Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sekularisme: Mencabut Agama Keakar-Akarnya


Oleh: Sarah Ainun, S.Kep., M.Si

Muhammad Nasir, "Islam beribadah, akan dibiarkan. Islam berekonomi akan diawasi. Islam berpolitik akan dicabut seakar-akarnya". Sebagai seorang ulama, pejuang kemerdekaan dan seorang politisi muslim yang terjun langsung dalam perpolitikan sudah sejak lama merasakan dan melihat adanya upaya elite politik baik ide yang dinarasikan maupun kebijakan-kebijakan yang dibuat untuk mengarahkan ideologi Sekulerisme menjadi ideologi yang mengatur kehidupan anak bangsa yang mayoritasnya adalah muslim (eramuslim.com, 26/03/2017)

Persoalan-persoalan yang kian silih berganti menghantam kehidupan umat memperjelas jurang perbedaan dan perpecahan di tubuh umat. Adanya manusia-manusia yang berkarakter jahiliyah yang selalu menginginkan perpecahan dan menjauhkan umat dari persatuan sebagai biang keroknya. Mereka selalu berdalil mengatasnamakan toleransi, HAM dan lainnya. Jika tidak sepaham maka akan di stigmasisasi sebagai kelompok radikal, teroris, ekstremis dan lainya. Secara terang-terangan jihad merekapun ditujukan untuk menghasilkan produk aturan yang bersumber dari akal.

Seberapa apiknyapun narasi yang mereka bangun tetap saja tujuan akhirnya sudah dapat diketahui. Negara dan kekuasaan hanya dijadikan alat untuk mecapai kepentingan pribadi dan golongan. Bukan untuk kepentingan umat. Jika ada yang menjadi penghalang untuk mencapai itu semua maka harus dicabut sampai keakar-akarnya. Ini adalah perang antara yang haq dan yang bathil. Ketika yang haq menang maka binasalah yang bathil. Begitu juga sebaliknya ketika yang bathil menang maka binasalah yang haq. Karena antara bathil dan haq tidak akan pernah bisa bersatu ataupun beriringan.

Kesepakatan para pendiri bangsa dan pejuang kemerdekaan yang menjadikan pancasila sebagai dasar falsafah negara dan merumuskan sila-sila dengan memasukan nilai-nilai agama yang dilatar belakangi kesadaran bahwa kemerdekaan adalah pemberian atas ridhonya Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap bangsa ini. Namun, saat ini penafsiran sila-sila dari pancasilapun tidak habis-habisnya menjadi polemik akibat adanya politik kepentingan. Saat umat sudah merasakan kebijakan-kebijakan yang dibuat tidak mencermikan sila-sila dari pancasila mendorong untuk kembali pada nilai-nilai agama yang sesuai dengan pancasila. Hal ini oleh kepala BPIP Yudian Wahyudi melalui pernyataanya ke media menganggap "agama jadi musuh terbesar pancasila" (CNNindonesia, 18/02/2020).

Sistem sekuler telah mencetak intelektual-intelektual yang bodoh iman yang melahirkan peradapan krisis moral. Karena kehidupan sudah diatur sak enak e dewe alias aturan mainya kita sendiri yang menentukan. Maka kitabullah pun harus berada dibawah konstitusi. Artinya aturan hasil produk akal manusialah diatas segalanya yang mengatur sistem ekonomi, hukum, politik, pendidikan, kesehatan dan budaya. Agama hanya ada di mesjid-mesjid, gereja-gereja sebagai bentuk ritual hubungan manusia dengan penciptanya. Tidak heran jika agama bereformasi, saat berada di mesjid taat, diluar  kembali maksiat. Jadi pada hakekatnya ideologi Sekuler yang bertopeng pancasilais inilah musuh terbesar agama.

Dalam pandangan Islam negara adalah sebagai alat untuk menerapkan aturan-aturan Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Karena tanpa adanya negara maka hukum Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak akan pernah bisa ditegakan. Maka satu-satunya jalan adalah negara harus kembali pada ideologi Islam dalam sistem pemerintahanya bukan ideologi Sekuler dan lainya. []

Posting Komentar untuk "Sekularisme: Mencabut Agama Keakar-Akarnya"