Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Nakesku Sayang, Nakesku Malang


 


Oleh: Afiyah Rasyad (Aktivis Peduli Ummat)


Awal tahun 2021, dunia masih dilanda pandemi, tak terkecuali negeri ini. Kelesuan beberapa aspek kehidupan tak dapat di hindari, terutama dunia kesehatan. Banyak penduduk yang terpapar virus corona, setiap  tak terkecuali para tenaga kesehatan (nakes). Nakes mulai berjatuhan sejak bulan pertama covid-19 ini menyapa.

Angka penambahan virus corona semakin hari juga semakin mengkhawatirkan, data kasus covid-19 per 10 Januari 202 mencapai 828.026 ribu kasus. Penanganan semakin hari semakin tak mampu menjangkau seluruh warga yang terinfeksi virus corona. Banyak rumah sakit dan tempat karantina yang full, terpaksa warga yang positif namun tak begejala melakukan karantina mandiri.

Alat pelindung diri (APD) dan alat kesehatan (alkes) para nakes minim. Nakes paling merasakan dampak dari pandemi covid-19. Tak sedikit di antara mereka yang terinfeksi virus corona. Bahkan, jumlah tenaga kesehatan yang meninggal akibat pandemi covid-19 di Indonesia terus bertambah. 

Sebagaimana data dari Tim Mitigasi Ikatan Dokter Indonesia atau IDI menunjukkan jumlah tenaga kesehatan yag meninggal karena covid-19 paling banyak terjadi di Desember 2020. Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia atau PB IDI, Adib Khumaidi mengatakan jumlah tenaga kesehatan yang meninggal karena covid-19 naik sampai lima kali lipat dibanding saat awal pandemi covid-19 (tempo.co, 3/1/21).

Kompas.com memberitakan ternyata jumlah dokter di Indonesia juga termasuk yang terendah se-Asia Tenggara. Berdasarkan data Bank Dunia, jumlah dokter di Indonesia terendah kedua di Asia Tenggara, yaitu sebesar 0,4 dokter per 1.000 penduduk. Artinya Indonesia hanya memiliki 4 dokter yang menangani 10.000 penduduknya. Sehingga, kehilangan 100 dokter sama dengan 250.000 penduduk tidak punya dokter (29/12/20).

Miris sekali. Seorang dokter begitu berarti bagi penduduk negeri. Namun, dokter yang gugur selama pandemi covid-19 lebih dari 200. Berarti semakin banyak penduduk yang tidak punya dokter.

Jumlah nakes yang meninggal dari 237 dokter, 15 dokter gigi, 171 perawat, 64 bidan, 7 apoteker, dan 10 tenaga laboratorium medis. Adapun rincian dokter yang wafat tersebut terdiri dari 131 dokter umum, 101 dokter spesialis dan serta 5 residen yang seluruhnya berasal dari 25 IDI Wilayah (provinsi) dan 102 IDI Cabang Kota maupun Kabupaten (kompas.com 2/1/21). 

Betapa malang nasib nakes ditilik dari fakta dan data tersebut. Nakesku sayang, nakesku malang. Sementara penguasa tampak santai dengan kehilangan nakes yang sudah berjuang di garda terdepan untuk melawan covid-19. Padahal sejatinya, kehilangan satu nyawa tenaga medis adalah kerugian yang sangat besar bagi negara. Terlebih hibgga saat ini pandemi covid-19 belum teratasi. Vaksinasi yang digalakkan pun tak lantas menjadi solusi tuntas untuk memutus rantai penyebaran virus corona.

Sejauh ini, seluruh kebijakan yang diberlakukan untuk menekan angka kasus positif dan memutus mata rantai penyebaran belumlah tercapai. Apalagi sejak kebijakan new normal diterapkan angka positif covid-19 meningkat secara signifikan. Pasalnya, masyarakat semakin abai akan protokol kesehatan (prokes). Mereka beraktivitas seolah bebas melakukan aktivitas di luar rumah tanpa mengenakan masker, berkerumun di tempat umum dan lain sebagainya.

Anjuran para pakar untuk melakukan karantina wilayah atau lockdown lokal tak begitu diindahkan. Parahnya, dicsaat jumlah kasus positif covid-19 melonjak tajam, gelaran pilkada tak ditahan. Belum lagi kebijakan yang kontraproduktif diberlakukan, di antaranya membuka pariwisata, bioskop, dan transportasi umum. Maka nakes semakin kewalahan dan semakin besar peluang tertular tatkala lonjakan kasus positif meningkat tajam.

Alasan klise adalah demi pertumbuhan ekonomi bangsa. Kerugian akibat pandemi tak boleh berlarut. Apalagi jika sampai penduduk negeri menjadi beban negara. Hal yang sangat wajar jika negara terkesan abai, sistem kapitalisme sekuler yang mendorong hal itu terjadi. 

Sistem kapitalisme membutakan petinggi negeri dengan membuat kebijakan yang bukan untuk kepentingan rakyat, namun untuk kepentingan korporasi yang berorientasi kepada untung rugi. Hubungan negara dan rakyat dalam kacamata sistem kapitalisme layaknya produsen dan konsumen. Nyawa rakyat dan nakes tak lebih urgen dari ekonomi.

Sungguh kondisi saat ini bertolak belakang dengan kondisi di masa pemerintahan Islam. Dalam pandangan Islam, nyawa manusia adalah hal yang sangat dijaga. Bahkan nyawa manusia lebih berharga dari dunia dan seisinya. Apalagi nyawa nakes yang menjadi perantara nyawa manusia lainnya tentu akan dijaga. 

Islam mewajibkan seorang kholifah selalu berupaya mewujudkan  penjagaan nyawa manusia sebagai bagian dari penerapan syariat Islam. Seperti dikisahkan Kholifah Umar bin Khaththab yang senantiasa menangis setiap malam lantaran diliputi rasa khawatir akan beratnya hisab atas rakyat yang menjadi tanggung jawabnya. Bahkan, beliau saat terjadi wabah menerapkan karantina wilayah total. 

Kholifah Umar memenuhi kebutuhan pokok individu rakyat, baik di wilayah terdampak wabah maupun di wilayah tak terdampak wabah. Namun, perhatian utama di wilayah terdampak wabah, beliau meningkatkan pasokan alkes dan tenaga medis. Beliau memisah penduduk yang sakit dari yang sehat. 

Sungguh sistem Islam tidak akan menjerumuskan manusia ke dalam kesengsaraan. Kebijakan yang dibuat oleh kholifah sesuai dengan syariat Islam. Para nakes tidak akan sampai berjuang di garda terdepan tanpa perlengkapan yang memadai. Kholifah akan memenuhi biaya pengobatan, alkes, APD, dan sarana kesehatan lainnya. Bahkan, penelitian oleh tim ahli dan pakar akan dibiayai agar wabah tak berlarut.


Wallahu a'lam bish showab

Posting Komentar untuk "Nakesku Sayang, Nakesku Malang"