Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Di Pengadilan, Raim Aivazov Mengaku Diancam Akan Disiksa dan Dibunuh oleh Petugas FSB



Simferopol, Visi Muslim- Raim Aivazov, seorang tahanan politik asal Simferopol, Crimea dengan kasus keanggotaan "Hizbut Tahrir", pada sidang pertama di Pengadilan Militer Distrik Selatan, Selasa (16/3/2021), menyatakan bahwa dirinya mendapat penyiksaan oleh petugas FSB (Dinas Keamanan Federal Rusia). Dia memberi tahu dewan yudisial bagaimana awal mula penahanannya terjadi. Saat itu aktivis tersebut melintasi pos poin perlintasan perbatasan Rusia untuk memasuki daratan Ukraina, kemudian dia ditahan petugas FSB, setelah itu salah satu dari mereka memasukkan Raim ke dalam mobil hitam tanpa ada logo kepolisian. Keluarganya kehilangan kontak dengannya selama 12 jam, dan kemudian melalui pengacaranya, Maria Eismont melaporkan bahwa saat penangkapan tersebut ia mendapatkan tekanan moral dan fisik.

“Mereka membawa saya ke lapangan, mengancam saya dengan pembunuhan dan penyiksaan," kata Raim Aivazov.

Setelah itu, Raim dibawa ke departemen FSB, di mana ia mendapat tekanan baik secara mental maupun fisik. Raim mengatakan bahwa "banyak ketakutan ditimbulkan" oleh para para petugas FSB agar ia mengakui tuduhan tersebut. 

Awalnya, tahanan politik Raim Aivazov didakwa dengan  Pasal Bagian Dua, 205.5 KUHP Federasi Rusia ("partisipasi dalam kegiatan organisasi teroris"), namun kemudian tuduhan itu diklasifikasikan ulang dari bagian dua ke bagian satu Pasal. 205.5 KUHP Federasi Rusia ("mengorganisir kegiatan teroris"), yang menyiratkan hukuman penjara hingga seumur hidup di koloni rezim yang ketat. 

Pengacara pembela percaya bahwa keputusan Departemen Investigasi ini terkait dengan penolakan kliennya untuk mengaku terkait tuduhan tersebut. Menurut Raim Aivazov sendiri, dia ditangkap di bawah penyiksaan dan tekanan psikologis.

“Saat ditahan, dia menghabiskan 10 jam dengan beberapa petugas, mungkin dengan petugas operasi FSB, yang membawanya ke pos pemeriksaan di perbatasan. Kemudian mereka membawanya ke suatu tempat di pinggir jalan, di mana ia diminta berlutut, kemudian petugas FBS menembaki tanah yang ada disampingnya guna menakut-nakuti dirinya , dan mengancam akan membunuhnya. Dia juga tidak boleh menghubungi keluarganya antara jam 2 dan 3 pagi, dan penangkapan resmi dilakukan pada jam 1:30 siang waktu setempat. Dan setelah itu, dia diminta untuk menandatangani pengakuan, yang kemudian dia tolak, Raim menceritakan apa yang terjadi padanya selama penangkapannya.  

Pengacaranya, Maria Eismont, mengatakan bahwa pada Mei 2019 ia mengajukan permohonan yang ditujukan kepada ketua Komite Investigasi Rusia, Alexander Bastrykin, tentang "melakukan kejahatan terhadap kliennya," tetapi setelah hasil pemeriksaan tersebut, diputuskan ditolak. Kemudian pengacara pembela mengajukan banding atas keputusan ini.

Pada malam 16-17 April 2019, Raim Aivazov ditahan saat melintasi perbatasan Rusia di pos pemeriksaan Kalanchak. Keluarganya kehilangan komunikasi dengannya selama lebih dari 12 jam. Sore harinya, Raim Aivazov menghubungi adiknya dan mengatakan bahwa dia berada di Franko Boulevard dan ditahan oleh petugas FSB. Dia didakwa dengan Pasal 205.5.2, bagian kedua dari KUHP Federasi Rusia dan termasuk dalam kasus pidana terhadap 25 Muslim Tatar Krimea lain yang ditahan. [] gesang

Posting Komentar untuk "Di Pengadilan, Raim Aivazov Mengaku Diancam Akan Disiksa dan Dibunuh oleh Petugas FSB "