Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kala Garuda Terancam Tak Bisa Mengudara




Oleh: Afiyah Rasyad (Aktivis Peduli Ummat)


"Pesawatku terbang ke bulan."


Lirik lagu di atas hanyalah angan semata. Faktanya, pesawat terbaik negeri ini sedang bermuram durja. Maskapai penerbangan kebanggaan bangsa ini terancam tak bisa lagi mengudara. Kelesuan usaha tatkala roda bisnis tak memperoleh laba, justru kerugian terus menyapa. 

Lagi-lagi utang menjadi penyebab kegaduhan pada Garuda Indonesia. Hal itu diperkuat oleh pernyataan Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Irfan Setiaputra. Dia buka suara bahwa Garuda Indonesia memang tengah menghadapi situasi sulit karena menumpuknya utang. Oleh sebab itu, dilakukan restrukturisasi utang dan restrukturisasi operasional untuk kembali menyehatkan perusahaan. (Kompas.com, 27/10/21).

Kegaduhan keuangan Garuda Indonesia kian parah. Penerbangan pun tak tentu arah. Apalagi ada penyelewangan dalam internal kepengurusan masakapai itu. Sebagaimana diberitakan Tempo.co, Serikat Karyawan Garuda Indonesia (Sekarga) melaporkan Direktur Utama PT Garuda indonesia, Irfan Setiaputra ke Menteri BUMN Erick Thohir. Dirut dilaporkan karena dia den keluarganya menggunakan fasilitas perusahaan saat liburan ke Amerika dan Eropa selama 10 hari (27/10/2021).

Keserakahan dan Kelalaian Buah Kapitalisme

Tak dimungkiri, hampir seluruh negara di dunia ini menerapkan sistem kapitalisme, termasuk Indonesia. Di mana asas manfaat atau keuntungan dijadikan landasan utama. Sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan semakin mendukung kebarbaran ekonomi tanpa memperhatikan aturan Sang Mahakuasa. Maka, keserakahan akan harta dan kelalaian akan amanah kian merajalela.

Kekeliruan dalam pengelolaan keuangan tentu menjadi faktor utama sebuah usaha terlilit utang. Termasuk yang menimpa Garuda Indonesia saat ini adalah belitan utang. Maskapai penerbangan kebanggaan memiliki utang triliunan menjadi aib yang memalukan. Padahal, khalayak tahu, Garuda Indonesia menawarkan pelayanan premium yang prima dengan tarif tinggi.

Akhirnya berbagai pertanyaan muncul sendiri. Siapa nanti yang bisa mengcover utang ini? Sementara perusahaan penerbangan terbesar itu sudah dilanda kerugian tiada henti. Jika negara yang akan menanggung, rasanya negara tak sanggup juga mengatasi. Pasalnya, utang negara pun menggunung tinggi tak bisa didaki.  

Usahan rekonstruksi yang dijadikan solusi memang baik. Namun, jika keserakahan dan kelalaian dalam mengurus perusahaan masih mengintai, apalagi sistem kapitalisme yang mendorongnya masih digunakan sebagai aturan, maka rekonstruksi seperti apa pun akan menjumpai kebuntuan. Ujung-ujungnya, mungkin saja Garuda Indonesia akan dijual. Tentu bukan orang yang mempu membeli tiket kelas ekonominya yang akan membeli perusahaan, melainkan orang yang punya modal.

Kapitalisme akan terus memunculkan keserakahan dan kelalaian dalam mengurusi urusan publik. Negara pun enggan berpikir solutif untuk menyelamatkan usaha milik negara yang kian terpuruk karena kerugian menumpuk. Bahkan, kesejahteraan rakyat pun enggan diurusi karena dianggap beban. Jika demikian, Garuda benar-benar terancam tak bisa mengudara. Negeri ini pun tak lagi memiliki maskapai penerbangan.

Peran Negara dalam Menjamin Sarana Umum

Berbeda dengan kapitalisme, sistem Islam mendorong negara untuk menjamin sarana umum, salah satunya sarana transportasi. Penerbangan merupakan salah satu sarana transportasi via udara. Penerbangan juga termasuk aset strategis yang harus dikelola negara dengan pembiayaan dari Baitul Mal. Seluruh biaya pembangunan, pengadaan alat transportasi, dan perawatannya sepenuhnya dibiayai negara. Sementara, pemanfaatannya sepenuhnya untuk rakyat. Kalaupun nanti rakyat akan dikenakan tarif, maka akan sangat murah sebagai ongkos produksi saja.

Dengan sistem Islam, negara benar-benar hadir memelihara urusan rakyat. Pembiayaan negara diambil dari Baitul Mal yang berasal dari beberapa pos pendapatan. Pos kepemilikan umum berasal dari sumber daya alam ataupun harta milik umum lainnya yang dikelola negara dan akan didistribusikan pada rakyat. Sementara pos pendapatan negara berasal dari fai', jizyah, khoroj, luqothoh, harta orang murtad, harta tak bertuan, taupun zakat. Namun, khusus zakat tidak dialokasikan untuk infrastruktur sedikit pun. Zakat hanya akan dibagikan kepada delapan ashnaf sesuai yang termaktub dalam Al-Qur'an.

Dengan pendapatan yang melimpah, maka negara akan benar-benar menjamin sarana transportasi bagi rakyat, menjaga keamanan dan kenyamanan selama perjalanan. Tak hanya itu, negara akan berupaya memanfaatkan SDA sebagai bahan bakar pesawat, sehingga negara mampu memenuhi pasokan afturnya sendiri. Bahkan, negara akan mendorong ilmuwan muslim sebagai untuk merakit pesawat sendiri. 

Teringat Abbas ibnu Firnas, seorang ilmuwan muslim.abad ke-8 masehi yang menemukan cikal bakal pesawat. Apalagi di amsa modern seperti sekarang ini, sungguh negara yang menerapkan syariat Islam akan mudah memobilisasi ilmuwan muslim dan membiayainya untuk membuat pesawat.

Tak sembarang negara yang mampu seperti itu. Hanya negara Islamlah (Khilafah) yang bisa mewujudkan sarana transportasi yang mandiri. Khilafah akan menindak tegas orang yang serakah. Jika berharap Garuda masih bisa mengudara, saatnya pemimpin muslim berpikir secara cemerlang untuk mencampakkan sistem kapitalisme dan menggantinya dengan sistem Islam dalam seluruh aspek kehidupan. 


Wallahu a'lam bishawab. 

Posting Komentar untuk "Kala Garuda Terancam Tak Bisa Mengudara"

close