Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sedekah Wifi

 


Oleh: Ragil Rahayu, SE (Penulis, Member Komunitas Revowriter dan Walimurid)

"Gratis Wifi, Khusus Pelajar." Akhirnya teman saya memberanikan diri menempelkan tulisan itu di pagar rumahnya. Awalnya dia ragu, khawatir menyinggung perasaan tetangga. Namun dilakukannya juga. Di tempat lain, seorang pemilik warkop melakukan hal yang sama. Ada juga pemilik apotek yang menempel kertas serupa, dengan tambahan, "Tidak untuk Main Game". 

Mungkin esok hari, atau lusa, makin banyak orang berhati malaikat yang sedekah wifi. Toh, pikir mereka, bayarnya akan tetap sama karena paket unlimited. Namun, kepedulian mereka tetaplah hal yang mulia. Padahal kita hidup di era persaingan bebas, dimana setiap orang dikondisikan memikirkan nasibnya sendiri-sendiri. Ditambah lagi serangan wabah cukup memukul telak perekonomian. 

Belajar dari Rumah 

Ya, pandemi sudah setengah tahun menyambangi negeri kita. Sepertinya dia masih betah hingga satu semester ke depan. Kata para ahli kesehatan sih demikian. Anak-anak terpaksa belajar dari rumah (BDR). Mereka tetap stay at home, memakai seragam, menatap layar handphone atau laptop, menyimak penjelasan guru via daring, lalu mengerjakan tugas juga via daring. 

Beberapa anak bisa mengakses materi dan tugas dengan lancar. Mereka punya smartphone atau laptop. Jaringan juga tersedia karena ada fasilitas wifi di rumah. Bahkan ada keluarga yang tiap anggotanya punya laptop dan smartphone sendiri-sendiri. Tentu saja itu adalah privilese yang tak dimiliki orang kebanyakan. 

Yang jamak terjadi, hanya ada satu atau dua smartphone di rumah. Sehingga anak harus bergantian dengan orangtua  untuk mengikuti BDR. Sementara para orangtua juga butuh handphone untuk bekerja dan bisnis online. Kuota data juga menjadi persoalan tersendiri. Karena BDR, pengeluaran untuk pulsa membengkak. Bendahara rumah tangga yakni para ibu jadi uring-uringan, karena jatah belanja dapur makin sempit. 

Di beberapa daerah, BDR bahkan tak bisa dilakukan. Di Rembang, Jawa Tengah, ada siswa yang tetap tiap hari berangkat sekolah, karena tak punya smartphone untuk BDR. Di Pati, Jawa Tengah, ada guru yang harus keliling ke rumah muridnya yang tak punya gawai, satu persatu, demi menyampaikan pelajaran. Di Sikka, Nusa Tenggara Timur, BDR dilakukan via radio. Namun banyak siswa yang tak bisa mengaksesnya, karena tak punya radio. Ada juga sekolah yang melaksanakan BDR, tapi para siswa tiap hari datang ke sekolah, untuk numpang wifi. 

Inilah realita pendidikan di negara kita. Di era yang katanya sudah canggih, terjadi revolusi industri 4.0, tapi pembelajaran berjalan terseok-seok. Di perkotaan, pada kalangan yang berkecukupan, bukan berarti BDR tanpa masalah. Orangtua tidak selalu bisa mendampingi anak karena bekerja dari pagi hingga sore. Akibatnya anak menggunakan gawai tanpa pengawasan. Tak hanya berpotensi kecanduan game online, mereka juga bisa terpapar konten porno. 

Bagi anak yang didampingi orangtua (umumnya ibu), memang mereka terhindar dari dampak negatif gawai. Namun tekanan psikis justru dialami para ibu. Anak yang sekolah, ibunya yang pusing. Daring bikin darting (darah tinggi). Di facebook beredar video seorang ibu yang memukuli anaknya ketika mendampingi mengerjakan tugas. Ya, tak semua orangtua mampu memberi penjelasan yang mudah dipahami anak. Ketika anak tak kunjung paham, kadang sang ibu jadi emosi. 

Bukan salah anak, bukan salah sang ibu  bukan pula salah sekolah. Karena sekolah juga ditarget capaian materi, termasuk para guru. Banyak guru yang sekaligus walimurid. Ibu guru harus memakai gawai untuk mengajar, sementara sang anak juga butuh gawai untuk BDR. Sedangkan membeli gawai baru di tengah badai pandemi corona tentu sulit dilakukan. Apalagi oleh para guru honorer yang penghasilannya minim. Bahkan tak semua guru mendapat dana dari sekolah untuk membeli kuota data. Jika pun ada yang mendapatkan dana untuk membeli kuota data, jumlahnya minim, tidak mencukupi untuk kebutuhan mengajar daring selama sebulan. 

Pendidikan untuk Semua

Demikianlah keriuhan BDR. Orangtua mengeluh, guru juga curhat, sekolah pun tak berdaya. Lantas kita berharap solusi dari siapa? 

Kita semua bisa menjadi bagian dari solusi. Sedekah wifi adalah salah satu langkah yang bisa diambil. Jika sedekah wifi dilakukan secara massal, banyak anak akan terbantu untuk mengakses pendidikan. Karena pendidikan seharusnya bukanlah privilese, tapi hak dasar setiap orang. Mari saling peduli, tengok kanan dan kiri, bisa jadi orang yang membutuhkan bantuan itu sangat dekat dengan tempat tinggal kita. 

Namun sedekah wifi tetaplah hanya aksi sosial yang sifatnya individual dan sporadis. Jika negara yang memberi sedekah wifi, tentu hasilnya akan massif. Eh, jika level negara, tentu yang bisa dilakukan bukan cuma sedekah wifi. Tapi bisa sedekah gawai, sedekah laptop, sedekah tower (jaringan), sedekah duit, sedekah buku, sedekah LKS, sedekah alat tulis, sedekah makanan, sedekah susu, sedekah apa saja yang dibutuhkan agar semua anak Indonesia bisa sekolah dengan baik. 

Semua anak berhak mendapatkan pendidikan yang berkualitas, karena pendidikan adalah hak semua, bukan hak istimewa. Pendidikan untuk semua, bukan pendidikan untuk yang berpunya. Semoga masa depan pendidikan Indonesia cerah. Semoga negara mau banyak-banyak sedekah. Seperti teman saya tadi, dia yakin bahwa ada hak orang lain dalam hartanya. Penguasa harus punya keyakinan yang sama, ada hak rakyat dalam kekayaan alam yang dikelola negara. Kekayaan alam itu bukan warisan orangtua penguasa, tapi titipan anak cucu kita, rakyat Indonesia. (*)

Posting Komentar untuk "Sedekah Wifi"