Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Islam Solusi atas Kekeringan





Oleh: Afiyah Rasyad (Aktivis Peduli Ummat)


"Bukan lautan hanya kolam susu

Kail dan jala cukup menghidupimu

Tiada badai tiada topan kau temui

Ikan dan udang menghampiri dirimu


Orang bilang tanah kita tanah surga

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Orang bilang tanah kita tanah surga

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman"

Lagu Koes Plus merupakan gambaran elok dan kayanya negeri ini. Pantas mendapat julukan Zamrud Khatulistiwa. Indonesia Allah tetapkan sebagai wilayah yang kaya sumbwr daya alamnya, terutama air. Negeri ini terdiri dari pulau-pulau, besar ataupun kecil. Negeri ini disebut-sebut kaya sumber air. Namun, kini kekeringan sering melanda berbagai wilayah Nusantara.

Kekeringan Melanda, Akibat Salah Tata Kelola

Beberapa bulan yang lalu, kekeringan melanda 250 KK di Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember, selama 6 bulan lamanya. Sumur-sumur di wilayah itu kering. Sehingga, masyarakat mengalami krisis air bersih (medcom.id, 21/7/2022). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB juga menyebutkan sebanyak 9 kabupaten/kota, 74 kecamatan dan 296 desa di NTB dilanda kekeringan. Jumlah masyarakat yang terdampak mencapai 100 ribu KK atau sekitar 500 ribu jiwa (idntimes.com, 12/9/2022). 

Musibah kekeringan ini juga menimpa berbagai negara di dunia. Mulai dari Amerika Utara, Eropa dan Mediterania, China, dan juga Afrika. Menurut para ilmuwan, tahun 2022 ini adalah salah satu peristiwa kekeringan paling luas dalam beberapa dekade! Terkait penyebabnya, para ilmuwan iklim sudah lama mengatakan bahwa pemanasan global akan mengakibatkan peningkatan risiko kekeringan di wilayah-wilayah yang rentan. Sebab, curah hujan berkurang dan kelembaban udara juga menurun (bbc.com, 25/8/2022).

Bisa dikatakan, kekeringan yang melanda tak semata karena iklim yang ekstrem. Namun, sedikit banyak kerusakan alam diakabitkan ulah tangan manusia yang serakah. Berbagai kegiatan global warming turut andil dalam kekeringan yang melanda. Cengkeraman kapitalisme yang berasaskan keuntungan materi alias manfaat, menjadikan manusia, terutama para pemangku kebijakan, bersifat kapitalis. Mereka melakukan apa pun, bahkan tega merusak keseimbangan ekosistem alam demi meraih keuntungan materi tanpa memperhatikan dampak bagi linkungan dan ekosistem.

Banyak korporasi melakukan deforestasi dengan dalih investasi. Deforestasi terjadi tak terkendali. Greenpeace Indonesia menyebut luasan lahan deforestasi dalam 5 tahun terakhir mencapai 2,13 juta hektare (ha) atau setara dengan luas 3,5 kali luas Pulau Bali (cnnindonesia.com, 10/11/2021). Bahkan, pada tahun 2020, Indonesia masuk dalam peringkat ke-4 dengan laju deforestasi terbesar di dunia (databoks.katadata.co.id, 4/11/2021).

Pengaruh kapitalisasi hutan adalah perubahan areal hutan menjadi properti ataupun industri. Eksploitasi lahan untuk tambang juga kian menjadi-jadi. Apalagi adanya UU Minerba dan UU Omnibus Law menfasilitasi keadaan ini. Maka, ekosistem alam dan lingkungan tak terjaga lagi.

Dalam ilmu pengetahuan, areal hutan adalah tempat urgen sebagai pelindung mata air dan penyerap air. Jika deforestasi tak terkendali, maka bisa dipastikan kekeringan akan terus melanda. Bukan hanya itu, paradigma kapitalisme menguasai hulu hingga hilir. Tak hanya hutan, korporasi pengabdi kapitalisme merambah pada bisnis air minum dalam kemasan (AMDK). Eksploitasi air bersih oleh korporasi, masyarakat yang konsumtif, polusi udara yang menggila karena asap knalpot atupun asap industri semakin mengukuhkan kekeringan yang melanda.

Eksploitasi ataupun deforestasi demi meraih keuntungan korporasi jelas akan berdampak negatif bagi lingkungan dan juga rakyat yang tinggal di wilayah rentan kekeringan. Sementata penanganan kekeringan di negeri ini belum menyentuh akar masalah, hanya berkisar setelah kekeringan. Padahal, akar masalah kekeringan ini adalah cara pandang kapitalisme yang berasaskan manfaat.

Islam Solusi Masalah Kekeringan

Problem kekeringan merupakan problem holistik. Selain faktor cuaca atau iklim yang ekstrem, ulah tangan manusia juga menjadi penyebab terkuat. Sistem kapitalisme yang digunakan dalam kehidupan saat ini, jelas tidak menghadirkan solusi, justru memperparah keadaan dan menambah masalah baru. Maslaah kekeringan ini juga membutuhkan solusi yang holistik dari hulu hingga hilir. Tentu butuh sistem lain yang lebih baik. Untuk mendapatkan sistem yang lebih baik, maka manusia harus kembali pada aturan Dzat Yang Mahabaik, yakni aturan Allah alias sistem Islam.

Penerapan Islam ini haruslah holistik alias kaffah. Penerapannya hanya bisa ditegakkan oleh Khilafah. Beebagai problem umat akan teratasi, termasuk problem kekeringan. Khalifah akan amanah dalam memelihara urusan umat. Pandangan menyeluruh atas seluruh masalah kehidupan akan dialakoni dengan penuh keikhlasan. Khalifah akan memperlakukan peristiwa kekeringan dengan cara preventif (pencegahan).

Pemetaan wilayah secara umum akan dilakukan oleh Khilafah sehingga diketahui mana saja kawasan yang rentan bencana. Dengan begitu, kawasan tersebut dapat mendapat perlakuan ekstra. Selain itu, Negara juga akan melakukan pemetaan iklim dan kondisi cuaca, sehingga dapat mengantisipasi datangnya bencana. Semua biaya pencegahan berupa teknologi dan sumbsmer daya manusia akan dibiayai oleh negara.

Sistem Islam mewajibkan negara mengelola sumber daya alam yang termasuk milik umat dengan pengelolaan yang baik dan ramah lingkungan. Khilafah akan memelihara hutan yang memiliki fungsi penting, baik secara ekologis, hidrologis, dan klimatologis yang dibutuhkan oleh umat manusia. Selain itu, Khilafah juga akan mengelola sumber-sumber air, seperti mata air, danau, sungai, dan laut. Karena tidak dimungkiri, air juga merupakan kebutuhan manusia. 

Pengelolaan hutan dan sumber air tidak boleh diserahkan pada swasta ataupun asing. Namun, Khilafah akan mengelolanya dengan prinsip tepat guna dan pemanfaatannya hanya untuk rakyat dengan biaya murah, bahkan gratis. Sebab, hutan dan air merupakan harta milik umum yang disebutkan Rasulullah Muhamma saw. dalam hadis yang masyhur dan shohih:

“Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara, yaitu padang gembala, air, dan api.” (HR Abu Dawud dan Ahmad)

Terkait air dalam kemasan, Khilafah akan mengelola air bersih dengan mendirikan industri secara independen. Lalu, Khilafah akan mendistribusikan air ke suluruh penjuru negeri, terutama ke wilayah yang rentang mengalami kekeringan karena perubahan musim.

Kota-kota Islam pada masa kekhilafahan sudah memiliki sistem pengelolaan air bersih yang maju hingga ke pelosok-pelosok desa. Pada kekhilafahan di tahun 993 M, telah terdapat 1.500 pemandian umum. Kebutuhan air bersih dipenuhi dengan air yang mengalir dari sungai, kanal, atau qanat (saluran bawah tanah) ke kota. Air disimpan dalam tangki, lalu disalurkan ke pipa-pipa di bawah tanah ke berbagai tempat, seperti ke tempat tinggal, bangunan umum, dan kebun dan masih banyak lagi contoh yang lain.

Sungguh, sistem Islam adalah solusi bagi setiap persoalan yang datang. Sudah saatnya manusia, terutama kaum muslim untuk kembali ke dalam kehidupan Islam dalam naungan Khilafah Islamiah.


Wallahu a'lam bishawwab. 

Posting Komentar untuk "Islam Solusi atas Kekeringan"