Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

ARAS: Membaca Pergolakan Akar Rumput Memenangkan Anies 2024 dari Jawa Timur


Oleh: Hanif Kristianto (Analis Politik-Media di Pusat Kajian dan Analisis Data)

Pasca Anies Baswedan diumumkan Nasdem sebagai Calon Presiden 2024, relawan bergerak. Sebelum Nasdem berikrar, rakyat akar bawah sudah membentuk gerakan dan menggadang-gadang Anies sebagai Presiden. Sementara melupakan Prabowo yang pada Pilpres 2019 sempat mengecewakan pendukung dan relawannya. Terlebih kelompok Islamis yang menginginkan perubahan cepat dengan ganti presiden.

Sejumlah simpul relawan Anies Baswedan di Jawa Timur bertemu di Surabaya. Mereka berasal dari berbagai daerah dengan latar belakang beragam profesi. Kini, pertemuan simpul relawan itu di Jawa Timur bernama Aliansi Relawan Anies (ARAS).

”Nama ARAS berasal dari teman-teman. Hasil dari pertemuan sebulan silam di Surabaya. Setelah melalui perbincangan cukup seru dan akrab, akhirnya masing-masing simpul mengusulkan nama yang berujung pada nama ARAS itu,” kata Koordinator ARAS Jawa Timur, Donny Handricahyono kepada wartawan di Hotel Namira Surabaya, Selasa (11/10/2022).

Sejumlah pengusaha Jawa Timur duduk sebagai anggota Dewan Penasihat ARAS Jatim. Mereka adalah Mustofa Bawazier (pengusaha/pengembang), Haji Suli (pengusaha), Misbachul Huda (pengusaha), dan Bambang Sugeng (pengusaha). (https://beritajatim.com/politik-pemerintahan/aras-jatim-siap-menangkan-anies-baswedan-di-2024/)

Gerakan ARAS menambah kehangatan di antara relawan, seperti Relawan Ganjar Pranowo, Erick Tohir, Muhaimin Iskandar, dan Prabowo di Jawa Timur. Pergerakan ARAS unik karena identitas Islam begitu kentara, meski tidak menggunakan nama ormas Islam. Beberapa dewan penasihat dan pengurus relawan nilai islamnya tampak. Kepeduliannya kepada urusan kepemimpinan Indonesia perlu diapresiasi. Lantas, bagaimana membaca arah gerakan akar rumput memenangkan Anies 2024?

Gempita Akar Rumput

Akar rumput yang mayoritas umat Islam senantiasa menjadi obyek pesakitan dari politik demokrasi yang dijalankan. Suaranya begitu menentukan dalam setiap pemilu. Nilainya dalam bilik suara yang diekspresikan dengan nyoblos. Selebihnya, umat Islam akan kembali merana karena kerap suaranya tiada lagi berguna. Anggapannya sudah ada wakil di parlemen.

Gerakan sporadis akar rumput inilah yang sering ditumpangi politisi gelap. Bentuknya sering tidak terlihat. Kalaupun terlihat begitu sopan dan merakyat. Politisi ini bermainnya level atas bermodal uang, kecerdasan politik, dan kemampuan menjadi daya tarik. Modal materi inilah yang membuatnya kuat, disampaing dukungan oligarki yang tak terlihat.

Gempita akar rumput ini wajar dalam sosiologi politik. Keberadannya menjadi entitas baru untuk perubahan setelah merasakan ketidaknyamanan. Kondisi ini akan lebih menyeruak jika dibumbui dengan nilaii-nilai spiritual. Malah menjadikan akar rumput radikal dalam mendukung seseorang. Di sisi lain, tatkala agama (Islam) dipinggirkan dari politik, peranannya sebatas ritual. Seolah politik urusan dunia yang penuh tipu daya, lalu agama suci dan harus terjaga.

Untuk membaca gerakan memenangkan Anies dalam konteks pilpres 2024 ada beberapa hal analisis:

Pertama, citra Anies Baswedan selama ini dekat dengan umat Islam. Pada Pilgub DKI berpasangan dengan Sandiaga Uno. Apalagi momentum itu, Ahok dan Djarot maju kembali dalam kontestasi. Gelora “Haram Pilih Pemimpin Kafir” dan umat lebih condong kepada Anies-Sandi setelah AHY-Silvy kalah di putaran pertama. Lalu citra Anies dibumbui sebagai keturunan Arab pribumi yang nenek moyangnya menjadi pejuang kemerdekaan.

Kedua, gerakan sporadis ini terjadi sebagai luapan kerinduan umat kepada pemimpin yang dekat dengan rakyat. Pemimpin yang prestatif dan dicintai, bukan pemimpin yang sibuk bercitra dan diduga sering melontarkan janji palsu. Kondisi umat ini wajar sebagai sebuah gerakan yang ingin perubahan.

 Ketiga, gerakan akar rumput ini masih pada sosok, belum pada sistem apa yang mampu membawa perubahan dan kesejahteraan hakiki. Hal ini karena, umat masih meyakini demokrasi sebagai sistem yang terbaik. Alasannya ada musyawarah mufakat, keadilan, kebebasan, dan keikutsertaan masyarakat. Selain itu, karena sudah terpisahnya Politik Islam dari umat pasca keruntuhan Khilafah Islamiyah.

Keempat, gerakan akar rumput yang mendukung Anies 2024 bisa diamati seperti gerakan yang mendukung Prabowo-Sandi di 2019. #GantiPresiden menjadi sangat viral dan menggema di kalangan ini. Pasalnya, umat masih ingin memberi kesempatan sekali lagi siapa tahu Anies mampu membawa aspirasi umat.

Kelima, opini publik dan media masih belum memberikan pilihan sosok lain. Kalaupun ada sudah banyak cela dan dosa politiknya. Nah, publik tak ingin mengusung sosok bermasalah, meski ada juga yang menjadi relawannya.

Memandu Alur Berfikir

Gerakan akar rumput ini sebenarnya terdiri dari orang-orang yang sadar dan ikhlas. Kekhawatiran yang menonjol ada pada ‘pengkultusan’ sosok. Ini yang berbahaya. Sebab demokrasi berjalan bukan atas dasar sosok, tapi demokrasi telah memiliki sistem dan mekanismenya sendiri. Ke depan, ekspektasi gerakan akar rumput ini akan menjadi gumpalan kekecewaan kalau tidak disadari sistem apa yang mau diusung oleh kepemimpinan 2024.

Ibaratkan mobil mogok dan mesinnya rusak, yang diganti bukan saja sopirnya. Diperiksa dahulu apakah harus turun mesin diganti dengan yang baru? Lalu apakah sopirnya juga masih mampu mengendarai dan melaju ke depan? Dilihat juga apakah sopirnya juga masih amanah dan taat perintah Tuhanya?

Politik demokrasi sesungguhnya didesain berdasarkan kepentingan. Suara rakyat suara tuhan sekadar jargon. Faktanya, beberapa suara rakyat untuk tolak kenaikan harga BBM, usut tuntas kasus korupsi, dan lainnya kerap tak didengar. Rindu didemo lari dan tak merespon.

Akar demokrasi adalah liberalisme dan pemisahan agama dari kehidupan. Fakta itu yang harus dipahami umat Islam. Karenanya kontestasi pemilu 2024 tetap dalam kerangka demokrasi. Artinya, sosok boleh berganti, tapi sistem yang diterapkan masih sama. Bukankah ini menyiapkan masuk ke lubang buaya? Sosok memang penting, tapi lebih penting sistem apa yang mau diterapkan.

Jika umat Islam menyadari bahwa politik Islam itu agung nan mulia, maka umat tidak akan berpaling darinya. Justru dalam kondisi umat saat ini, gelora perubahan harus disetarakan dengan pemahaman Islam. Kecerdasan politik Islam sangat dibutuhkan umat untuk memandu mereka agar jangan salah pilih dan tidak kecewa. Jika umat bersandar kepada manusia dipastikan akan menelan pil pahit kecewa. Berbeda jika umat berharap pada Allah dan Islam maka umat akan mulia dan berkah. Saatnya umat cerdas politik Islam! 

Posting Komentar untuk "ARAS: Membaca Pergolakan Akar Rumput Memenangkan Anies 2024 dari Jawa Timur"