Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Fasilitas Mewah Isoman Pejabat, Rakyat Kian Sekarat




Oleh: Afiyah Rasyad (Aktivis Peduli Umat, Sahabat Visi Muslim Media)

Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Peribahasa ini begitu klop dengan kondisi rakyat yang makin hari makin menderita. Di tengah wabah melanda, fasilitas kesehatan tak mampu menjangkau semuanya. Kebijakan yang diterapkan seakan hanya berpihak pada yang punya harta dan tahta. Urusan rakyat bukanlah prioritas utama.

Sudah tersebar ke seantero dunia, kasus posotif covid-19 negeri ini sedang tinggi-tingginya. Rumah sakit dan fasilitas kesehatan di berbagai wilayah sudah full oleh pasien positif korona. Bahkan, kabar wafatnya rakyat isoman juga memenuhi beranda.

Tak dimungkiri, kondisi ekonomi begitu membelit rakyat karena penerapan kebijakan PPKM. Namun mirisnya, terbit kabar terkait fasilitas mewah isoman pejabat di hotel berbintang. Kali ini, fasilitas mewah itu ditujukan untuk anggota DPR, para staf, dan tenaga ahli yang terpapar covid-19 dengan gejala ringan maupun yang tidak bergejala.

Sebagaimana dilansir Liputan6.com, penyediaan hotel Isoman bagi anggota DPR berdasarkan Surat Edaran (SE) Dirjen Perbendaharaan Negara No. 308/2020 dan SE Dirjen Perbendaharaan Negara No. 369/2020 (28/07/2021). 

Meski biaya penyediaan fasilitas hotel untuk isoman tersebut diambil dari anggaran perjalanan dinas anggota DPR ke luar negeri sebagaimana diberitakan Liputan6.com, (27/07/2021). Sungguh, fasilitas mewah isoman pejabat kian mengiris hati rakyat. Hidup rakyat yang telah lama menderita, kina kian sekarat.

Sungguh miris, tak seharusnya para pejabat, dalam hal ini anggota dewan menikmati fasilitas mewah. Sebagai wakil rakyat, mereka seharusnya memikirkan kesejahteraan rakyat. Selain itu, anggota dewan selayaknya menjadi perpanjangan sumbangsih kritik saran dari rakyat pada pemerintah mengenai kebijakan yang belaku.

Keadaan wabah yang tampak kian tak terkendali memberi pengaruh pada seluruh rakyat. Wabil khusus, rakyat kecil yang harus tetap keluar rumah demi memenuhi sesuap nasi keluarga. Mereka keluar dengan kecamuk rasa tak percaya dan intaian virus korona yang nyata.

Rakyat berkeliaran dengan kelonggaran prokes demi memenuhi hajat hidupnya. Sementara negara seakan tutup mata pada kondisi yang ada. Laju ekonomi seakan lebih utama dari urusan nyawa. Para pemimpin dan pejabat seakan menanggalkan empati yang dimiliki. Justru rakyatlah yang inisiatif saling membantu bagi tetangganya yang isoman. Seperti yang dilakukan oleh Komunitas Bersama Untuk Warga yang membagikan bantuan berupa makanan, sembako, dan alat kesehatan bagi masyarakat yang terdampak pandemi covid-19 (sindonews.com, 08/07/2021).

Selain hilangnya empati, sepertinya rasa malu juga telah pergi. Swadaya komunitas atau masyarakat dalam membantu pasien isoman seharusnya membuat pemimpin dan pejabat malu. Namun faktanya, fasilitas mewah nan eksklusif isoman yang disediakan kepada anggota DPR dinikmati. Padahal, dana itu bisa dialihkan kepada rakyat untuk menambah paket kebutuhan pokok. Tak sedikit rakyat yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya selama masa pandemi, khususnya saat PPKM ini. 

Beginilah kapitalisme membuat sekat si kaya dan si miskin berbeda dari alur asas manfaat. Selain itu, kapitalisme menancapkan rasa individualisme pada jiwa pejabat agar lepas tangan dalam mengurusi rakyat. Hal ini sungguh semakin membuat rakyat sekarat.

Bertolak belakang dengan kapitalisme. Pemimpin dan pejabat dalam Islam akan amanah dan peka terhadap urusan rakyat. Para pemimpin menjalankan tanggung jawabnya dengan penuh kesungguhan karena dorongan m keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Mereka sadar kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh di hari penghisaban.

Sebutlah Khalifah Umar bin Khaththab ra. yang begitu besar rasa empatinya terhadap rakyat. Beliau tak pernah lelah mengontrol kondisi semua rakyatnya. Pagi, siang, bahkan malam, pikiran beliau hanya tertuju pada kesejahteraan rakyat. Telah masyhur kisah beliau di suatu malam yang memanggul bahan makanan ke rumah seorang janda dengan dua anaknya. Bahkan, beliau memasakkan sendiri dengan tangan beliau makanan itu.

Khalufah Umar begitu takut dengan hisab Allah. Beliau tidak memanfaatkan jabatan untuk kehidupan pribadinya. Beliau rela tidak makan sampau mengetahui rakyatnya sudah makan ketika musim kelaparan.

Tak ada fasilitas mewah untuk pejabat yang membuat rakyat kian sekarat. Islam justru memanusiakan manusia, menjaga nyawa, dan mewajibkan negara menyejahterakan rakyatnya. Saatnya kaum muslim kembali pada tatanan syariat Islam yang paripurna.

Wallahu a'lam bishowab 

Posting Komentar untuk "Fasilitas Mewah Isoman Pejabat, Rakyat Kian Sekarat"