Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hujan Teror di Musim Impor


 



Oleh : Nita Savitri (Pemerhati Sosial Masyarakat, Komunitas Lingkar Studi Islam)

Masih terngiang di telinga, semua media sibuk memberitakan adu tembak mbak generasi Z dengan aparat.  Media menyebutnya ZA, baru berusia 25 tahun mengaku datang ke Mabes Polri menanyakan keberadaan kantor pos.  Tiba-tiba ZA menembakkan senjata sebanyak 6 kali ke aparat.  Akhirnya Mbak ZA meregang nyawa, ditembak para aparat (Kompas.news, 31/3/21).

Pemirsa pun beraneka ragam responnya, ada yang mengutuk aksi si Mbak yang berlaku bodoh dan nekat.  Ada yang mengelus dada, kasihan karena masih muda kok maunya diperalat pihak tertentu.  Bahkan mungkin ada yang bersyukur, sang teroris berhasil dilumpuhkan. 

Selidik lebih lanjut, senjata si Mbak ternyata hanya air soft gun, yang biasa dipakai buat latihan atlet tembak.  Kebetulan ZA baru mendapat kartu anggota perbakin.  Maka aneh, jika aparat tidak mengenalinya, dan kenapa tidak memberi peringatan dengan menembak kaki atau anggota badan lain yang tidak mematikan.  Toh, mbaknya juga pas nembak ngasal, tidak langsung ke jantung.

Kasus ZA ini melengkapi rentetan teror seperti bom Katedral Makassar oleh pasangan suami-istri yang diduga anggota JAD.  Tidak ketinggalan adanya pencidukkan terduga teroris oleh Densus 88 di sejumlah wilayah seperti Mojokerto, Bekasi, Jombang, Jakarta dll.

Anehnya juga, hujan teror ini berbarengan dengan musim impor yang digalakkan dan opini benci produk asing yang digaungkan oleh Sang Pemilik Kebijakan. Terdapat pula pengusutan korupsi yang jika dikorek diduga bisa menarik pejabat papan atas.  Maka wajar, protes bertubi dari rakyat mengenai wacana impor aneka produk dari beras, gula sampai garam mengerem perlahan.  Bahkan senyap, berganti aksi mengutuk teror dan radikal.  

Menikmati berita yang disuguhkan media zaman now, memang tergantung racikan Sang kokinya berita.  Ada yang sukanya pedes, manis atau asin di indera pemirsa.  Media harus memahami dan mematuhi selera pemirsanya.  Apalagi jika pemirsanya para penguasa berdasi yang merangkap pengusaha.  Langsung bumbu ABS (Asal Bapak Senang) pun diracik sedemikian rupa agar berita sesuai dengan selera.

Radikalisme pun menjadi menu handal untuk disajikan.  Bermacam corak dan gaya penampilan.  Terpenting sesuai kehendak pemesan.  Tidak peduli menabrak etika keagamaan.  Apalagi keadilan dan rasa kemanusiaan.  Semua dianggap angin lalu, yang terlupakan.

Duhai para koki dan bapak pejabat, tidakkah kalian memperhatikan, nasib para korban? Menemui ajal gegara sebuah kepentingan.    Adanya cacian dan sumpah serapah pun disematkan.  Hanya sabar dan tawakkal menjadi pegangan bagi keluarga yang ditinggal.

Andaikan waktu bisa diputar, mungkin mereka pun tidak menyangka akan berakhir tragis masa mudanya.  Tidak ada saksi yang menguatkan adanya tuduhan terduga teroris.  Kebanyakan yang dituduh adalah orang-orang baik di masyarakat.  Bukan tukang gaduh apalagi onar.

Adanya bukti dan saksi yang kuat harus melengkapi sebuah kasus peradilan, tertuduh pun boleh dibela memenuhi haknya sebagai warga negara.  Jangan asal ciduk dan tuduh.  Ini negeri hukum, bukan rimba.  Siapa kuat, dia menang.  Sedangkan yang lemah layak dikalahkan.  

Tuduhan teroris semestinya berhubungan dengan aksi yang membuat takut masyarakat.  Bukan aksi tak masuk akal yang menimbulkan serentetan dugaan dari masyarakat.  Hubungan kaos dan buku penunjuk ormas tertentu, kehadiran dalam peradilan, atau postingan jihad dan khilafah yang menurut anggapan sebagian pihak radikal.  

Islam sangat menghargai nilai satu nyawa untuk dijaga kelangsungan hidupnya, tidak memandang muslim maupun non-muslim.  Maka sangat tidak beralasan mengkaitkan terorisme dengan Islam.  Keagungan ajaran Islam telah terbukti selama tiga belas abad lebih, hingga sekarang.  Memberi sikap toleransi dan perlindungan kepada non-muslim dalam beribadah, merupakan salah satu perintah agama. Hal ini bisa kita lihat sejarah penaklukan Palestina oleh Khalifah Umar bin Khattab.  Beliau membiarkan gereja di sana tetap berdiri dan mempersilahkan kaum Nasrani untuk beribadah sesuai aturan agamanya.  Jikalau Islam membenci non- muslim, tentu telah hancur adanya gereja di masa lampau.  

Adapun definisi jihad adalah membela agama Allah di medan perang menghadapi orang-orang Kafir yang memusuhi Islam.  Bukan membunuh orang non-muslim yang berstatus kafir dzimmi (yang tidak memusuhi Islam secara nyata).  Lagi pula negeri ini dalam kondisi tidak perang, jadi salah kaprah jika memakai kekerasan/senjata dalam berdakwah. 

Mungkin adanya kebenaran sulit diungkap dalam dunia fana, yang seumur manusia.  Kebenaran bisa dikatakan salah, sementara yang salah dikatakan benar.  Tetapi sebagai muslim, kita yakin akan ada peradilan yang tidak bisa terelakkan walau tinggi kedudukan dan melimpahnya harta.  Semuanya akan terungkap sejelas-jelasnya.  Baik kebenaran yang tersembunyi maupun keburukan yang disulap menjadi good looking.  Tidak hanya rindu terhadap surga yang berat komitmennya.  Namun ingatlah, adanya pertanggungjawaban akherat juga tidak semudah rekayasa dunia.


Wallahu’alam bishawwab

Posting Komentar untuk "Hujan Teror di Musim Impor"