Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Game Online Menjamur, Idealisme Pemuda Semakin Luntur

Ilustrasi 

Oleh: Tiara Intan Asmara, S.Si

Dikutip dari malangposcomedia.id (25-12-2022), Bupati Malang HM Sanusi memberikan penghargaan kepada Farhanuddin Fattah, pria 23 tahun asal Desa Argotirto, Kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang, dikarenakan aktif mengenalkan e-sport. Ia merupakan pelatih berlisensi yang mendapatkan penghargaan sebagai pemuda berprestasi, dan menjadi salah satu dari lima pemuda berprestasi pada peringatan Hari Pahlawan 10 November lalu, serta sebagai penggerak teknologi. Tak hanya itu, Kabupaten Malang akan menjadi wilayah pertama di Indonesia yang sekolah-sekolahnya mendapat beasiswa dari Moonton (Developer Mobile legends).

Tentu saja, adanya apresiasi penghargaan ini tentu akan menjadikan game online semakin menjamur. Padahal dampak negatif dari game online tidaklah sedikit. Kecanduan game online dapat berdampak pada kondisi fisik dan psikis anak-anak muda. Selain akan bertindak impulsif, para pecandu game online akan mengalami penurunan fokus saat mengerjakan sesuatu sehingga hal itu akan berdampak pada prestasi dan produktivitas anak-anak muda. Terkadangpun emosi mereka menjadi tidak stabil, sampai ada dari mereka yang anti sosial, bahkan game online bisa menjadi sarana terjadinya pelecehan seksual di kalangan pemuda.

Sejak Pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) serta Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) memutuskan bahwa esports resmi menjadi cabang olahraga prestasi, di tahun 2020, minat pemuda untuk menjadi ahli game online semakin meningkat. Apalagi pundi-pundi penghasilan yang fantastis pun menggiurkan, bahkan ada yang mencapai 5 Milyar per orang. Tentu ini menjadi lahan basah bagi pendapatan negara, karena mengandalkan pajak darinya.

Dalam sistem kapitalisme, dimana uang adalah segalanya, melahirkan tatanan kehidupan yang bersifat materialistik. Bahkan, demi menjaga eksistensinya secara global, berbagai kebijakan diaruskan di seluruh negri muslim, salah satu nya dengan membajak potensi pemuda untuk meraih keuntungan materi semata dengan dalih pemberdayaan ekonomi, tanpa lagi melihat apakah pekerjaan itu bermanfaat atau bahkan mendatangkan banyak kemudhorotan. 

Hasilnya, pemuda yg seharusnya sebagai ujung tombak perubahan dan pemimpin masa depan, beralih tujuan hidupnya hanya bersandar pada orientasi materi, yang akan melahirkan krisis identitas dalam diri nya. Teracuni oleh paham liberalisme, sekulerisme dan kapitalisme yg pada akhirnya akan menjauhkan para pemuda dari islam yang hakiki.

Dalam Islam, pemuda merupakan sosok yang dimuliakan, dijaga bahkan diberdayakan demi kepentingan dan keselamatan peradaban dunia akhirat. Islam memahami betul potensi besar yang dimiliki oleh kaum muda dengan jiwa yang penuh semangat, optimisme, percaya diri, penuh energi, penuh impian dan cita-cita. Oleh karena itu, Islam begitu memperhatikan kehidupan para pemuda yang dimilikinya, tidak akan membiarkan mereka larut dalam aktivitas yang sia-sia. 

Islam dengan seperangkat aturannya berupaya menjaga kehidupan para pemuda dan masyarakatnya agar bersih dari segala perilaku menyimpang, menutup pintu-pintu kemaksiatan, menjamin pendidikan dan kesehatannya, serta mendorong mereka guna menyibukkan dirinya dalam ketaatan dan penuh dedikasi untuk agama, masyarakat dan negaranya.

Hanya dengan mengkaji Islam kaffah, akan dapat melahirkan pemuda visioner, tak hanya mencukupkan Islam untuk dirinya, bahkan berjuang dengan gigih agar cahaya Islam dapat terwujud nyata dalam kehidupan masyarakat.

Sejarah telah menorehkan kisah inspiratif nan heroik tentang para pemuda Islam di masa silam, bahkan kisah mereka terus masyhur di masa kini. Seorang Pemuda hebat seperti Usamah bin Zaid yang di usia 18 tahun sudah menjadi panglima perang menghadapi romawi, Umar bin Abdul Aziz usia 22 tahun menjadi gubernur Madinah, Imam Syafi’i usia 15 tahun sudah menjadi seorang mufti, dan Muhammad Al Fatih pada usia 22 tahun sudah menjadi seorang khalifah bahkan setelah 2 tahun menjabat berhasil menaklukan benteng legendaris Konstatinopel pada usia 24 tahun. Dan masih banyak lagi kisah para pemuda tangguh lainnya dimana mereka hidup dalam naungan sistem Islam, dan memberikan peradaban manusia terbaik sepanjang masa. 

Posting Komentar untuk " Game Online Menjamur, Idealisme Pemuda Semakin Luntur"