Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Idul Fitri tanpa Perisai




Oleh: Naila Ahmad Farah Adiba (Santri kelas 7 SMP DKDM, Ponpes Al-Ihsan Baron, Nganjuk-Jawa Timur)

Beberapa waktu yang lalu umat Islam di seluruh negeri menyambut hari raya Idul fitri. Perasaan gembira dan suka cita turut menyertai, meski dalam suasana pandemi, yang seakan tak pernah usai. Meskipun hanya dirumah saja, namun kita masih bisa beribadah dan berlebaran dengan tenang. Bahkan suara gema takbir yang berkumandang masih terdengar. 

Lantas, bagaimana dengan saudara-saudara kita di wilayah lain?

***

Konflik antara Israel dan Palestina kembali membara. Di penghujung bulan Ramadan, sepuluh malam terakhir, saat kita menyibukkan diri dengan memperbanyak ibadah, mengharap turunnya Lailatul Qadar, saudara kita di Palestina dihujani dengan bom dan berbagai serangan brutal oleh Zionis Yahudi. Jangankan sholat dan beribadah dengan tenang, tiap detik diselimuti perasaan was-was. Sebagaimana dilansir dari laman Liputan6 (14/05/2021) menerangkan bahwa selama tiga hari menjelang Idul Fitri jalur Gaza dibombardir serangan bom dari Israel yang tiada henti. Bassem Issa seorang komandan hamas dan anggota senior lainya tewas dalam serangan udara tersebut.

Tidak hanya di Palestina, masih banyak saudara kita sesama muslim seperti Muslim Uyghur di China, Rohingya yang merupakan kaum minoritas, acapkali mendapatkan perlakuan yang keji. Bahkan masjid yang terkenal di Uyghur dihancurkan, ataupun kalau tidak dihancurkan maka akan dialih fungsikan menjadi pasar, atau lain sebagainya. 

Begitu juga berita yang berisi tentang terjadinya revolusi di tanah Suriah dan Palestina, namun bukan hanya konflik revolusi yang terjadi, namun ada masalah yang lebih berat yang membuat mereka disiksa. Bisa kita lihat bagaimana seorang wanita dilecehkan, kemudian dengan gagah berani anak-anak kecil melawan para durjana itu dengan senjata yang tidak memadai. Mereka bahkan dibombardir setiap saat, bahkan saat menjalankan sholat. Kondisi demikian tentu saja semua bangunan dihancurkan termasuk masjid. Lantas, dari mana rasa aman itu mereka akan dapatkan? 

Begitu juga di Kashmir dan Rohingya, mereka disiksa dan diusir dari negara asli mereka. Mereka hidup di perahu-perahu yang sudah rapuh, dan meminta pertolongan dan perlindungan dari negara satu ke negara lainnya. Masjid mereka dibakar, dan kadang mereka pun ikut dibakar. Kemudian, bagaimana mereka hendak berlebaran dengan tenang dan bahagia, sedangkan nyawa mereka sedang dipertaruhkan. 

Dari kejadian diatas, dimana rasa peduli kita sebagai saudara muslim? Bukankah sesama muslim itu laksana satu tubuh seperti yang terdapat di dalam hadits, yang berarti, "Perumpaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, menyayangi ibarat satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya ikut terjaga dan turut merasakan sakit."

Sebagai manusia biasa yang mempunyai hati nurani, tak banyak yang bisa dilakukan selain memberikan doa terbaik dan bantuan kemanusiaan. Meskipun sebenarnya itu tidak ada artinya.

Yang mereka butuhkan saat ini adalah langkah nyata berupa pengiriman tentara atau pasukan yang bisa melumpuhkan penjajah zionis laknatullah. Namun hal ini juga mustahil karena terhalang oleh sekat nasionalisme.

Berbagai bentuk penjajahan maupun kezaliman ini terus terjadi, namun dunia hanya bisa diam. Para pejuang HAM juga terbungkam. Organisasi internasional juga demikian. 

Tidak ada yang mampu menghentikan berbagai bentuk kezaliman dan penghinaan terhadap Islam dan kaum muslimin selain kekuatan adidaya dalam bentuk sebuah negara. Negara yang menerapkan syariat Islam secara kaffah.

Namun, saat ini institusi negara itu tidak ada. Sejak 31 Maret 1924, kekhilafahan Turki Usmani dihancurkan oleh Mustafa Kemal Pasha Laknatullah alaik. Sejak saat itu umat Islam makin terpuruk, tercerai-berai, tak memiliki kekuatan apapun, Seperti buih di lautan. Menjadi santapan para penjajah. 

Oleh karena itu kita sebagai pelajar, generasi muda penyongsong peradaban, seyogyanya turut aktif berjuang dan berdakwah menyerukan kebenaran, memahamkan kepada masyarakat bahwa hanya dengan menerapkan Islam dalan sebuah institusi negara lah kondisi ini akan berubah. Insyaallah keberkahan dari langit dan bumi juga akan kita rasakan. Kesejahteraan dan kemuliaan Islam dan kaum muslimin akan terjaga. Karena negara adalah perisai (junnah) bagi masyarakat.

WaAllahu'alam Bisshowwab

Posting Komentar untuk "Idul Fitri tanpa Perisai"