Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Gaji Guru Terharu Tanpa Islam




Oleh: Siti Aisah (Penggiat Literasi Persembahan Terbaik Subang)


Salah satu profesi mulia dan tak pernah putus hingga ajal menjemput adalah guru. Profesi ini berjibaku sekuat tenaga demi menyiapkan generasi yang terdidik dalam membangun bangsa. Naasnya saat ini pahlawan tanpa tanda jasa itu nasibnya makin terharu. Pada faktanya, nasib mereka semakin tidak karuan, angin segar akan pengangkatan menjadi seorang ASN memberi secercah harapan. Tapi ini tidak berlaku untuk semua kalangan. Hanya orang-orang tertentu yang memiliki persyaratan ataupun kemampuan spesifikasi.

Pemerintah pun berkeinginan untuk memperbaiki kualitas pendidikan dengan meningkatkan gaji dari para guru-guru. Namun sayangnya syarat dan ketentuannya itu tidak berlaku bagi guru honorer pada umumnya. Perlu ditekankan pula antara guru honorer dan guru yang berstatus ASN ini tidak ada perbedaan. Mereka berkewajiban mengabdi dan menyiapkan generasi penerus peradaban guna memiliki intelektual dan ketakwaan yang selaras dalam membangun bangsa. 

Kesejahteraan terhadap guru honorer yang kerap terkatung-katung tidak jelas, memberi kesan tersendiri bahwa bangsa ini abai terhadap guru. Hingga ini menjadi alasan tersendiri kenapa bangsa ini sulit untuk beralih dari berkembang menjadi maju. Hal ini bisa dilihat dari seberapa kualitas generasi penerusnya yang mencetak sumber daya manusia unggulan. Selanjutnya dilihat pula bagaimana negara mengapresiasi profesi seorang guru. Sehingga, demi menjaga kualitas, generasi terbaik. Hingga selaras dengan upaya kesejahteraan para guru.


Tahun 2018 pernah terjadinya demo guru honorer yang berasal dari 34 provinsi di negeri ini. Mereka melakukan aksi turun ke jalan demi memperbaiki nasibnya kelak dengan harapan diangkatnya sebagai pegawai negeri sipil. Pada saat itu mereka mendapatkan gaji yang jauh dari kata layak bahkan terharu. Beberapa diantaranya didapati hanya mendapatkan gaji 400-500rb/bulan, yang sungguh memprihatinkan di tengah harga yang terus melambung. 

Biaya hidup yang melampaui gaji yang diterima, membuat para guru itu menyambi kerja lainnya demi membuat dapur tetap berasap. Ada yang berprofesi sebagai tukang ojek hingga calo siswa yang akan masuk ke sekolah tempat dia mengajar. Biaya hidup yang kian tak terjangkau, bisa menjadi celah adanya riswah ataupun mafia sekolah dalam menentukan nilai-nilai para murid. Naas, pendapatan sejumlah itu jelas tak sebanding. Hingga ketika ada yang benar-benar mengabdi untuk mencerdaskan generasi, ia tidak mampu berdiri kokoh karena goyahnya pohon Kapitalisme yang menanggap sekolah adalah ladang untung-rugi. 

Dalam sistem Kapitalisme yang bertolak ukur materi, menganggap bahwa sekolah yang bagus adalah sekolah mahal. Orang tua yang bisa memberikan tip lebih maka akan mudah mengganti guru-guru untuk anaknya sesuai dengan pilihan. Guru bak petugas yang melakukan transfer ilmu. Jika pemindaiannya ini berlangsung lancar, maka ia bak mendapat reward atas kerja kerasnya itu.

Inilah potret guru saat ini. Banyak dikalangan mereka yang kehilangan identitasnya. Mereka membagi waktunya untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan juga mengajar sekedar transfer ilmu saja, tanpa ada pengayoman selayaknya seorang guru terhadap muridnya. Dari sinilah idealisme itu pun hilang tak berbekas. 

Pada masa kepemimpinan Islam, kesejahteraan guru dijamin oleh negara. Hal ini disebabkan pilar penting dalam mewujudkan wajah peradaban di masa mendatang ada dipundak guru. Dengan demikian jika gurunya tak sejahtera, maka bagaimana mungkin mereka dapat fokus mendedikasikan dirinya di sekolah. Sementara perut kosong menghantui benak mereka.

Kesejahteraan guru saat Islam menjadi sebuah sistem sudah tercatat dalam tinta peradaban. Pada masa Khalifah Umar bin Khatab, gaji satu orang guru adalah 15 Dinar atau setara dengan Rp 33.870.000,. Jika dikonversikan 1 dinar sama dengan 4,25 gram emas. Sedangkan 1 dinar setara dengan Rp 2.258.000,-. 

Inilah gambaran gaji guru saat islam diterapkan sebagai institusi pemerintahan (baca : khilafah). Sistem ini akan mengapresiasi pada guru-guru pencetak peradaban. Sistem ini pun akan membuat guru sejahtera, sehingga bisa mencetak generasi berkualitas. Tengok sejarah peradaban Islam yang menelurkan para intelektual dan cendikiawan bertaqwa yang lahir di era kejayaan Islam. Salah satu contohnya adalah Ibnu Rusydi yang menguasai berbagai ilmu fikih, ilmu kalam, sastra Arab, hingga ia mahir dalam bidang matematika, fisika, astronomi, kedokteran, dan filsafat. 

Ulama besar yang berpengaruh Al-Ghazali yang menulis buku Ihya Ulumuddin, yakni membahas masalah-masalah ilmu akidah, ibadah, akhlak, dan tasawuf berdasarkan Alquran dan Hadis. Selain itu ada tokoh Intelektual Al-Farabi yang menekuni berbagai bidang ilmu pengetahuan yaitu logika, musik, kemiliteran, metafisika, ilmu alam, teologi, dan astronomi. Dan masih banyak cendikiawan muslim yang lain yang lahir dari rahim peradaban Islam.

Ini menjadi bukti bahwa tanpa khilafah gaji guru makin terharu. Generasi berkualitas akan lahir dari sistem ini. Sistem ini pun diperkuat oleh dua faktor yaitu, sistem pendidikan yang berkualitas dan guru yang tersejahterakan dari sisi kualitas kehidupannya terjamin. Dengan demikian ini menjadi penting dan merupakan bentuk dari apresiasi terhadap jasa-jasanya. Hal ini pun sebagai wujud pemeliharaan negara terhadap masyarakat. Hal ini karena mereka memiliki jasa penting dalam membangun sebuah peradaban bangsa.

Salah satu cara mewujudkan tuntutan guru mendapatkan gaji yang pantas bukan hal tersulit bagi negara. Hal ini jika negara mampu mengelola sumberdaya alamnya dengan baik dan benar. Hasil dari semua itu akan dikembalikan kepada rakyat. Sehingga kesejahteraan kepada para guru baik itu honorer ataupun ASN bisa tercapai. Dan sudah saatnya pemerintah melakukan muhasabah diri dalam memikirkan bagaimana rakyat kedepannya dan itu adalah amanah bagi pemimpin bangsa, hingga tak perlu menghiraukan bagaimana membayar gaji guru karena sistem pengelolaan sumber daya alamnya yaitu sistem ekonominya berbasis Islam. Sudah selayaknya pemerintah memikirkan nasib rakyat yang menjadi amanah atasnya, bukan malah sibuk memperhatikan kesejahteraan asing dan asing. 


Wallahu'alam bishshawwab 

Posting Komentar untuk "Gaji Guru Terharu Tanpa Islam"