Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jejak Khilafah di Nusantara

 



Oleh: Nelly, M.Pd

Pemerhati Dunia Islam, Pegiat Opini Medsos


Bagi bangsa Indonesia yang mayoritas muslim terbesar di dunia harusnya tidak akan asing dengan sejarah Islam di nusantara. Bahkan menjadi hal yang sangat penting dalam memahami sejarah jejak kekhilafahan di negeri ini. Sejarah peradaban agung dan mulia yaitu khilafah serta bagaimana hubungannya dengan perjalanan Islam di tanah air. Namun yang sangat disayangkan bahwa kata Khilafah masih saja dinilai sesuatu negatif di negeri muslim ini. 

Bahkan  ada pihak tertentu yang berupaya keras menghilangkan sejarah tersebut dari benak kaum muslimin, dengan mengatakan Khilafah berbahaya hingga radikal. Siapa pun yang menyuarakan dan mendakwahkan ide khilafah, maka disematkan sebagai anti kebhinekaan, menentang pancasila, ingin merusak NKRI bahkan dianggap radikal. Padahal sejatinya khilafah adalah ajaran Islam, ajaran yang dibawa Rasulullah Saw.

Kewajiban menegakkan khilafah sudah sangat jelas, sebab tanpa khilafah maka hukum aturan Islam tidak akan bisa diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Hanya dengan Khilafah sajalah seluruh hukum-hukum Islam akan bisa ditegakkan di muka bumi ini. Lebih dari itu, jika umat Islam di negeri ini mau mencermati dan menelusuri sejarah Islam di Indonesia, maka sesungguhnya fakta sejarah terpampang nyata di beberapa wilayah Indonesia pernah menjadi bagian dari kekhilafahan Islam.

Hal ini terbukti dari berbagai pendapat para ahli sejarah yang mengakui kekhilafahan Islam itu memang ada dan menjadi kekuatan politik riil umat Islam. Kekhilafahan terakhir yang berpusat di Turki Ustmani kala itu memiliki hubungan yang amat dekat dengan menyebarnya Islam di tanah air.

Eratnya Hubungan Kekhilafahan Turki dan Nusantara

Menurut Adhe Nuansa Wibisono Ketua Majelis Pertimbangan KAMMI Turki dan Mahasiswa Ph.D Studi Keamanan Internasional bahwa pengaruh dan kehadiran kekhilafahan Turki Ottoman dalam kehidupan kesultanan di Nusantara dapat dikatakan sebagai faktor yang cukup determinan. 

Khilafah Turki berperan penting dalam memberikan bantuan militer (Aceh), legitimasi politik (Mataram, Banten, Makassar) dan bahkan pengiriman ulama (Palembang, Makassar). Ottoman juga tercatat memberikan perlindungan terhadap jemaah haji yang berasal dari Nusantara untuk melintasi Samudera Hindia secara aman.

Dengan demikian, Turki Ottoman berperan sebagai negara protektorat kepada kesultanan di Nusantara. Pada saat bersamaan, kesultanan Nusantara mengakui kekuasaan dan legitimasi politik Turki Ottoman. Argumen ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh kekhilafahan Turki pada abad keenam belas dan ketujuh belas di kepulauan Nusantara.

Hal senada juga disampaikan dari pengakuan Sri Sultan Hamengkubuwono X tentang hubungan Keraton Yogyakarta dengan Kekhalifahan Utsmani di Turki.

Kekhalifahan Utsmani adalah kesultanan terakhir yang membawahi seluruh negeri umat Islam di dunia yang runtuh pada tanggal 3 Maret 1924. Hal ini disampaikan dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-6 di Yogyakarta (12/2).

Salah satu yang menarik dalam KUII tersebut adalah Uniknya, kata Sri Sultan, bahwa Keraton Yogyakarta merupakan perwakilan kekhalifahan Islam di Jawa. Keraton Yogyakarta adalah kelanjutan dari Kesultanan Demak.

Berikut pidato lengkap Sri Sultan Hamengkubuwono X pada Pembukaan KUII-VI: Kongres Umat Islam ke-6 yang diselenggarakan di Yogyakarta dan kini pembukaannya Insya Allah berlangsung di Pagelaran Kraton Yogyakarta, mengandung makna simbolik sebuah ziarah spiritual, karena bangunan Pagelaran ini disangga oleh 64 buah tiang yang menandai usia Rasulullah SAW dan perhitungan tahun Jawa.

Sehingga, Kongres yang dirancang untuk napak laku Kongres sebelumnya yang juga dilaksanakan di Yogyakarta, (7-8 November 1945, Red) akan memberi makna historis, agar umat Islam melakukan introspeksi diri dan retrospeksi atas perjalanan sejarahnya. 

Pada 1479, Sultan Turki mengukuhkan R. Patah (sultan Demak pertama) sebagai Khalifatullah ing Tanah Jawa, perwakilan kekhalifahan Islam (Turki) untuk Tanah Jawa, dengan penyerahan bendera Laa ilaah illa Allah berwarna ungu kehitaman terbuat dari kain Kiswah Ka'bah, dan bendera bertuliskan Muhammadurrasulullah berwarna hijau.

Duplikatnya tersimpan di Kraton Yogyakarta sebagai pusaka, penanda keabsahan Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat wakil Kekhalifahan Turki.

Ketika 1935 Ataturk mengubah sistem kalender Hijriyah menjadi Masehi, jauh pada zaman Sultan Agung tahun 1633 telah mengembangkan kalender Jawa dengan memadukan tarikh Hijriyah dengan tarikh Saka. Masa itu sering disebut sebagai awal Renaisans Jawa.

Jika kita melakukan retrospeksi, dalam sejarah pergerakan Islam modern disebutkan, pada abad 19-20 muncul gerakan kebangkitan Islam. Pelopornya adalah Jamaludin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Muhammad Iqbal dan Ali Jinah. Mereka menganjurkan agar kaum Muslim membumikan ijtihad dan jihad fi sabilillah, serta memperkokoh solidaritas Islam.

Pada saat itu Sultan juga mengatakan, apa relevansinya uraian tersebut dalam konteks Kongres ini? Diharapkan Kongres ini sebagai wadah berkumpulnya para ulama, cendekiawan dan tokoh Muslim dalam beragam Mazhab, Badan Pekerja Kongres harus berani menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar, berupa dakwah, pendirikan serta memberi nasihat politik berbasis keagamaan kepada pemerintah dan umat Islam atas suatu perkara, terutama saat terjadinya ketidakpastian seperti sekarang ini. 

Sehingga segala kebijakan, fatwa dan sikapnya selalu mengacu pada kemashlahatan umat atas dasar ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah basariyah. (Hamengku Buwono X).

Catatan fakta di atas hanya sedikit gambaran akan adanya hubungan antara kekhilafahan Islam di nusantara. Ini menunjukkan bahwa sejarah Islam di nusantara tak bisa lepas dari eksistensi dan peran khilafah Turki. Banyak jasa dari khilafah untuk bangsa ini, mulai dari penyebaran Islam dengan di utusnya para wali songo, hingga berjasanya khilafah Turki dalam mengusir penjajah di tanah air. 

Sungguh keliru jika mengatakan khilafah itu isu baru, khilafah itu merusak dan anggapan negatif lainnya. DI sinilah perlu adanya kisah sejarah yang benar untuk menggambarkan pada seluruh rakyat negeri ini tentang jejak khilafah di nusantara. Hal inilah yang mendorong umat muslim untuk khususnya di tanah air untuk terus menyampaikan ajaran Islam yang mulia khilafah di tengah umat.

Hingga dibuatnya penayangan film dokumenter jejak khilafah di nusantara yang dipersembahkan oleh khilafah channel adalah bagian edukasi kepada umat agar melek sejarah dan memahami dengan benar sejarah khilafah di nusantara. Dilansir dari media ISU BOGOR , Film Jejak Khilafah di Nusantara akan ditayangkan hari ini bertepatan dengan Tahun Baru Islam 1442 Hijriyah, Kamis, 20 Agustus 2020, yang sudah membuat riuh warganet.

Antusias umat muslim di tanah air menyambut positif dengan rilis film dokumenter yang amat dahsyat ini. Di Media Sosial Twitter, hastag #Kamisfilmkhilafah sempat menjadi tren pada Selasa, 18 Agustus 2020. Warganet yang mendukung film tentang masuknya Islam ke Indonesia yang dahulu lebih dikenal Nusantara itu terus membalas unggahan maupun mengunggah tersendiri kesannya.

Dalam film dokumenter jejak kekhilafahan di nusantara ini akan mengupas kejayaan Islam di kerajaan Ottoman atau Ustmaniyah yang sudah tidak asing dengan perdagangan yang dilakukan. Hingga membuat warga Aceh banyak juga memeluk Islam seperti mayoritas masyarakat Ottoman dan pemerintahannya.

Film Jejak Khilafah di Nusantara akan menyuguhkan awal mula perkembangan Islam dari Aceh, Sumatera secara umum, Pulau Jawa dan lainnya. Berbarengan dengan Tren #Kamisfilmkhilafah, seruan terhadap tiket gratis film yang menguak perjalanan agama Islam ke Nusantara itu membuat #TiketGratisFilmKhilafah juga populer. (19/8).

Dengan adanya kisah sejarah kekhilafahan Islam dengan nusantara ini, semoga menjadi pelecut gerak umat. Untuk kembali bersama mewujudkan Islam rahmatan lil ‘alamin dalam kehidupan kaum muslimin di masa ini tentunya dengan menerapkan kembali sistem pemerintahan Islam khilafah. 

Sudah saatnya kaum muslimin mengulang kembali kejayaan Islam dan kaum muslimin sebagaimana dulu selama 13 abad lamanya kaum muslimin menjadi mercusuar dunia.


Wallahu’alam bisshowab

Posting Komentar untuk "Jejak Khilafah di Nusantara"