Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Krisis Identitas Masih Mendominasi Pemuda




Oleh: Ismawati (Sahabat Visi Muslim Media)


Fenomena Hallyu atau Korean Wave semakin mendominasi di dunia, termasuk Indonesia. Kebudaayan yang berasal dari Korea Selatan itu meliputi musik, film, drama, makanan, fashion, gaya hidup, bahkan trendnya. Rasanya, setiap hal yang ‘berbau’ korea semakin diminati masyarakat, wabil khusus generasi muda. Bahkan, Indonesia menempati urutan kedua di dunia terkait demam tren korea (beritasatu.com 22/6/21).

Demam ini semakin membuat pemuda menggigil, lantaran bisa membuat orang terserang kesehatan jiwanya. Katakanlah, seseorang fans fanatik bisa menghabiskan waktunya untuk sekadar menonton film, video music terbaru, bahkan scrolling serba-serbi idola. Ditambah lagi para fans rela menambung untuk bisa menonton live konser mereka, album resmi bahkan membeli merchandise apapun dari sang idola.

Masih ingatkah dengan fenomena kemasan ungu BTS Meal? Ya, salah satu produk kemasan di gerai McDonald’s sempat membuat heboh masyarakat. Lantaran antrian panjang pun mengular di beberapa gerai McD untuk mendapatkan produk ini. Beberapa orang yang tidak ingin mengantri pun memanfaatkan aplikasi virtual yakni ojek online (ojol) dan harus mengantri berjam-jam demi mendapatkan pesanan customernya yakni Nugget, Friench Fries, dan juga Cola. Namun, yang menjadi incaran ARMY (sebutan penggemar BTS) adalah kemasan makanan tersebut yang berwarna ungu berlogo BTS. Beberapa Army bahkan sampai mencuci, mengeringkan, hingga membingkai kemasan tersebut. 

Begitu dahsyatnya budaya Korea ini semakin membuat pemuda ‘mabuk kepayang’. Sayangnya, atas nama kebebasan, manusia bebas menentukan sendiri arah hidupnya tanpa memperhatikan lagi koridor syariat. Hal ini semakin membuat para pemuda krisis identitas. Generasi yang seharusnya menjadi ujung tombak peradaban, kini tergerus oleh budaya sekuler. Akan dibawa ke mana generasi muda, jika terus disusupi dengan budaya hedonistik liberal yang dapat merusak moral generasi. Mereka semakin kehilangan figur idola sejati, dan mempresentasikan idola dengan cara yang salah. 

Lihatlah, bagaimana idola yang menjadi panutan itu melanggengkan budaya yang sama seperti Barat. Seperti misalnya berpakaian serba mini, film yang merangsang syahwat, interaksi antara laki-laki dan perempuan cenderung bebas hingga kasus bunuh dirinya salah satu tertinggi di Asia. Beberapa artis K-Pop pun diketahui mengakhiri hidupnya karena depresi. Ini menunjukkan betapa budaya Korea melahirkan budaya liberal yang tak pantas menjadi panutan pemuda. 

Terlebih, generasi muda hari ini menjadi target para kapitalisme untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya. Antusiasme para fans K-Pop ini kian dimanfaatkan untuk meluncurkan berbagai produk atau merchandise serba-serbi artis idolanya. Para fans ini pun ‘royal’ tak tanggung-tanggung mengeluarkan uang demi idolanya. Alhasil, semakin terkikis identitas generasi melalui fenomena ini. 

Oleh karena itu, kita tidak boleh terus-terusan membiarkan generasi muda dalam cengkraman budaya liberal nan hedonis. Mereka harus dikembalikan pada tujuan hidup yang sebenarnya. Di dalam Islam, tujuan hidup manusia adalah beribadah kepada Allah Swt. sebagaimana firman Allah, “Dan tidaklah Ku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat : 56).

Maka, jika seorang muslim sudah mengetahui tujuan hidupnya untuk beribadah kepada Allah Swt. ia tidak akan mudah tergerus arus liberalisasi lewat budaya. Sebagai pemuda muslim, akan sadar posisinya sebagai hamba Allah yang terikat dengan hukum syariat. Sehingga, setiap perbuatan yang dilakukan akan senantiasa berstandar kepada halal dan haram. Rasanya betapa sia-sia kehidupan di dunia jika panutannya terarus budaya Korea. 

Ingatlah, setiap aktivitas kita akan senantiasa dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Rasulullah Saw. bersabda, “Tidak akan bergeser kedua telapak kaki seorang hamba di hari kiamat sehingga ditanya tentang empat macam, umurnya dihabiskan untuk apa, jasadnya digunakan untuk apa, ilmunya bagaimana mengamalkan, dan hartanya dari mana mencari dan ke mana dibelanjakan.” (HR. Ibnu Hibban & At-Tirmidzi).

Sementara dalam perkara idola, hendaknya para pemuda menjadikan Rasulullah Saw. sebagai teladan, hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Abdullah bin Mas’ud ra. “Barangsiapa di antara kamu yang ingin mengambil teladan, maka hendaknya dia berteladan dengan para Sahabat Rasulullah Saw. karena mereka adalah orang-orang yang paling baik hatinya di umat ini, paling dalam pemahaman (agamanya), paling jauh dari sikap berlebih-lebihan, paling lurus petunjuknya, dan paling baik keadaannya, mereka adalah orang-orang yang dipilih oleh Allah untuk menjadi sahabat Nabi-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka dan ikutilah jejak-jejak mereka, karena sesungguhnya mereka berada di atas petunjuk yang lurus”.

Ingatlah, kelak kita akan dikumpulkan bersama dengan orang yang kita cintai, “Tidaklah seorang mencintai suatu kaum melainkan dia akan dikumpulkan bersama mereka pada hari kiamat nanti” (‘Aunul Ma’bud, 11/64. Asy Syamilah).


Wallahua'lam bishowab. 

Posting Komentar untuk "Krisis Identitas Masih Mendominasi Pemuda"