Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Rentan Provokasi dalam Sistem yang Tak Valid


Oleh : Naura Zahra
(Remaja HSI) 

Dalam sistem yang diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri ini, masyarakat sangat mudah sekali terprovokasi. Seringkali kegaduhan diskenario yang pada akhirnya sangat berperan dalam menghilangkan isu-isu aktual dan lebih penting. 

Beberapa pekan ke belakang ini terjadi kontroversi dan kegaduhan yang seakan-akan dibuat. 

Sebuah potongan video ceramah yang di bawakan oleh Ustadz Khalid Basalamah soal wayang viral. Sudut pandang potongan video tersebut seolah-olah menarasikan wayang haram. Ustadz Khalid Basamalah sendiri sempat dilaporkan atas tuduhan menghina wayang dengan bukti hanya sepotong ceramah yang tidak lengkap, padahal di ceramah tersebut beliau sudah mengatakan bahwa tidak berniat untuk menjatuhkan wayang. 

Wayang menurut pandangan beliau itu hukumnya haram karena menyerupai makhluk hidup. Secara hukum fiqih hal tersebut sah, dan biasa jika terdapat perbedaan karena bersifat furu'iyah atau bercabang. Memang dulu Walisongo terutama Sunan Kalijaga menggunakan wayang yang di pipihkan agar tidak menyerupai makhluk sebagai sarana berdakwah, akan tetapi pada saat ini, budaya yang dilestarikan sebagian masyarakat tersebut tidak dapat dipungkiri menjadi sebuah pertunjukan seni yang sarat dengan musik dan wanita-wanita yang membuka aurat dan melantunkan suara dengan lemah gemulai. Selain itu kebanyakan alur cerita yang di gunakan dalam wayang menggunakan alur cerita dalam kitab agama Hindu mulai dari Ramayana hingga Mahabharata.

Provokasi tersebut semakin kentara ketika beredar di media sosial video pagelaran wayang yang diadakan oleh kelompok pengajian Gus Miftah di Pondok Pesantren Ora Aji yang dipimpinnnya di Kalasan, Yogyakarta, pada Jumat, 18 Februari 2022. Dalam pertunjukan tersebut , dalang terlihat mengamuk terhadap ustadz Khalid Basalamah, dengan menggunakan kata-kata yang sangat kasar dan tak elok.

Pertunjukan tersebut sangat disayangkan, pilihan kata yang tidak patut dipublikasikan ke ranah publik, ditambah penggunaan wayang yang mirip ustadz Khalid Basalamah merupakan serangan terhadap individu bukan berdasar keilmuan fiqh. Pada akhirnya pertunjukan tersebut memancing reaksi sangat negatif dari nitizen dan masyarakat.

Kegaduhan masalah wayang bersambut dengan kegaduhan luar biasa soal aturan azan. Diatur pengeras suaranya, hingga penggunaan pengeras luar maupun dalam dengan alasan biar aman dan kondusif. Padahal selama ini memang aman dan kondusif, karena itu alasan tersebut seolah di buat-buat. Kegaduhan berlanjut ketika menyamakan suara azan dengan gonggongan anjing. Hal tersebut jelas memancing reaksi energi dan ketersinggungan publik sehingga sukses untuk mengalihkan isi-isu viral kebijakan pemerintah yang menekan rakyatnya.

Pengalihan isu terbilang cukup sukses, karena perhatian masyarakat mulai dari kelangkaan minyak goreng, uang JHT yang di tahan secara zalim, IKN, keharusan kartu BPJS, dan banyak isu kenegaraan yang sangat penting menjadi terabaikan oleh masyarakat.

Kalau kita cermati, seharusnya masyarakat Indonesia segera memahami bahwa berbagai kegaduhan tersebut sengaja dikondisikan. Memang begini jadinya jika sistem yang di terapkan dalam kehidupan saat ini bukanlah sistem Islam, masyarakat sudah mulai terhipnotis dengan pengalihan isu yang anti dengan kebenaran Islam dan berusaha menyulut sesuatu jika datang dari seorang ulama Muslim yang lurus. 

Islam tidak akan membiarkan provokator atau para buzer berkeliaran dan menebarkan hate speech dalam masyarakat. Islam menghormati perbedaan pendapat yang bersifat cabang dan tidak keluar dari hukum Islam. Karena hal itu merupakan kekayaan kazanah Islam. 

So... Kita sebagai umat Muslim tentunya tidak tinggal diam saja melihat sistem ini merajarela, bagaimanapun caranya kita harus senantiasa berdakwah dan menyongsong janji kembalinya syariat Islam. Karena semua solusi permasalahan harus dipecahkan dengan sistem Islam. [vm]

Wallahu a'lam.

Posting Komentar untuk " Rentan Provokasi dalam Sistem yang Tak Valid "