Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Generasi Milenial Kian Amoral



Oleh: Afiyah Rosyad

Darah muda
Darahnya para remaja 
Yang selalu merasa gagah
Dan tak pernah mau mengalah
Sepenggal lirik lagu tersebut sering mencerminkan keegoisan dan kobaran gelora emosi yang mudah meletup pada remaja, yang saat ini lebih sering disebut generasi milenial.

Rasanya sudah menjadi makanan mata dan telinga perkara tawuran dan kenakalan remaja. Potret buram kriminalitas milenial seakan tak berkesudahan. Beberapa waktu lalu seorang remaja belasan tahun tega membunuh balita dengan sengaja. Lalu problem narkoba dan penyalahgubaan obat masih menyelimuti dunia milenial. Kekerasan pada guru kerap mewarnai headline berita. Belum lagi pelecehan seksual dan tawuran.

Tawuran ini yang paling sering muncul di tengah kehidupan. Kaum milenial seakan tak punya rasa kasih sayang di antara teman sebaya, emosi mudah tersulut, adab atau moral yang tergerus, bahkan rasa tega yang tinggi menjulang menanungi generasi milenial.

Seperti yang diberitakan detik.news Senin (08/06/2020) bahwa di Lenteng Agung, Jagakarsa, Jaksel terjadi tawuran menjelang Shubuh. Polisi menangkap 6 pemuda yang kedapatan membawa senjata tajam. 

Di tengah pandemi yang terjadi, mereka masih asik dengan dekadensi moral. Mereka enggan sekali menggeser cara berpikir agar sedikit lebih peduli dengan memunculkan rasa kemanusiaan.

Gaya hidup milenial jauh dari moralitas dan agama. Cara berpikir mereka cenderung amoral dan anarkis. Hal ini sangat wajar terjadi di negeri yang mengusung hak asasi manusia, di mana kebebasan berekspresi dan berperilaku dijamin. Asas sekulerisme, yakni memisahkan agama dengan kehidupan menyatu dengan denyut nadi generasi milenial. Sehingga, mereka melakukan tindakan amoral dan kriminal tak jadi beban.

Pemikiran mereka terbonsai oleh gaya hidup bebas tersebut. Bahkan, mereka cenderung tidak menggubakan akal sehatnya dalam melakukan perbuatan. Ditambah, sanksi yang diberikan tak memberikan efek jera pada mereka, apalagi jika usia mereka dianggap di bawah umur meski sudah baligh.

Tentu saja perilaku amoral dan kriminal generasi milenial merasahkan. Namun, hal itu akan terjadi jika generasi milenial berpikir dengan cara pandang Islam. Bahwa setiap perbuatan itu terikat dengan hukum syara' jika sudah baligh.

Islam akan mengarahkan generasi milenial untuk bersyakhsiyah Islam, berpikir dan berperilaku sesuai Islam. Mereka akan ditatsqif atau dibina dengan tsaqofah Islam. Sehingga, mereka mampu berpikir cemerlang dalam melaksanakan perbuatan, dan akan bertanggung jawab atas apa yang dilakukan.

Islam akan mendorong generasi muda untuk menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda. Maka, terbentuklah rasa welas asih dalam diri. Tindakan amoral dan kriminal akan dihindari karena tak sesuai dengan perintah saling menyayangi.

Di samping itu, Islam juga akan memberi sanksi tegas jika mereka berbuat amoral dan kriminal sesuai porsi sistem sanksi dalam Islam. Jika sampai tataran menghikangkan nyawa dengan sengaja, maka sanksinya diqishosh (dibunuh). Kendati usia mereka belasan, tetap akan diberi sanksi jika sudah baligh.

Namun, Islam akan menjaga akal generasi milenial agar sesuai koridor syar'i dalam bingkai negara. Sehingga terjaga suasana keimanan. Sungguh, hanya dalam sistem Islam akal dan jiwa manusia terjaga.

Wallahu a'lam bish showab

Posting Komentar untuk "Generasi Milenial Kian Amoral"