Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Rujak Cingur dan Ajaran Islam (Khilafah)




Oleh : L. Nur Salamah, S.Pd (Aktivis Muslimah Batam dan Kontributor Media)


Ketika pertama kali saya disodori rujak cingur yaitu rujak yang berisi sayuran, buah dan cingur (mulut sapi) dipadu dengan sambal petis. Dalam hati saya bergejolak, mau menolak segan, mau dimakan rasanya perut sudah mulai mual. 

"Cobaen! Enak iku." "(Coba lah! Itu enak)," kata Bu Nunuk, orang tua asuhku. Peristiwa ini terjadi 27 tahun yang lalu (1995), saat aku pertama tinggal di rumah Ibu untuk melanjutkan pendidikan jenjang SMP di Surabaya.

Akhirnya aku mencoba, ternyata seperti yang kuduga. Aku muntah seketika. Ibuku tercengang. Makanan yang menurut Ibu enak, ternyata perutku menolak. 

Aku masih belum bisa menerima klaim Ibu bahwa rujak cingur itu enak, karena aku tidak bisa memakannya. Ibuku memaklumi, mungkin karena aku tidak pernah mengenal dan mencicipi makanan tersebut.

Ketika melihat fenomena di tengah-tengah masyarakat. Ada diantara mereka yang mengaku sebagai muslim, menolak dan anti terhadap ajaran Islam (Khilafah). Apakah seperti yang aku alami, perutku menolak terhadap makanan asing yang tak pernah dilihat dan disentuhnya.

Aku harus belajar dari sikap Ibu, berusaha memahami mereka. Wajar saja mereka menolak dan anti terhadap ajaran Islam. Karena selama hidupnya tidak pernah mendengar atau membaca sejarah peradaban Islam yang gemilang. Masa kekhilafahan yang mengukir tinta emas kegemilangan Islam.

Adapun yang mereka terima adalah informasi dari media mainstream yang anti terhadap ajaran Islam (khilafah). Belum lagi berbagai propaganda terorisme dan radikalisme serta kriminalisasi terhadap orang-orang yang memperjuangkan dan mendukungnya. Jadi wajar jika mereka takut dan anti terhadap ajaran Islam yang satu ini.

Kembali kepada cerita rujak cingur, ketika perutku menolak, bukan berarti Ibu tidak lagi menawarkan rujak cingur itu. Setiap beliau membeli rujak cingur, beliau tidak lupa untuk terus menawarkan. Dan selalu meyakinkan dengan argumentasi. 

"Karena kamu gak mau mencoba. Selamanya tidak akan doyan. Cobalah dulu! Mungkin lidahmu perlu membiasakan. Nanti kalau sudah terbiasa pasti ketagihan. Percayalah sama Ibu!" Kata Ibu meyakinkan aku.

Dan ternyata benar. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya suka dan ketagihan. Oleh karena itu, kita sebagai aktivis yang menyeru kebenaran, jangan pernah putus asa dan pantang menyerah. 

Ketika orang belum bisa menerima dakwah kita, sabar dulu. Di berikan penjelasan dengan ahsan. Berikan hujah yang kuat. Sampaikan argumentasi dengan data, untuk lebih meyakinkan mereka. Kemudian doakan. Supaya hatinya dilembutkan untuk menerima ajaran Islam yang kita sampaikan

Bagi masyarakat yang belum tahu dan mengenal ajaran Islam secara keseluruhan termasuk sistem kekhilafahan, seharusnya jangan menutup diri dan anti terhadap ajaran tersebut. Buka hati dan pikiran! Gunakan akal untuk mencari kebenaran. Bertanyalah kepada orang yang memahami tentang hal tersebut. Jangan menutup diri untuk berdiskusi. Semoga Allah senantiasa memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua. Dan sesuai dengan janji-Nya khilafah pasti akan tegak kembali meskipun orang-orang kafir membenci. 

Allahu'alam Bishowwab. 

Posting Komentar untuk "Rujak Cingur dan Ajaran Islam (Khilafah)"