadaran politik global  untuk mewujudkan persatuan dan kekuatan global untuk melindungi berbagai bentuk penjajahan dari musuh-musuh Islam. Hampir satu abad umat Islam kehilangan pelindung yang berujung pada kondisi selalu tertindas meski jumlahnya mayoritas.

Kondisi politik global saat ini yang didominasi oleh Ideologi kapitalisme dan komunisme sering mengorbankan umat Islam. Terkadang negara berideologi kapitalisme dan komunisme bekerjasama menyerang Islam. Namun, di satu sisi negara pengusung kedua Ideologi ini berseteru sendiri untuk mempertahankan eksistensi mereka di dunia. Kasus Uighur menjadi bukti bagaimana AS dan negara sekutunya memberikan pembelaannya terhadap Uighur dan mengecam China. Inilah salah satu bukti perang dingin antara negara-negara yang berbeda ideologi.

Umat Islam perlu sekali memiliki negara yang mengusung ideologi Islam karena Islam bukan hanya sebatas agama spiritual semata. Islam adalah agama kompleks yang memiliki aturan menyeluruh dalam berbagai bentuk kehidupan. Hanya dengan mewujudkan negara yang berideologi Islam, berbagai hukum-hukum Allah bisa diterapkan dan akan melindungi berbagai umat secara menyeluruh. Negara inilah nantinya yang akan menjadi tempat pengaduan berbagai tindak kejahatan, bukan lagi pada PBB yang hanya memberikan solusi tanpa kepastian.

Kisah heroik Al-Mu’tashim dicatat dengan tinta emas sejarah Islam dalam kitab Al-Kamil fi al-tarikh karya Ibn Al-Athir. Peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada tahun 223 Hijriah, dalam judul penaklukan kota Ammuriah. Ketika itu, Al-Mu’tashim, khalifah dimasa kekhilafahan Abbasiyah sedang memegang gelas untuk minum. Ketika didengarnya seorang muslimah dilecehkan oleh tentara Romawi, khalifah pun langsung berseru kepada panglima perangnya agar bersiap menuju Ammuriah tempat muslimah tersebut meminta tolong.

Beginilah seharusnya seorang pemimpin Islam bersikap saat ada umat Islam yang dilecehkan, di aniaya dengan berbagai bentuk penindasan lainnya. Keimanan yang dimilikinya akan mendorong untuk bergegas menyelamatkan umatnya. Wahai umat Islam di seluruh dunia, mari kita bersatu dalam satu barisan untuk mewujudkan kekuatan Islam secara global yang telah dicontohkan oleh Rasulullah, para sahabatnya dan generasi sholih setelahnya. [www.visimuslim.org]

Posting Komentar untuk "Turkistan Timur, Wilayah Muslim yang Malang"