Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sampai Kapan Demokrasi Akan Terus Menghina Islam?

Ilustrasi


Oleh: Abu Mush'ab Al Fatih Bala (Penulis Nasional dan Pemerhati Politik Asal NTT)

"Jadi fix ya ini bendera teroris", vonis si AJ kepada Ar Rayah, Bendera Rasulullah SAW. Bendera kemenangan umat Islam. Bendera yang dicintai segenap umat.

Pada kesempatan yang lain si A berkata lantang, " Jangan mau dibodohi dengan Qur'an Surat Al Maidah ayat 51." Yang ini keluar dari lisan dan hatinya yang anti Islam. Belum lagi ditambah pelecehan-pelecehan oleh pembenci Islam lainnya. Seperti Adzan yang dijadikan lagu berinstrumen piano.

Gerakan shalat yang dijadikan gerakan dance atau disko. Ucapan selamat terhadap agama Baha'i yang jelas-jelas sengaja dirancang untuk menghancurkan Islam. Baha'i mengurangi jumlah raka'at shalat wajib dan memiliki keyakinan bahwa Al Qur'an telah dihapus.

Yang terakhir adalah kemunculan M Kece yang bebas menghina Islam di medsos. Diduga merasa dibeking oleh sistem dan orang kuat, dia seenaknya mencaci maki Islam. Belajar dari para pendahulunya, yang aman-aman saja setelah menghina Islam.

Itulah kejadian-kejadian anti Islam yang terjadi karena demokrasi. Demokrasi menciptakan orang-orang yang berani menghina dan melecehkan Islam. Hanya karena dalih kebebasan, mereka sepuasnya menyerang Islam.

Bukankah demokrasi itu artinya kebebasan berpendapat dan berekspresi bagi siapa saja? Hak bagi setiap orang untuk berkeyakinan dan mengutarakan pemikiran mereka dan tidak boleh dibatasi. Walaupun itu menyakitkan bagi Umat Islam.

Sedangkan di satu sisi, Umat Islam tidak dibebaskan untuk menyuarakan Islam. Ketika mereka ingin menerapkan Islam (Sistem atau Syariat Islam) mereka dituduh anti keberagaman, tidak toleran, garis keras dan radikal. Padahal harusnya logis kalau Umat Islam vokal membicarakan Islam.

Harusnya demokrasi memfasilitasi penuh aspirasi umat Islam ini. Jika umat menginginkan Sistem Islam Kaffah tegak harusnya dibiarkan saja. Toh itu sesuai prinsip demokrasi: suara mayoritas mewakili suara rakyat.

Pemerintahan adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Namun faktanya perjuangan Umat Islam selalu dikandaskan demokrasi. Bahkan demokrasi mencegah Islam berkuasa penuh.

FIS di Aljazair dan Ikhwanul Muslimin di Mesir adalah contoh bagaimana ketika Islam memenangi pemilu malah digagalkan oleh kekuatan demokrasi itu sendiri. Bahkan banyak fakta menunjukkan bahwa perubahan itu malah di luar sistem.

Perubahan ini malah menjadi model pembangunan peradaban bagi dunia. Contoh Revolusi Prancis yang merubah sistem kerajaan menjadi sistem republik, parlementer, dll. Itu perubahan esktra sistem yang tidak bisa dibendung Eropa.

Contoh lain lagi adalah munculnya Khilafah atau Daulah Islam sejak masa Rasulullah SAW menjadi model pemerintahan modern yang diakui kontribusinya bagi peradaban dunia. Arab Spring atau musim semi di Arab menjadi contoh yang sangat kasat mata.

Perubahan itu terjadi diluar sistem demokrasi. Bahkan Taliban mampu menguasai Afganistan tanpa pemilu. Terlepas dari ada tidaknya hubungan Taliban dengan AS atau China.

Demokrasi hanya merintangi sistem Islam. Demokrasi hanya menimbulkan kegaduhan dan kesusahan bagi Kaum Muslimin. Seperti misalnya akibat demokrasi, semakin banyak orang yang pengangguran, angka korupsi tinggi dan pandemi covid-19 tak bisa diselesaikan.

Sumber daya Alam dikuasai kapitalis. 50 orang terkaya di Indonesia memiliki kekayaan setara Rp.1.700 Trilyun. Demokrasi juga menyebabkan eksploitasi kepada pihak perempuan.

Dengan dalih emansipasi, perempuan dipaksa bekerja di luar rumah. Akibatnya banyak perempuan sering mendapatkan perlakuan yang tidak baik. Dimanfaatkan sisi seksualitasnya.

Sedangkan peran perempuan sebagai ummu warabbatun bait (Ibu dan Pengurus Rumah tangga) malah dipinggirkan. 

Ini berbeda ketika Islam diterapkan dalam sebuah peradaban. Ketika bukan demokrasi yang dipakai, Umat Islam terjaga akidahnya. Kekayaan merata dan warga Non Muslim hidup aman dan rukun. Itulah Khilafah sebuah sistem yang akan tegak lagi sesuai janji Allah SWT dan Rasulullah SAW. Khilafah akan menjadi sistem alternatif yang akan membebaskan manusia dari segala keterpurukan. []

Bumi Allah SWT, 24 Agustus 2021

#DenganPenaMembelahDunia

#SeranganPertamaKeRomaAdalahTulisan 

Posting Komentar untuk "Sampai Kapan Demokrasi Akan Terus Menghina Islam?"