Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Film Jejak Khilafah di Nusantara, Menyibak Kebenaran Sejarah

 

Oleh: Ragil Rahayu, SE

Siapakah penyebar Islam di Indonesia? Selama ini kita umumnya memahami bahwa Islam dibawa ke Indonesia oleh pedagang Gujarat, India. Meski sebenarnya ada tanya bergelayut, jika orang Gujarat itu nyambi berdakwah, sedangkan tujuan utamanya berdagang, mengapa Islam bisa tersebar sedemikian luas di Indonesia? Sampai-sampai, Indonesia menjadi muslim terbesar di dunia saat ini. 

Di film dokumenter Jejak Khilafah di Nusantara (JKDN), teori Gujarat tersebut diluruskan. Islam datang jauh sebelum kedatangan Gujarat di abad ke-12. Islam didakwahkan secara sengaja (bukan nyambi dagang) oleh para utusan khilafah yang lebih kita kenal sebagai walisongo. 

Hal ini hanyalah salah satu fakta sejarah yang dibukakan pada kita di film JKDN. Masih banyak fakta sejarah yang akan membuat kita tercengang. Misalnya, tentang pengiriman pasukan Yeniseri Utsmani untuk membantu muslim nusantara mengusir penjajah Portugis. Awalnya di Pasai dan selanjutnya di Ternate. Akhirnya Portugis kalah dan lari tungganglanggang meninggalkan Ternate. 

Pasukan Yeniseri ini tak hanya membantu berperang tapi juga mengajarkan teknologi pembuatan senjata. Sebagian Yeniseri yang syahid dimakamkan di bumi nusantara. Jejak makam mereka masih ada hingga saat ini. Ukiran bulan bintang di nisan, menunjukkan bahwa mereka adalah utusan Utsmani. 

Masih banyak lagi fakta sejarah yang diungkap di film JKDN. Sebenarnya bukan fakta baru. Namun selama ini fakta tersebut dikuburkan dan dikaburkan. Sehingga umat tidak menyadarinya. Film JKDN menyibak pasir yang selama ini menutupi fakta sejarah. 

Setelah pasir itu tersibak, tampaklah secara terang benderang, bahwa nusantara memiliki hubungan erat dengan khilafah. Sejak masa Abbasiyah hingga Utsmaniyah. Kesultanan Islam di Nusantara bukan sekadar memiliki hubungan dengan khilafah, tapi secara resmi menjadi wilayah (provinsi) kekhilafahan. 

Jejak khilafah sangat nyata bertebaran di Nusantara. Dari Aceh,  Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara hingga Maluku. Maka khilafah itu nyata, bukan khayalan semata. 

Dikaburkan dan Dikuburkan 

Sayangnya, selama ini sejarah tentang khilafah dikaburkan. Para pembenci mengopinikan bahwa khilafah bukan dari Islam. Namun para ulama yang lurus menunjukkan bukti naqli bahwa khilafah adalah ajaran Islam. Bahkan khilafah adalah mahkota kewajiban. 

Setelah itu khilafah diopinikan hanya romantisme sejarah, seolah tak mungkin ditegakkan. Bab khilafah dipindah dari mata pelajaran fiqh ke mata pelajaran sejarah. Menjawab tantangan ini, para sarjana sejarah membuktikan dalam film JKDN, bahwa dari sisi sejarah, khilafah menorehkan jejaknya di Indonesia. Jejak ini tampak nyata, tak bisa ditutupi oleh para pendengki. Maka, film JKDN ini adalah pembuktian. Bahwa opini khilafah pasti menang, meski dihadang oleh para pembuat makar. 

Fenomenal dan Menggetarkan 

Film JKDN makin fenomenal, karena ada segelintir pihak yang melawan. Sebelum tayang, film ini sudah diopinikan negatif. Pembuatnya disebut propagandis. Padahal, keseluruhan film ini berdasarkan atas riset verifikasi yang bisa dipertanggungjawabkan secara akademis. Ketika ditayangkan untuk pertama kalinya, film ini diblokir hingga sempat tersendat. Dengan berbagai kendala dari luar, akhirnya film JKDN bisa tayang hingga tuntas. 

Antusiasme publik sangat besar, tiket penayangan premiere film dokumenter ini telah dipesan 250.000 orang. Sebuah angka yang fenomenal bagi film dokumenter. 

Tak hanya jaya dari sisi penonton, film ini juga viral di jagat twitter. Tagar #JejakKhilafahdiNusantara menjadi trending topic twitter pada tanggal 20 Agustus 2020, bertepatan dengan 1 Muharram 1442H. 

Tahniah untuk film JKDN yang telah berhasil menyuguhkan kebenaran. Mengutip pernyataan Ustadz Ismail Yusanto, film JKDN bukan sekadar "digging up the past", tapi "digging up the truth". 

Sejarah membuktikan bahwa khilafah pernah diterapkan dan dakwahnya menyentuh nusantara. Namun, ada tidaknya bukti sejarah, tidak mempengaruhi wajib tidaknya mewujudkan Khilafah. Karena secara yuridis normatif, khilafah bagian dari ajaran Islam yang harus diwujudkan. Sejarah hanya memperkuat bukti empirisnya.

Jika film tentang sejarah khilafah saja sudah sedemikian menggetarkan, tegaknya khilafah pasti akan menggetarkan dunia. Semoga khilafah tak sebatas fakta sejarah, tapi mewujud nyata dalam panggung peradaban. Wallahu a'lam bishshawab.(*)

Posting Komentar untuk "Film Jejak Khilafah di Nusantara, Menyibak Kebenaran Sejarah"