Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Covid Luar Jawa Melonjak, Negeri Minim Antisipasi

Ilustrasi


Oleh: Fatimah Azzahra, S. Pd

"Ketika Anda menerima peran kepemimpinan, Anda mengambil tanggung jawab ekstra untuk tindakan Anda terhadap orang lain. " - Kelly Armstrong 

Begitu berat tanggungjawab sebagai pemimpin. Bukan hanya tindak tanduknya yang menjadi sorotan tapi seluruh jajaran yang menopangnya pun ikut dievaluasi. Maka, wajar jika publik pun mempertanyakan seluruh kebijakan yang dikeluarkan. 

Ledakan Kasus Covid Luar Jawa-Bali

Pulau Jawa-Bali jadi sentra pandemi negeri ini. Rekor pasien pun sempat tembus beberapa kali. Bahkan, luar negeri sempat menyebut Indonesia sebagai negara dengan kondisi pandemi terburuk. Padahal, itu baru kondisi kewalahan di pulau Jawa-Bali diantara beribu pulau negeri ini. 

Yang tak diinginkan pun datang, Presiden Jokowi menyampaikan ada lima provinsi di luar Pulau Jawa-Bali yang mengalami kenaikan kasus Covid-19 cukup tinggi yaitu Kalimantan Timur (Kaltim), Sumatera Utara (Sumut) Papua, Sumatera Barat (Sumbar) dan Kepulauan Riau. (Sindonews.com, 8/8/2021)

Data pada Kamis, 5 Agustus 2021, untuk provinsi Kaltim, kasus aktif yang ada 22.529 kasus, Papua 14.989 kasus. Pada Jum'at, 6 Agustus 2021, Sumut tercatat naik menjadi 22.892 kasus, Kepulauan Riau 14.993 kasus, Sumbar 14.712 kasus. (Kompas.com, 8/8/2021)

Mungkin hanya terlihat sebagai data di atas kertas, tapi sejatinya itu adalah urusan nyawa manusia. Pertarungan antara hidup dan mati. Apalagi fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan di luar Pulau Jawa-Balu sudah menjadi rahasia umum kualitas dan kuantitasnya tak sama. Bahkan, bisa dibilang kurang dan minim. 

Belum lagi kesiapan masyarakatnya. Di pulau Jawa- Bali saja masih banyak konflik yang terjadi padahal informasi lebih mudah diakses, apalagi di luar pulau Jawa-Bali. Wajar jika publik mempertanyakan mengapa tidak ada antisipasi? Mengapa tidak belajar dari ledakan kasus di Jawa-Bali? 

Salah Orientasi, Minim Antisipasi

Sudah menjadi pandangan yang jelas terlihat bahwa pemerintah memprioritaskan kepentingan ekonomi meski negeri tengah bertarung dengan pandemi. Sehingga lockdown pun menjadi kebijakan yang dihindari. Pemerintah berusaha tetap menggerakkan roda perekonomian meski rakyat sedang pesakitan. 

Pembatasan aktivitas yang berubah-ubah namanya hanya fokus pada Jawa-Bali. Sementara, di luarnya, TKA bahkan bebas melenggang dengan alasan tidak ada pembatasan seperti di Jawa-Bali. Padahal, itu menjadi salah satu pintu masuk virus. Langsung diimpor oleh para tenaga kerja asing. 

Ledakan kasus covid di luar pulau Jawa-Bali sebenarnya sudah diprediksi oleh para ahli karena pemerintah tak bersungguh-sungguh menghentikan pandemi ini. Apalagi saat ledakan kasus di pulau Jawa-Bali terjadi, pemerintah masih enggan melakukan lockdown. Wajarlah jika virus masih menyebar ke pulau lainnya. 

Walau sudah diprediksi tapi negeri ini tak terlihat mengantisipasi. Menyerahkan nasib rakyat pada rakyat sendiri dan hukum alam yang berlaku. Inilah derita kita dalam sistem kapitalisme. Pemerintah antara ada dan tiada. Wujudnya ada tapi tak terasa perannya dalam meri'ayah rakyatnya. 

Islam Hadir Selamatkan Rakyat

Hal ini sangat berbeda dengan sistem Islam. Orientasi akhirat dan keimanan yang menghujam menjadi koridor dalam bertindak. Maka, setiap kebijakan yang lahir pun fokus pada rida Allah dan mengabdi pada rakyat. 

Masalah pandemi adalah masalah kesehatan, sehingga kesehatan lah yang jadi prioritas negara dalam menyelesaikan permasalahan. Sementara masalah ekonomi insyaallah akan diselesaikan dengan kas baitul mal yang memiliki pos pemasukan yang banyak dan sesuai syariat. 

Lockdown pun tak akan berat dilakukan karena fokus pemerintah adalah menyelamatkan rakyat. Di sisi lain, pemerintah pun mendorong dan memfasilitasi penelitian demi berakhirnya pandemi virus ini. Pengadaan riset, produksi obat, vaksin, alat yang mendukung terselesaikannya pandemi akan ditopang oleh negara. 

Semua dilakukan tanpa ada kata sayang mengeluarkan dana demi rakyat. Karena sejatinya pemerintah dalam islam bertanggungjawab penuh atas rakyatnya. Allah akan meminta pertanggungjawaban rakyat per kepala kepada para penguasanya. Allah pun titipkan kekayaan alam yang melimpah agar negara bisa meri'ayah rakyat dengan sistem Islam yang sempurna. 

Masihkah kita berharap pada sistem yang abai dan lalai ini? Sudah saatnya kita kembali pada Islam yang sempurna. Islam yang selamat dan menyelamatkan semuanya. 

Wallahua'lam bish shawab. 

Posting Komentar untuk "Covid Luar Jawa Melonjak, Negeri Minim Antisipasi"