Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

ICEO: Tidak Ada Bukti Genosida Muslim Rohingya di Myanmar


Rakhine- Visi Muslim- Sebuah panel yang telah ditunjuk pemerintah Myanmar untuk menyelidiki dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) terhadap etnis Rohingya di Rakhine telah membuat geram publik. Nama panel tersebut adalah The Independent Commission of Enquiry (ICEO).

Senin (20/1), ICEO merilis data yang menyebutkan tidak ada bukti genosida terhadap minoritas muslim Rohingya. Alih-alih mengiyakan adanya persekusi, panel mengakui adanya kejahatan perang.

Kejahatan perang itu ditujukan kepada gerilyawan Rohingya yang menyerang 30 pos polisi dan memprovokasi tindakan keras serta menciptakan konflik bersenjata. 

ICEO mengaku hasil penyelidikan dilakukan berdasarkan wawancara dengan penduduk desa dan anggota pasukan keamanan.

"ICEO belum menemukan bukti yang menunjukkan bahwa pembunuhan atau tindakan pemindahan ini dilakukan berdasarkan niat atau rencana untuk menghancurkan muslim atau komunitas lain di negara bagian utara, Rakhine," bunyi pernyataan ICEO yang dikutip oleh Al Jazeera. 

"Tidak ada bukti yang cukup untuk membantah, apalagi menyimpulkan, bahwa kejahatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan, secara keseluruhan atau sebagian, kelompok nasional, etnis, ras atau agama, atau dengan kondisi mental lain yang sesuai dengan kejahatan internasional, genosida," tambahnya. 

Menanggapi laporan ini, Presiden Myanmar Win Myint mengatakan pada Selasa (21/1) bahwa pemerintah setuju dengan temuan-temuan ICEO dan berjanji untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut. Terutama dugaan kejahatan yang dilakukan warga sipil dan gerilyawan Rohingya. 

Sementara penyelidikan yang masih dipertanyakan ini berlangsung, sebanyak hampir satu juta muslim Rohingya terpaksa tinggal di kamp-kamp penampuan di Cox'z Bazar, Bangladesh.

Mereka menolak untuk direpatriasi sampai ada jaminan keamanan dan diberikan status kewarganegaraan yang jelas. [] Rmol 

Posting Komentar untuk "ICEO: Tidak Ada Bukti Genosida Muslim Rohingya di Myanmar"