Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pandemi Semakin Mengancam, Negara Butuh Solusi Islam




Oleh: Nurmilati


Idul Fitri telah usai, masyarakat yang berhasil lolos pulang kampung, kini sudah kembali ke perantauannya. Seperti disampaikan pemerintah sebelumnya, mudik di tengah pandemi dapat berakibat melonjaknya penyebaran Covid-19. Namun, karena sudah menjadi tradisi, masyarakat mengabaikan himbauan pemerintah tersebut.

Satuan Tugas (satgas) Covid-19 menyebut dalam satu pekan terakhir ada kenaikan kasus positif virus korona, baik kasus harian maupun aktif mengalami lonjakan, berdasarkan data harian yang dirilis periode 9-15 Mei mencapai 26.908 kasus, pada 16-22 Mei melonjak menjadi 33.234 kasus. Sementara kasus kematian per 22 Mei mencapai 2,78 persen. 

Prediksi pemerintah akan meningkatnya angka penularan virus pasca mudik terbukti, ditutupnya RSUD Cilacap tersebab puluhan tenaga kesehatan terpapar Covid-19 setelah tracing dan testing pegawai yang berinteraksi dengan 13 ABK Filipina yang terkonfirmasi Covid-19 varian India B.16.17.2, adalah salah satu upaya pemerintah daerah menekan penyebaran virus. 

Mengutip keterangan tertulis Diskominfo Cilacap, Direktur RSUD Cilacap dr. Moch. Ichlas Riyanto mengatakan keputusan ini diambil setelah koordinasi dengan Satuan Tugas Penanganan Covid-19. Keputusan ini dituangkan melalui surat resmi Nomor 445/7203/16.8 tanggal 23 Mei 2021.

Sementara itu, menurut Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji adanya kasus terbaru 13 ABK Filipina terpapar varian corona asal India dan sedang dirawat di RSUD Cilacap mengindikasikan sebaran mutasi virus Corona penyebab Covid-19 varian B1617 terus meningkat di Tanah Air. (22/5).

Selain itu, menurut Kemenkes melalui Jubir vaksinasi Siti Nadia Tarmizi, sejauh ini ada 23 kasus varian B1617 ditemukan di Indonesia, 14 kasus varian B117 asal Inggris dan 2 varian B1351 Afrika Selatan. (22/5).

Namun, berbeda dengan yang dilaporkan pusat penelitian kesehatan global independen di Washington University Amerika Serikat, The Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) menduga angka kasus kematian di Indonesia melebihi data yang dilaporkan pemerintah, IMHE mencatat per 22 Mei 123.533 kasus sementara pemerintah melaporkan 49.205 kasus.

Harus Evaluasi Kebijakan dan Solusi

Kian merebak dan bertambahnya kasus Covid varian baru, di tengah kebijakan pemangku kekuasaan yang berubah-ubah, tebang pilih aturan pelarangan mudik Lebaran, buka tutup tempat pariwisata, berdatangannya Tenaga Kerja Asing ke Indonesia dan beragam kebijakan lainnya yang tidak berpihak pada rakyat, telah memperlihatkan pemerintah terkesan setengah hati menangani wabah yang mengakibatkan semakin menambah panjang penderitaan rakyat.

Seharusnya apabila data menunjukkan kenaikan korban secara signifikan, maka seyogyanya penguasa menilik kembali solusi yang diupayakan selama ini dan segera mengambil langkah tegas untuk mengambil solusi lain yang bisa memecahkan wabah ini.

Maka dari itu, kegagalan pemerintah dalam menyelesaikan wabah ini, semakin memperlihatkan sistem yang diterapkan negara saat ini tidak mampu mengakhiri pandemi yang berkepanjangan, sehingga penanganan yang selama ini diambil pemerintah belum efektif dan minimnya kesadaran masyarakat terhadap protokol kesehatan membuat semakin jumawanya wabah di negara ini.

Maka tidak mengherankan apabila mulai muncul ketidak percayaan masyarakat pada pemerintah, terlebih jika melihat perilaku para pejabatnya yang mempertontonkan pelanggaran kesehatan, namun tidak ada sanksi yang diberikan, berbeda apabila pelanggar protokol kesehatan dari kalangan rakyat atau Ulama, negara sigap menyikapi hal ini, sehingga tak heran jika rakyat pun setengah hati menaati himbauan pemerintah. 

Kesalahan Solusi Sekular

Diterapkannya sistem demokrasi sekular di Indonesia, meniscayakan langkah yang diambil pemerintah dalam menangani wabah ini tidak berbeda dengan negara lain yang menerapkan sistem ini, yakni lebih mementingkan perbaikan ekonomi negara dan investasi daripada harus mendahulukan keselamatan nyawa rakyatnya. 

Sejarah membuktikan, negara mana pun termasuk Indonesia yang menerapkan sistem buatan manusia ini tidak pernah berhasil menyelesaikan masalah hingga ke akarnya, akan tetapi sebaliknya justru solusi yang diambil selalu melahirkan masalah berikutnya, artinya usaha yang diupayakan tidak mampu menyelesaikan permasalahan secara tuntas hingga ke akarnya.

Hal ini terjadi karena di negara yang memakai aturan hidupnya berpijak pada sistem kapitalis sekular, maka dipastikan sudut pandangnya ekonomi yakni lebih mengedepankan sisi materi untuk meraih keuntungan sebanyak mungkin demi memenuhi syahwat dunia pemilik modal yaitu para kapital yang menguasai negara ini. 

Alhasil, dari penerapan sistem rusak ini, rakyat dibiarkan berjuang sendiri melawan dan melindungi diri dari wabah yang kian hari semakin mengancam nyawa. Sementara negara giat dengan perbaikan ekonomi nasional. Apabila seperti ini, lantas kapan pandemi bisa terselesaikan dengan tuntas?

Kembali Pada Islam

Dengan demikian, seharusnya kita segera menyadari bahwa sudut pandang pemerintah saat ini adalah kapitalisme, artinya pemangku kebijakan akan lebih tunduk pada para pemilik modal daripada harus mengurusi dan melayani rakyatnya, lantaran bagi negara rakyat merupakan beban. 

Maka dari itu, seharusnya wabah Covid-19 menyadarkan kita bahwa harus ada evaluasi dengan sistem kapitalis sekular yang terbukti telah gagal mengatasi wabah. 

Lalu solusi apa yang harus diambil agar wabah ini segera berakhir? 

Islam selalu memberikan solusi atas segala masalah begitupula dalam mengatasi wabah. Seperti pernah terjadi pada masa Rosulullah Saw, beliau mengatasi wabah ini dengan menerapkan karantina terhadap penderita di tempat isolasi khusus, tidak mendekati wilayah terdampak wabah, sebaliknya warga yang berada di wilayah tersebut dilarang keluar, memberikan pengobatan maksimal dan pemantauan ketat, penderita boleh meninggalkan tempat isolasi jika dinyatakan sudah sembuh total, peringatan kehati-hatian pada wabah dan membagikan kebutuhan makanan untuk rakyatnya.

Begitulah cara pemimpin Islam menangani wabah, negara memiliki peran sentral untuk menjaga kesehatan dan menyelamatkan nyawa rakyatnya, penguasa menyadari betul betapa rakyat membutuhkan perhatian dan perlindungan optimal dari pemimpinnya karena pemimpin adalah pelayan rakyatnya.

Lantas bagaimana dengan Indonesia yang notabene mayoritas penduduknya beragama Islam, tidak kah ingin mencontoh cara Rasulullah Saw dalam menyelesaikan wabah ini? 

Posting Komentar untuk "Pandemi Semakin Mengancam, Negara Butuh Solusi Islam"