Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ketika Junnah itu Hilang, Gerimis Turun Seolah Badai




Oleh: Rut Sri Wahyuningsih (Institut Literasi dan Peradaban)


Fakta non Muslim makin rendahkan kehormatan Islam kini tak terelakkan, seakan Islam dan penganutnya adalah trouble maker di muka bumi ini. Seperti yang baru-baru ini terjadi, sejumlah media asing tampak menyoroti suara azan di DKI Jakarta yang dianggap berisik. Sontak saja hal itu tak bisa diterima, hingga akhirnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) angkat bicara. Menurut keterangan Sekretaris Jendral Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buya Amirsyah Tambunan ia sangat menyayangkan pemberitaan tersebut. sebab sudah ada pengaturan pengeras suara Masjid seperti yang disampaikan oleh Dewan Masjid Indonesia (DMI). 

Media asing itu adalah AFP yang telah melaporkan salah satu warga Jakarta, bangun tiap pukul 03.00 pagi karena pengeras suara yang begitu keras dari masjid di pinggiran Jakarta saat adan berkumandang. Media lokal Prancis, RFI, juga turut melaporkan hal serupa. Menurut laporannya, keluhan soal pengeras suara yang bising semakin meningkat di media sosial. Suara azan memang beberapa kali sempat jadi sorotan di sejumlah negara, mulai dari banyak yang risih, sampai ada yang memparodikannya jadi lelucon.

Beberapa waktu lalu, pogram televisi di Korea Selatan melalukan remix terhadap potongan adzan, aksi ini pun menuai protes keras dari warganet dunia. Anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Mukti Ali Qusyairi, mengatakan adzan merupakan kalimat sakral karena terdapat kalimat jalalah yang menganggungkan Allah SWT (poskota.co.id, 15/10/2021). 

Meskipun adzan adalah kalimat sakral, nyatanya tak membuat gentar kaum kufar melakukan pelecehan terus menerus. Bahkan hingga berani menghapus sebuah aplikasi Alquran digital dari App Store, Quran Majeed, sebagaimana yang dilakukan oleh Cina atas permintaan pejabat setempat. Padahal selama ini, Quran Majeed adalah salah satu aplikasi Quran paling populer di dunia. Apakah kerugian Cina dengan aplikasi itu hingga ada niatan menghapus dan benar-benar dilakukan. Kentara sekali kebencian mereka terhadap kaum Muslim. Tak cukup Cina menyiksa kaum Muslim di Xinjiang, mengurung, memerkosa para wanitanya, mencuci otak mereka hingga Islam terlepas dari benak mereka. 

Menyadur BBC, 16 Oktober 2021, aplikasi itu dihapus karena menampung "teks-teks keagamaan ilegal" dan pemerintah China belum menanggapi permintaan komentar terkait hal ini. Apple Censorship, sebuah situs web yang memantau aplikasi di App Store Apple secara global mengatakan, "Menurut Apple, aplikasi Quran Majeed kami telah dihapus dari App store China karena berisi konten yang memerlukan dokumentasi tambahan dari otoritas China."

Hal ini seolah bertentangan dengan Partai Komunis China sendiri yang secara resmi mengakui Islam sebagai agama di negara tersebut fakta lain, selain menghapus aplikasi Quran digital itu, China telah dituduh melakukan pelanggaran hak asasi manusia dan bahkan genosida terhadap kelompok etnis Uyghur yang sebagian besar Muslim di Xinjiang (Suara.com, 16/10/2021). 

Pembelaan kaum Muslim senyap. Padahal pelecehan, pengaburan, bahkan hingga pembunuhan kaum Muslim beserta agama, simbol dan ajarannya berulang kali terjadi. Hilang patah tumbuh berganti, bak jamur yang tumbuh di musim hujan, subur tanpa ada yang menghentikan bahkan mengadili. 

Bagaimana dengan para pemimpin Muslim yang mereka banyak bergabung dalam organisasi internasional seperti OKI ( Organisasi Kerjasama Islam) ? Mengapa kerjasama mereka tak menghasilkan kebijakan untuk melawan ketidakadilan dan kesemena-menaan ini? 

Menurut Wakil Ketua PWNU Jatim KH Abdussalam Sohib atau Gus Salam, aturan bersama itu bisa memakai kaidah ushul fiqh Dar'ul Mafaasid Muqaddamun Alaa Jalbil Mashaalih. Atau menghindari kerusakan harus lebih diutamakan daripada meraih kebaikan. "Kalau memang diperlukan, sebaiknya ada aturan yang menjadikan kemaslahatan bersama dengan memakai Dar'ul Mafaasid Muqaddamun Alaa Jalbil Mashaalih," ujar Gus Salam kepada detikcom, Minggu (Detik.com,17/10/2021). Benarkah demikian solusinya? Mengapa justru terkesan mengambil jalan tengah, akankah hilang ulah negara kafir melalui medianya ini dengan mengambil kesepakatan" kemaslahatan bersama"?

Ketika Junnah itu Hilang, Gerimis Turun Seolah Badai

Media asing begitu lancang menyampaikan keberatannya terhadap suara azan dan mengekspos pandangan negatifnya terhadap syiar Islam di negeri mayoritas muslim ini. Di saat sama di negeri muslim minoritas, Alquran pun bahkan tak boleh diakses hingga perangkat teknologi dibatasi menyajikannya. Sepinya pembelaan pemimpin Muslim makin membuat kaum kafir di atas angin. Padahal ketika kaum Muslim memiliki Khalifah, pemimpin yang senantiasa ada untuk menjadi junnah (perisai) bagi rakyatnya, jangankan satu wilayah, satu orang Muslimah saja mengadu kepada Khalifah maka Sang Junnah datang dengan tentara yang panjangnya tidak putus dari gerbang istana khalifah di kota Baghdad hingga kota Ammuriah (Turki). 

Ya, beliaulah Khalifah Al-Mu’tashim Billah dengan lafadz yang legendaris: “waa Mu’tashimaah!” yang juga berarti “di mana kau Mutashim…tolonglah aku!” dari seorang Muslimah yang diganggu sekelompok orang Yahudi di sebuah pasar. Atau bagaimana Khalifah Abdul Hamid II mengatakan," Akulah Khalifah umat Islam Abdul Hamid Han! Aku akan menghancurkan dunia di sekitarmu jika kamu tidak menghentikan pertunjukan tersebut!" Saat duta besar Perancis ada di hadapannya, karena terdengar berita Perancis akan gelar teater dengan Nabi Muhammad sebagai tokohnya. 

Sultan Abdul Hamid II pula yang pernah menolak permintaan Theodor Herzl untuk membeli tanah Palestina sebagai tempat tinggal kelompok Zionis Yahudi, yang sekarang menjadi Israel dengan mengatakan," "Aku akan menarik pedang ketika sedang sekarat. Aku akan menjadi debu dan terlahir kembali dari debuku, dan berjuang bahkan jika mereka memotong leherku, mencabik-cabik dagingku untuk melihat wajah Baginda Nabi kita. Melihat wajah Rasulullah di akhirat," 

Inilah yang kita rasakan sekarang, seolah gerimis yang turun namun yang kita rasakan adalah badai. Semua ini dampak umat tak punya wibawa dan tak ada pemimpin yang memberlakukan islam kaffah. Tanpa khilafah hilanglah perlindungan terhadap umat dan tiada penghormatan terhadap simbol dan syiar Islam. Sudah seharusnya kita melakukan penolakan sistem yang serba bebas ini, bebas menghina agama lain, bahkan bebas hidup tanpa aturan yang shahih. 

Yang harus kita imani secara benar dan bersih bahwa Islam adalah jalan kehidupan. Petunjuk Allah kepada manusia untuk mewujudkan rahmatan Lil alamin. Syariah adalah aturan terbaik yang datang dari Allah Sang Maha Rahman dan Rahim untuk mengatur manusia agar hidup berkah , tidak salah arah. Wallahu a' lam bish showab.  

Posting Komentar untuk "Ketika Junnah itu Hilang, Gerimis Turun Seolah Badai"