Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bukan Hanya Naiknya Harga BBM, Inilah Masalah Indonesia yang Sebenernya!

 




Oleh: Yulida Hasanah (Aktivis Muslimah Brebes)


Fix, harga BBM ternyata naik lagi! Dan rakyatpun dituntut untuk siap menghadapi inflasi. Sebagaimana diberitakan, Per 3 September 2022, pemerintah resmi menaikkan harga BBM atau Bahan Bakar Minyak jenis Solar, Pertalite dan Pertamax. Masing-masing menjadi Rp 6,800 per liter untuk Solar, Rp 10.000 per liter untuk Pertalite dan Rp 16,500 per liter untuk Pertamax.(liputan6.com)

Sungguh tak habis pikir, bahkan rasa dan asapun seakan tak bisa menyatu saat melihat betapa 'perduli'nya para pejabat legislatif negeri ini. Di saat hampir semua komoditas kebutuhan pokok rakyat mengalami kenaikan harga. Rakyat kembali dibebani dengan naiknya harga BBM. Padahal sebelumnya diberitakan bahwa 'kebutuhan pokok' yang menjadi penunjang kelancaran aktivitas masyarakat ini tidak akan ada kenaikan harga. Namun seakan sudah menjadi karakter, setiap ucapan penguasa hari ini pada ujungnya tak sesuai fakta yang terjadi. Seperti janji-janji saat kampanye menuju Pemilu, hingga detik inipun hanya menyisakan pilu di hati rakyat yang terlanjur memilih 'aku padamu'. 

Semakin terasa pilu saat berbondong-bondong rakyat dari berbagai elemen mengkritisi kebijakan ini, penguasa malah mengambil sikap 'tak perduli'. Sungguh menangis hati ini. Mereka bergerak menuju gedung-gedung megah yang dibangun dengan uang rakyat, ternyata penghuni gedung sedang bahagia merayakan pesta ulang tahun pemimpinnya. 

Dikutip dari laman merdeka.com, Dari kursi pimpinan, Puan ikut berdiri dan terlihat semringah sembari bertepuk tangan. Riuh anggota DPR terdengar usai Puan berpidato dan menyerahkan laporan kinerja DPR tahun sidang 2021-2022. Momen perayaan di ruang sidang paripurna itu berbarengan dengan ribuan buruh dan mahasiswa menggelar demo menolak kenaikan bahan bakar minyak (BBM) di depan Gedung DPR.

Demokrasi, Biang Masalah Politik di Negeri ini

Gambaran ini, tentu saja merupakan bagian dari potret perjalanan politik demokrasi di negeri ini. Tak bisa disangkal bahwa kehidupan demokrasi sebenarnya sedang mengalami kerusakan parah. Fakta pemimpin yang membohongi rakyatnya sendiri sudah biasa menjadi santapan sehari-hari. 

Maka wajar jika rakyat mulai gerah dan tak mampu lagi menahan emosi karena telah menjadi korban 'dibohongi' berkali-kali. Sebab masalahnya tak main-main, ini terkait dengan pengaturan urusan mereka yang benar-benar harus dijamin dan dipenuhi. Dengan kata lain, ini terkait masalah politik. Masalah kewajiban pemerintah terhadap pemenuhan hak rakyatnya. 

Sedangkan sudah sering didengar dan disampaikan bahwa politik demokrasi sebenarnya telah Cacat sejak lahir. Hal ini tentu saja bisa kita lihat dari pilar-pilar kebebasan yang melandasinya. Jadi saat kebebasan beragama, kebebasan kepemilikan, kebebasan berpendapat dan kebebasannya berekspresi diformalisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jangan berhadap sebuah negara bisa lepas dari kemunculan politik oligarki dan lahirnya pemimpin otoriter yang kebal hukum, kebal kritik bahkan hukum konstitusi bisa direvisi sesuai kepentingan pihak-pihak yang sedang berkuasa hari ini. Jangankan berkorban demi rakyat sebagai pihak yang notabene menggaji mereka. Yang ada malah para pemimpin hari ini telah terindikasi krisis empati.

Demokrasi yang sejatinya memang menjadikan asas paham memisahankan agama dari kehidupan bermasyarakat dan bernegara atau sekulerisme, jelas takkan menghadirkan kesadaran sebagai hamba Allah SWT dalam menjalankan tangungjawab politiknya. Dimana politik yang seharusnya diartikan sebagai aktivitas tanggungjawab mengatur semua urusan rakyat, baik urusan di dalam negeri maupun urusan luar negeri. Tujuannya jelas agar tercapai dan terjaminnya kemaslahatan rakyat secara menyeluruh. Tidak ada yang dianak tirikan dalam urusan politik ini. 

Oleh sebab itu, seorang pemimpin dan pelaksana amanah rakyat ini jelas takkan bisa diharapkan secara sistemik menjadi sosok pemimpin yang adil, dan hati nuraninya dipenuhi dengan empati bahkan tanggungjawab penuh terhadap urusan rakyatnya. Kecuali dengan mengganti sistem politik demokrasi hari ini dengan sistem yang menjadikan ketaqwaan pemimpin sebagai pilar utamanya. Selain itu, penerapan sistem Islam kaffah sebagai solusi untuk mengatasi permasalah akibat 'buruknya' penerapan politik demokrasi. 

Mengapa harus Islam Kaffah?

Sebagai manusia, secara fitrah Allah SWT telah memberikan rahmat karunia berupa diturunkannya Islam melalui Rasul-Nya, Muhammad Saw,. Islam juga telah jelas keadaannya sebagai satu-satunya agama yang diridhoi dan satu-satunya agama yang sempurna. Tak hanya menyolusi permasalah individual manusia, namun juga problem komunal dan masalah sanksi/uqubat. Kesempurnaan Islam ini telah digambarkan dalam pemerintahan Islam pertama yang dibangun oleh Rasulullah Saw di Madinah Al Munawwarah dan kemudian dilanjutkan dengan kepemimpinan Islam oleh para Khalifah setelah beliau Saw.

Di dalam pemerintahan Islam, Rasulullah telah mencontohkan bagaimana penerapan politik Islam. Yakni dengan menjadikan Islam sebagai dasar untuk mengatur urusan politik; mengatur urusan-urusan publik seperti pemerintahan, ekonomi, pendidikan, kesehatan, keamanan, dan lainnya. Ketika poitik Islam dipahami demikian, jelas itu merupakan kebaikan. Dalam istilah al-Quran, menjadi rahmatan li al-‘âlamîn.

Pemahaman inilah yang menumbuhkan kesadaran akan kebutuhan untuk menjadikan Islam sandaran dalam menentukan sistem yang menaungi kehidupan. Jadi, umat tak hanya butuh pemimpin muslim yang amanah, tapi juga yang menerapkan Islam Kaffah sebagai sistem dalam mengatur urusan rakyatnya. 

Dengan penerapan Islam Kaffah, tak kan ada cerita pemimpin yang menyusahkan rakyatnya karena menerapkan kebijakan yang salah. Sebab, Allah SWT akan melaknat pemimpin yang menyulitkan rakyat. Rasulullah Saw. bersabda yang artinya, Rasulullah Saw, pernah bersabda "Siapa yang diamanahi mengurusi umatku lalu menyusahkan mereka, maka baginya Bahlatullahi. Para sahabat bertanya, apakah itu Bahlatullahi? Rasulullah menjawab, 'Laknat Allah' (HR Abu Awanah dalam kitab sahihnya).

Dan lebih dari semua itu, Islam kaffah merupakan syariat yang berasal dari Allah SWT Yang Maha Benar dan Maha Adil. Jadi, takkan mungkin ada ajaran dan syariat Islam yang salah dan buruk atau menyusahkan. Apalagi sampai membahayakan kehidupan rakyat tatkala diterapkan. Inilah hujjah yang amat jelas mengapa harus Islam kaffah. Wallaahua'lam

Posting Komentar untuk "Bukan Hanya Naiknya Harga BBM, Inilah Masalah Indonesia yang Sebenernya!"