Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Malin Kundang Di Era Kapitalisme




Oleh : Heny Era (Sahabat Visi Muslim Media)


Malin Kundang merupakan cerita rakyat yang berasal dari provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Malin Kundang berkisah tentang seorang anak yang durhaka pada ibunya. Walaupun zaman sudah berganti, tetapi kisah seorang anak yang durhaka pada kedua orangtuanya masih mengelilingi kita. Bak air susu dibalas dengan air tuba, pepatah ini sesuai dengan penderitaan yang dialami beberapa orang tua akibat perilaku buruk anaknya. 

Seperti yang telah diberitakan belum lama ini seorang ibu bernama Trimah, 65 tahun, warga Magelang, Jawa Tengah, dititipkan ke sebuah panti jompo, Griya Lansia Husnul Khatimah, Malang, Jawa Timur. Dalam wawancara dengan tvOne, Minggu, 31 Oktober 2021, ia mengatakan alasan dia dititipkan ke panti jompo adalah karena anak-anaknya tidak mampu membiayai orang tua (Viva 31/10/2021).

Kisah lainnya juga sempat viral melalui postingan di Fasbook milik akun bernama Cek Rozz Jannah tentang ibu yang dibuang anaknya. Cek Rozz Jannah bercerita bahwa ibu-ibu yang fotonya ia unggah diminta oleh sang putri membeli barang di sebuah toko. Namun putrinya itu tak lagi datang untuk menjemput ibunya lagi. Orang-orang yang berada di sekitar lokasi kejadian mulai merasa khawatir (TribunNews 21/10/2019).

Kisah diatas hanyalah sebagian yang mencuat kepermukaan dari kasus-kasus yang terjadi di masyarakat. Bukannya membalas kebaikan orangtua dan merawatnya yang sudah renta dengan kasih sayang, justru mereka lepas tangan akan tanggung jawab sebagai anak. Dari yang telah ditelusuri memang alasan ekonomi menjadi faktor utama, ketiadaan biaya membuat mereka tidak sanggup merawat orangtuanya, dan sampai hati menelantarkan orangtuanya. Faktor ekomomi memang paling sering menjadi penyebab segala permasalah hidup. Ekonomi masyarakat yang semakin membelit di tengah tekanan hidup dan wabah Covid-19 yang berkepanjangan membuat keadaan masyarakat sulit dalam mengatur roda perekonomian, agar kebutuhan hidup dapat tercukupi. 

Namun selain dari faktor ekonomi, penanaman akidah dalam setiap individu tentu saja berperan penting. Setiap anak shalih paham akan ilmu agama tidak akan begitu saja mengacuhkan orangtuanya apalagi membuangnya, mental seperti malin kundang ini tak akan merasuki dengan mudah. Ketika syariat menjadi modal hidup tentu mereka senantiasa menghormati kedua orangtuanya. Karena sejatinya berbakti kepada orangtua merupakan kewajiban setiap anak, Allah telah memerintahkan kita untuk berbakti kepada orang tua (birrul walidain) hal ini tercantum dalam Al Qur'an yaitu salah satunya pada Q.S Luqman ayat 14 : 

وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ

Artinya: "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu."

Selain faktor ekonomi dan akidah faktor lain yang begitu berpengaruh adalah bagaimana negara menerapakan sistem pemerintahannya. Kisah pilu lansia diibuang atau diserahkan ke panti adalah buah dari penerapan sistem kapitalisme. Penerapan sistem kapitalisme menjauhkan indivdu muslim dari norma-norma agama, karena asas sistem ini adalah pemisahan agama dari kehidupan, sehingga setiap individu masyarakat minim akan akidah Islam, kapitalisme hanya meemproduksi anak durhaka yang mati rasa akan fitrah seorang anak, karena tiadanya pemahaman utuh untuk senantiasa memuliakan orang tua. Bukti sekularisme begitu berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat. 

Penerapan sistem kapitalisme juga telah gagal menyejahterakan rakyatnya, nyatanya sistem ini hanya memperoduksi kemiskinan secara massal ditengah-tengah masyarakat, sedangkan para pemangku jabatan semakin menumpuk kekayaan mereka. Tidak adanya perhatian untuk masyarakat kalangan bawah, sikap ini mencontohkan pola lepasnya tanggung jawab negara terhadap kewajiban meriayah rakyat. 

Berbeda ketika negara menerapkan sistem Islam dengan pemimpinnya yaitu khilafah, khilafah akan menjamin lahirnya insan yg faham tanggung jawab terhadap orang tua melalui penanaman keimanan sejak dini. Khilafah akan senantiasa menjadikan Islam dan syariahnya sebagai panduan dan solusi terhadap seluruh permasalahan hidup. Sehingga akan lahir para generasi pejuang dan pemimpin umat yang berakhlak islam kaffah, yang mana pemikran, perasaan dan perilakunya diatur dengan islam. 

Seperti kisah seorang pemuda yang hidup pada masa Rasulullah SAW dia adalah Uwais Al-Qarni, suatu ketika Ibunya meminta untuk diantar pergi berhaji, namun karena kondisi keluarganya yang miskin Uwais pun memenuhi permintaan tersebut dengan cara sekuat tenaga menggendong sang Ibu yang lumpuh ke Baitullah. Karena bakti yang tulus kepada ibunya, membuat Uwais Al-Qarni terkenal di langit meski dibumi dia bukanlah siapa-siapa, seperti sabda Rasulullah SAW kepada para Sahabat yang lain, “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya. Dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi,” (HR. Ahmad).

Tak hanya itu perihal akidah yang menjadi perhatian, sistem ekonomi islam yang diterapkan secara sistemis juga mampu mengentaskan rakyatnya dari jerat kemiskinan, mengingat tujuan ekonomi Islam adalah kemaslahatan rakyatnya. Ini menunjukkan tanggung jawab negara terhadap rakyat secara total. Tidak akan ditemukan lagi rakyat yang terlunta-lunta dan menderita. Negara akan senantiasa berperan sebagai periayah atau pengurus rakyatnya. Seorang kepala negara dalam sistem islam adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyatnya seperti hadist berikut :

"Imam (Khalifah) adalah pemelihara dan pemgatur urusan (rakyat) dan dia akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rakyatnya. " (HR. Al-Bukhari dan Muslim). 

Indahnya ketika kita hidup dengan aturan Islam yang sesuai dengan Al-Qur'an dan As-sunnah bukan dengan sistem bathil kapitalisme yang gagal dalam kepengurusan umat manusia, karena hanya hukum Islam yang diatur sesuai fitrah manusia. 

Posting Komentar untuk "Malin Kundang Di Era Kapitalisme "