Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sadar Keagungan Allah dari Makhluk Lemah yang Tak Berotot dan Tak Berbobot


Oleh: Ust. Azizi Fathoni (Khadim Kuttab Tahfizh Al-Utrujah Kota Malang)

Allah tidak menciptakan sesuatu secara sia-sia tanpa ada tujuan. Langit yang begitu luas yang hingga saat ini belum ada manusia yang tahu batas akhirnya. Demikian bumi dengan apa saja yang ada di permukaannya serta apa saja yang menjadi isi serta kandungannya. Berikut apa saja yang ada di antara keduanya. Semua itu tidak Allah ciptakan secara sia-sia. Pasti ada tujuan, pelajaran, atau hikmah di dalamnya. Sebagaimana Allah سبحانه وتعالى isyaratkan dalam firman-Nya:

ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَٰذَا بَٰطِلٗا سُبۡحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran: 191)

Di antara tujuan dan hikmah penciptaan Allah atas makhluk-makhlukNya adalah untuk perumpamaan bagi manusia agar mereka mengambil pelajaran, atau merenungkan betapa agung dan mahakuasa Allah سبحانه وتعالى dalam sifat rububiyyah Nya, yakni Maha Pencipta. Agar kemudian kesadaran terhadap sifat rububiyyah itu melahirkan pengakuan atas kedudukan Allah سبحانه وتعالى dalam aspek uluhiyyah. Bahwa Dia lah satu-satunya Dzat yang patut disembah dan ditaati. Al-Imam Ibnu Katsir رحمه الله تعالى mengatakan:

“Seringkali Allah تعالى  menggiring manusia untuk mengakui kedudukan uluhiyyah Nya melalui pengakuannya terlebih dahulu terhadap ke-esa-anNya dalam aspek rububiyyah.” (Tafsir Ibn Katsir, juz 6 hlm 294)

Untuk menggerakkan akal manusia agar mengakui betapa maha kuasa Allah سبحانه وتعالى dalam menciptakan makhlukNya tidak musti dengan mengambil perumpamaan dari makhluk yang besar, kuat, dan menakutkan. Allah سبحانه وتعالى menegaskan bahwa Dirinya tidak segan atau malu menjadikan ciptaan-Nya yang terlihat remeh dan kecil di mata manusia sekecil nyamuk bahkan lebih kecil sekalipun, sebagai bahan perumpamaan.

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَسۡتَحۡيِۦٓ أَن يَضۡرِبَ مَثَلٗا مَّا بَعُوضَةٗ فَمَا فَوۡقَهَاۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَيَعۡلَمُونَ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّهِمۡۖ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فَيَقُولُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۘ يُضِلُّ بِهِۦ كَثِيرٗا وَيَهۡدِي بِهِۦ كَثِيرٗاۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِۦٓ إِلَّا ٱلۡفَٰسِقِينَ

“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?". Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Baqarah: 26)

Dan justru dari makhluk kecil itulah sebenarnya tampak kemahakuasaan Allah سبحانه وتعالى. Karena di dalamnya ada tingkat kerumitan dan kompleksitas yang membutuhkan ketelitian dan kecermatan super dalam menciptakannya, yang tidak akan mungkin dimampui oleh manusia manapun, bahkan walau hanya sekedar menirunya.

Kita bisa jumpai di antara makhluk kecil yang Allah gunakan sebagai perumpamaan di dalam Al-Qur’an adalah serangga bernama “lalat”. Mari kita perhatikan:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٞ فَٱسۡتَمِعُواْ لَهُۥٓۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ لَن يَخۡلُقُواْ ذُبَابٗا وَلَوِ ٱجۡتَمَعُواْ لَهُۥۖ

“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan (untukmu) maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru (sembah) selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. ...” (QS. Al-Hajj: 73)

Di sini Allah سبحانه وتعالى menegaskan bahwa apa saja dan siapa saja yang manusia sembah selain Diri-Nya tidak akan ada yang mampu menciptakan “lalat”, walau hanya seekor saja. Bahkan meskipun sesembahan-sesembahan tersebut berkumpul untuk saling tolong-menolong dalam mewujudkannya, mereka tidak akan mampu. Di sini Allah ingin menunjukkan betapa lemah mereka dibandingkan Diri-Nya, yang telah terbukti menciptkan milyaran bahkan jutaan milyar atau lebih lalat yang pernah ada. Sedangkan mereka menciptakan satu ekor saja bahkan dengan 'keroyokan' sekalipun, tidak mampu. Maka yang demikian itu sangat jauh dari kata pantas untuk menjadi sesembahan menandingi Allah سبحانه وتعالى.

Tidak berhenti di situ. Di kelanjutan ayat-Nya Allah menyatakan:

وَإِن يَسۡلُبۡهُمُ ٱلذُّبَابُ شَيئًا لَّا يَسۡتَنقِذُوهُ مِنۡهُۚ
“… Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. ...” (QS. Al-Hajj: 73)

Terlalu tinggi dan sulit bagi sesembahan-sesembahan itu untuk menciptakan lalat. Jangankan menciptakan, bahkan yang lebih remeh dari itu saja mereka tidak akan mampu melakukannya. Apa itu? Merebut kembali apa yang telah diambil oleh lalat dari mereka!

Coba bayangkan saat ada seekor lalat hinggap di kulit kita dan mengambil sebutir debu darinya, lalu kemudian ia terbang. Mampukah kita mengejar seekor lalat itu dan merebut kembali sebutir debu yang ia ambil tadi? Sungguh ini merupakan pekerjaan yang sangat amat sulit bahkan nyaris mustahil.

Nah, sebagaimana manusia lemah tidak mampu melakukannya, demikian halnya sesembahan-sesembahan mereka. Maka Allah gambarkan di ujung ayat tersebut dengan ungkapan yang amat menghinakan:

  ضَعُفَ ٱلطَّالِبُ وَٱلۡمَطۡلُوبُ
“… Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” (QS. Al-Hajj: 73)

Bahwa ath-thâlib di situ adalah “yang menyembah” sedangkan al-mathlûb adalah “yang disembah”, ini adalah menurut penafsiran As-Suddiy dan lainnya. Sedangkan Ibnu ‘Abbas menafsirkan bahwa yang dimaksud ath-thâlib di situ adalah “berhala” atau sesembahan selain Allah, sedangkan al-mathlûb adalah “lalat”. Sehingga maknanya menjadi: alangkah lemahnya sesembahan yang tidak mampu merebut kembali apa yang telah diambil oleh makhluk lemah (lalat), dan pada faktanya lalat memang makhluk lemah yang tidak berotot dan tidak pula berbobot. Maka alangkah hina dan tidak pantas yang semcam itu dijadikan sesembahan menandingi atau bahkan menggantikan Allah سبحانه وتعالى untuk disembah, dimintai perlindungan, dimintai keselamatan dan rizki. 

Semisal itu juga makhluk yang saat ini tengah membikin heboh dunia, dan menjadikan manusia tidak berdaya menghadapinya, covid19. Padahal jika dibanding dengan lalat ia jauh lebih lemah dan lebih kecil. Sudah sepatutnya ini menyadarkan manusia dari kesombongan dan kepongahan nya, betapa lemah diri mereka di hadapan Allah سبحانه وتعالى, sebagaimana lemahnya sesembahan-sesembahan selain Allah, baik itu sesembahan klasik berupa berhala-berhala, maupun sesembahan modern berupa paham-paham kufur perusak akidah yang diagung-agungkan melebihi Islam dan syari’atnya. Semacam demokrasi, HAM, kapitalisme, sekularisme, nasionalisme, feminisme, dan lain sebagainya.

Sudah semestinya manusia kembali mengikuti fitrah diri mereka. Yaitu menjadikan hanya Allah saja sebagai satu-satunya sandaran dan tempat berserah diri. Satu-satunya pelindung dan tempat memohon ridha dan keselamatan dunia-akhirat. Dan menjadikan hanya syari’atNya saja satu-satunya pedoman dalam kehidupan. Yang dapat menjamin diraihnya ridha Allah, berikut kemaslahatan dunia dan akhiroh.

Ya, syariatNya secara kaffah atau keseluruhan. Mulai dari bab Thaharah sampai Khilafah.

أَفَحُكۡمَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ يَبۡغُونَۚ وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمٗا لِّقَوۡمٖ يُوقِنُونَ
“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin.” (QS. Al-Ma`idah: 50). []

Posting Komentar untuk "Sadar Keagungan Allah dari Makhluk Lemah yang Tak Berotot dan Tak Berbobot"