Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Prestise Mereka Untuk Meneror Rakyat, Bukan Untuk Menjamin Keamanannya

 


Setelah bumi berguncang di bawah kaki kaum Muslimin dengan runtuhnya negara Khilafah, kaum Muslim dikontrol oleh kaum kolonialis kafir melalui para anteknya, yaitu para pengkhianat dari para penguasa Ruwaibidhah, yang tidak memelihara hubungan kekerabatan dan tidak pula mengindahkan perjanjian dengan kaum Muslim, maka Anda menemukan mereka bergegas untuk menawarkan persembahan berupa tengkorak kaum Muslim kepada tuan mereka, yaitu kaum kafir Barat, untuk menyenangkannya, dengan harapan kaum kafir Barat memperpanjang periode kerendahan dan kehinaan mereka atas kursinya yang bengkok, di mana benangnya ada di tangan kaum kafir penjajah, yang akan ditariknya kapan saja mereka menginginkannya di saat seorang antek yang mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan kaum Muslim itu sudah tidak dibutuhkan lagi.

Anda menemukan mereka mengabdi pada ketaatan buta kepada kaum kolonialis kafir, dengan penuh kerendahan dan ketundukan sebagai imbalan atas prestise palsu yang mereka pertontonkan di depan rakyat mereka yang tertindas.

Prestise yang mereka raih hanya untuk meneror dan melecehkan rakyat, misalnya, ini sekadarnya saja, dan masih banyak lagi lainnya:

Fira’un Mesir Al-Sisi, yang telah merindukan leluhurnya di antara para Fira’un yang menindas rakyat, di mana ia berjalan mengikuti langkahnya, mengabaikan hukum Allah, dengan mengeksekusi sekelompok putra bangsa, termasuk seorang guru Al-Qur’an berusia 80 tahun, ia sedikitpun tidak memiliki belas kasihan pada uban yang telah menyelumuti kepalanya dan akalnya yang sudah melemah. Semua ini hanyalah setetes darah yang ditumpahkan Al-Sisi secara tidak sah, “dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” (TQS. Asy-Syu’ara [26] : 227).

Adapun tiran Bangladesh, Sheikha Hasina, yang telah masuk begitu jauh ke dalam darah kaum Muslim, dan ia menimpakan seburuk-buruk siksaan pada kaum Muslim dalam penjara yang dihantui kegelapan. Ia dengan cepat memuaskan kaum kolonialis kafir dan membuat perjanjian dengannya untuk tidak menyimpang sedikit pun dari rencana yang dibuatnya untuk memperbudak, merendahkan dan menghancurkan kekuatan kaum Muslim. Kejahatan terakhirnya adalah menghujani para demonstran tak bersenjata yang menuntut hak mereka untuk bisa melakukan shalat tarawih dan berpuasa dengan mengurangi jam kerja di bulan Ramadhan yang diberkati, yang menewaskan sedikitnya lima orang dan melukai puluhan lainnya. Juga menangkap ratusan kaum Muslim yang berpartisipasi dalam aksi penolakan atas kunjungan Perdana Menteri India Modi, yang disambut oleh penjahat Hasina dengan bunga, sementara tangannya berlumuran darah saudara-saudara Muslim kita di Kashmir yang diduduki.

Hasina lupa bahwa suatu hari ia akan diadili di sisi Allah, dan di hari itu ia akan diselumuti kesedihan dan penyesalan, wahai Hasina sadarlah. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari semoga Allah meridhainya, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT akan menangguhkan siksaan bagi orang yang berbuat zalim. Dan apabila Allah telah menghukumnya, maka Dia tidak akan pernah melepaskannya.” Kemudian Rasulullah SAW membaca ayat yang berbunyi: “Begitulah adzab Tuhanmu, apabila Dia mengadzab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya adzab-Nya itu sangat pedih dan keras.” (TQS. Huud (11): 102).

Selanjutnya, saya contohkan rezim brutal Pakistan, yang tidak kalah jahat dan tiraninya dari semua rezim boneka yang dikalungkan pada leher kaum Muslim. Rezim Bajwa-Imran, yang dapat membebaskan Kashmir yang diduduki dan membebaskan kaum Muslim dari cengkeraman Hindu, terutama saat ini, di mana negara Hindu ini sedang mengalami salah satu krisis terburuk dalam sejarahnya di tingkat strategis, juga Modi tengah menghadapi kemarahan publik yang intens, karena ekspor vaksin dan oksigen, sementara rakyatnya mengeluhkan kekurangan keduanya, sehubungan dengan pandemi Corona. Meskipun demikian, rezim kriminal Pakistan lalai menolong Kashmir, sebaliknya ia justru merespon perintah Biden.

Juga, bukan rahasia lagi bagi siapa pun yang memiliki visi tentang pelecehan brutal rezim Pakistan terhadap kaum Muslim pada umumnya, dan para pengemban dakwah untuk tegaknya Khilafah pada khususnya. Dalam hal ini, kami menyebutkan di antara syabab (aktivis) teraik, singga di antara singa-singan Hizbut Tahrir, yaitu juru bicara resmi Hizbut Tahrir, wilayah Pakistan, Naveed Butt, semoga Allah melepaskan penahanannya dan melapangkan kesulitannya, di mana ia diculik oleh agen rezim Kayani-Zardari, pada 11 Mei 2012, hampir sembilan bertahun-tahun yang lalu, namun sejauh ini tidak ada penyelesaian apapun selain semakin mengungkap pengkhianatan para penguasa dan keberadaannya sebagai antek kaum kolonialis kafir, serta pemusuhannya terhadap seruan pada kaum Muslim untuk berjuang demi menerapkan hukum Allah, dan menegakkan negara kebenaran, yaitu Khilafah Rasyidah kedua ‘ala minhājin nubuwah.

Sembilan tahun penuh penindasan telah berlalu untuk saudara kita yang terhormat dalam gelapnya penjara Pakistan. Sembilan tahun telah berubah wajah para penguasa Pakistan, namun penindasan, penyiksaan, penganiayaan dan penculikan rezim terhadap kaum Muslim belum juga berubah.

Kami memohon kepada Allah untuk melepaskan penahanannya, dan mengeluarkannya dari sel-sel tiran, sebagaimana Nabi Yusuf ‘alaihis salam dikeluarkan dari penjaranya, serta dimuliakannya dengan kemenangan dan diberinya kekuasaan. Allahumma āmīn!

Inilah prestise para penguasa tirani, prestise dengan meneror dan mengintimidasi kaum Miuslim, dan kondisinya akan tetap demikian selama berada di dalam sistem positif yang diterapkan pada kami ini, sampai Allah mengizinkan kemenangan-Nya, sehingga membalik kursi para penguasa yang ada di atas kepala mereka, serta menggoncang bumi di bawah kaki mereka, dan kaki tuan mereka, yaitu kaum kafir Barat.

Allahu Akbar (Allah Maha Besar)! Allahu Akbar (Allah Maha Besar)! Benteng mereka akan dihancurkan dan diluluhlantakkan oleh tentara kaum Muslim di belakang Khalifah cerdas dan bijak, yang prestisenya adalah dengan menjamin keamanan rakyat, bukan dengan meneror mereka. Dengan demikian, kami akan terlindungi oleh negara kami, Khilafah Rasyidah kedua ‘ala minhājin nubuwah, dan kami akan dijaga oleh Khalifah kami, sehingga bumi bersinar dengan cahaya Islam, yang menyenangkan penghuni bumi dan langit, lalu kita kembali sebagaimana dulu, yaitu bersikap lemah lembut terhadap orang-orang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, “dan mereka berkata: ‘Kapan itu akan terjadi?’ Katakan, ‘Barangkali waktunya sudah dekat’.” (TQS. Al-Isrā’ [17] : 51).

Semoga Allah meridhai Umar Al-Fārūq ketika dia berkata: “Prestise penguasa bukanlah untuk meneror rakyat, tetapi untuk menjamin keamanan mereka, menghentikan penindas, dan mengambil hak untuk yang lemah, sehingga yang kuat dicegah, yang lemah diamankan, rakyat berlingdung pada negara, bukan lari meninggalkannya; mereka mempertahankan pemimpin mereka yang kuat dan adil, untuk melindungi diri mereka dengannya. Selain itu semua hanyalah kebinasaan bersama penguasa dan rakyat.”

Demi kehormatan dan kebaikan ini, hendaklah para pejuang berjuang bersama dengan sang pionir yang tidak membohongi pengikutnya, yaitu Hizbut Tahrir. Marilah kita berjuang bersama dengan orang-orang mukhlis, yang telah mengabdikan hidupnya hanya untuk keridhaan Allah, dan berusaha untuk menerapkan hukum-Nya, sedang matanya merindukan kemenangan zaman dahulu, Khilafah Rasyidah ‘ala minhājin nubuwah, “Dan di hari (kemenangan) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Maha Perkasa lagi Penyayang.” (TQS. Ar-Rūm [30] : 4-5). []

Sumber: alraiah.net, 12/05/2021.

Posting Komentar untuk "Prestise Mereka Untuk Meneror Rakyat, Bukan Untuk Menjamin Keamanannya"