DEMONOLOGI ESENSI KHILAFAH Tanggapan atas Artikel Mahfud MD 'Menolak Ide Khilafah'


Tulisan di bawah ini adalah tulisan dari Ahmad Sastra menanggapi artikel Mahfud MD yang berjudul 'Menolak Ide Khilafah' di koran Kompas pada tanggal 26/05/2017. Belum lama ini juga beredar judul berita 'Mahfud MD : Islam Tidak Kenal Sistem Khilafah' yang dimuat pada Media Merdeka dan Liputan 6  pada tanggal 19/02/2019. Kami memposting ulang tulisan ini kiranya masih ada relevansinya untuk membantah pernyataan Mahfud tersebut.

Oleh : Ahmad Sastra 

Sejak  Menkopolhukam Wiranto menyatakan berencana membubarkan organisasi massa Islam HTI yang mengusung gagasan Syariah dan Khilafah, sontak ormas yang telah puluhan tahun berada di Indonesia ini menjadi buah bibir masyarakat Indonesia dari berbagai level sosial. Yang menjadi topik utama perbincangan adalah gagasan HTI dalam menawarkan Islam sebagai solusi terbaik bagi permasalahan bangsa, dengan menolak ideologi kapitalisme dan komunisme. Pro kontra mengalir deras, saat sistem Khilafah  yang diajukan sebagai solusi ideologis. Mantan ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD tidak tinggal diam, dengan tegas menolak ide Khilafah melalui artikelnya di Kompas, 26/05 hal. 6 dengan tajuk, `Menolak Ide Khilafah`.   

Penulis telah mencermati artikel Mahfud MD dan dapat disimpulkan bahwa selama masih sebuah diskursus intelektual, maka pemikiran Mahfud MD pun bisa dikritisi kebenarannya. Meski mahfud MD mengakui bahwa di dalam Islam memang ada ajaran hidup bernegara  dan istilah Khilafah, namun sistem dan strukturisasinya tidak diatur di dalam Al Qur`an dan Sunah, melainkan diserahkan kepada kaum muslimin sesuai dengan tuntutan tempat dan zaman. Dari tesis ini lantas Mahfud MD mewajibkan kaum muslimin menerima sistem politik dan ketatanegaraan Indonesia yang berdasar Pancasila dan Undang-undang Dasar (UUD) 1945. 

Lebih jauh lagi mantan ketua Mahkamah Konstitusi itu menegaskan bahwa sistem negara Pancasila yang berbasis pluralisme , Bhinneka Tunggal Ika, sudah kompatibel dengan realitas keberagaman dari bangsa Indonesia. Disisi lain ia sebutkan bahwa Khilafah sebagai sistem pemerintah adalah buatan manusia yang isinya bisa bermacam-macam dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat. 

Sebagai manusia biasa, tentu Mahfud MD juga bukan orang yang mewakili kebenaran mutlak. Selama merupakan pendapat manusia, maka besar kemungkinan menyimpan berbagai kelemahan dan kesalahan. Entah karena ketidaktahuan, maupun karena kesalahan referensi atau kadang juga hanya sekedar karena rasa benci yang mengakibatkan sikap tidak adil. Perbedaan pendapat dalam Islam adalah bagian dari tradisi intelektual Islam. 

Sebagai bahan pertimbangan, penulis ingin hadirkan pandangan Sayyid Qutb dalam kajian tentang Islam dan ketatanegaraan. Islam merupakan agama yang realistik, yang membuktikan bahwa larangan dan nasehat saja tidak cukup. Juga membuktikan,  bahwa agama ini tidak akan tegak tanpa negara dan kekuasaan. Agama Islam adalah manhaj atau sistem yang menjadi dasar kehidupan  praktis manusia, bukan hanya perasaan emosional (wijdani) yang tersemat dalam hati, tanpa kekuasaan, perundang-undangan, manhaj yang spesifik dan konstitusi yang jelas”. (Tafsir fi Dhilal al Qur’an, Juz I hlm. 601)  

Sejarah Islam, menururtnya, sebagaimana yang pernah ada, merupakan sejarah dakwah dan seruan, sistem dan pemerintahan. Tidak asumsi lain yang dapat diklaim sebagai Islam, atau diklaim sebagai agama ini, kecuali jika ketaatan kepada Rasul direalisasikan dalam satu keadaan dan sistem. (Tafsir fi Dhilal al Qur’an, Juz II hlm. 696)  

“Eksistensi agama ini merupakan eksistensi kedaulatan hukum Allah. Ketika kondisi asal ini ternafikan, niscaya eksistensi agama ini juga ternafikan. Yang menjadi problem utama di muka bumi sekarang bagi agama ini adalah berdirinya para taghut yang selalu melakukan perlawanan terhadap ketuhanan Allah dan merampas kekuasaanNya, kemudian dirinya diberikan otoritas untuk menetapkan peraturan perundang-undangan  untuk membenarkan dan melarang jiwa, harta dan anak “ (Tafsir fi Dhilal al Qur’an, Juz III hlm. 1216-1217). 

Dari pandangan diatas, nampak penulis artikel tidak secara mendalam mengkaji tentang ideologi yang sebenarnya kini tengah menghegemoni bangsa ini. Kapitalisme sekuler yang selama ini mencekram bangsa ini, bahkan kini aroma komunisnya semakin terasa, telah dengan jelas menafikan peran Tuhan dalam pengaturan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kapitalisme sekuler yang mengabaikan nilai ketuhanan dan komunisme yang ateistiklah yang justru telah gagal mensejahterakan bangsa Indonesia dan gagal menghadirkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Sementara Islam adalah ideologi sempurna dari yang Maha Sempurna dan Khilafah adalah bagian dari ajaran Islam. Karena itu tidak relevan membenturkan ide Khilafah dengan Pancasila. 

Di akhir artikel,  Mahfud MD memberikan sub judul `berbahaya` untuk memberikan label terhadap Khilafah sebagai gerakan berbahaya bagi Indonesia. baginya, ide Khilafah akan berpotensi memecah belah bangsa Indonesia dan internal kaum muslimin sendiri. Sebenarnya opini ini adalah opini usang yang tidak pernah terbukti, sebab dahulu juga pernah disuarakan oleh masyarakat Indonesia Timur akan melepaskan diri jika Indonesia menerapkan syariah, namun faktanya justru saat menerapkan demokrasi sekuler, Timor Timur memisahkan diri dari NKRI. Padahal fakta sejarah, Rasulullah justru mampu menyatukan bangsa Arab dari berbagai suku dan agama   dalam daulah Madinah, sebab Islam adalah rahmatan lil`alamin. 

Pilihan kata berbahaya untuk ditujukan kepada Khilafah sebagai ajaran Islam merupakan tindakan demonologi. Demonologi menurut Noam Choamsky adalah perekayasaan sistematis untuk menempatkan sesuatu agar ia dipandang sebagai ancaman yang sangat menakutkan, dan karenanya ia harus dimusuhi, dijauhi, dan bahkan dibasmi. Sedangkan dalam teori komunikasi, “demonologi” dapat dikategorikan ke dalam wacana “labeling theory” (teori penjulukan). Dalam teori tersebut, korban-korban misinterpretasi ini tidak dapat menahan pengaruh dari proses penjulukan yang dilakukan dengan sedemikian hebat.

Yang sangat santer terdengar dari opini demonologi Khilafah saat ini adalah “Anti Kebhinekaan”, “Benih Radikalisme”, “Pemecah-belah Bangsa”, dan sederet julukan yang terkesan menakutkan dan menyeramkan. Akibat dari demonologi Khilafah tersebut, citra Khilafah sebagai bagian dari ajaran Islam yang tidak bisa dipisahkan menjadi buruk dan tercoreng. 

Tuduhan ini bahkan terbantahkan pengakuan Carly Florina, Mantan CEO Hewleet Packard dan pendukung senator John McCain dalam acara American former business executive nad was the republican nominee for the United Startes Senate from California in 2010, ` Sebuah peradaban terbesar di dunia. Peradaban itu mampu membuat suatu negara benus berukuran super yang membentang dari samudra ke samudra dan dari iklim utara di daerah tropis hingga daerah gurun. Dalam kekuasaannya, hidup ratusan juta orang  yang memiliki kepercayaan dan asal-usul etnis yang berbeda. tentara negara itu terdiri dari orang-orang dari berbagai negara dan perlindungan militer memungkinkan terjadinya perdamaian dan kemakmuran yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dan peradaban itu disokong lebih dari apapun, dengan berbagai penemuan. Sementara peradaban Barat modern banyak mengambil sifat-sifat ini. Peradaban yang sedang saya bicarakan adalah Peradaban Dunia Islam dari tahun 800 hingga tahun 1600. 

Padahal esensi Khilafah merupakan solusi terbaik bagi problematika yang ada. Khilafah memiliki tiga esensi utama, terlepas dari pola pemilihan khalifah yang telah menjadi ijma` sahabat. Esensi pertama Khilafah adalah penerapan syariah secara kaffah, dimana bidang ekonomi, pendidikan, budaya, politik didasarkan oleh aturan syariah yang memberikan kebaikan dan keadilan bagi seluruh warga negara, tidak memandang ras dan agama. Dalam syariah, manusia dipandang lebih manusiawi dibandingkan ideologi kapitalis dan komunis. Buktinya beberapa negara seperti Jepang dan Inggris justru tertarik dengan sistem ekonomi berbasis syariah. Ukuran perbuatan dalam timbangan syariah adalah halal dan haram, dan ini tidak ada dalam ideologi kapitalis sekuler dan komunis ateis. 

Esensi kedua dari khilafah adalah ukhuwah. Khilafah dengan kepemimpinan tunggal bagi kaum muslimin seluruh dunia menjawab perpecahan umat Islam selama ini. Dengan Khilafah selain kaum muslimin akan bersatu padu dalam satu kepemimpinan, meski berbeda dalam mazhab. Bahkan Khilafah akan memberikan perlindungan yang maksimal kepada setiap warga negara, meski beda ras dan agama dalam satu naungan pemerintahan yang adil dan beradab. Esensi ini tidak ditemukan sama sekali dalam ideologi kapitalisme dan komunisme. Lihatlah berbagai tragedi kemanusiaan akibat kapitalisme dan komunisme, bukan hanya antar negara, bahkan antar sesama muslim saling bermusuhan akibat politik adu domba. 

Esensi ketiga Khilafah adalah dakwah Islam rahmatan lil`alamin. Esensi dakwah artinya upaya penyebaran kebenaran Islam dalam rangka menyelamatkan manusia dari jalan kesesatan. dakwah adalah ajakan dan seruan menuju jalan Allah tanpa kekerasan dan paksaan. Dakwah Islam berbeda dengan imperialisme kapitalis dan revolusi komunis yang keduanya menyisakan kesengsaraan manusia. Sementara dakwah justru memberikan ketenangan dan kebahagiaan serta keselamatan manusia. Dengan suka rela Islam bisa diterima masyarakat karena kebenaran dan kemuliaan dimilikinya. 

Allah menegaskan melalui firmanNya dalam surat An Nashr ayat 1-3, `Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.

Karena itu mempertentangkan ide Khilafah dengan Pancasila selain tidak relevan, juga tidak esensial. Sebab justru hanya ideologi Islamlah yang mampu mewujudkan esensi pancasila, bukan ideologi kapitalisme dan komunisme. Sementara melabeli ide Khilafah sebagai gerakan berbahaya adalah upaya demonologi atau monsterisasi ajaran Islam itu sendiri. Sebab terlepas dari berbagai ragam sikap, namun seluruh imam mazhab bersepakat bahwa  Khilafah atau imamah adalah bagian dari ajaran Islam, bahkan wajib untuk ditegakkan.

Diantara para imam yang mewajibkan penegakan imamah atau Khilafah adalah : Imam Ghazali, Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar al  Asqalani, Imam Mawardi, Imam Ibnu Hajar al Haitami, Imam al Qurthubi, Imam Syaukani, Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnu Khaldun dan Sheikh Wahbah Zuhaili. 

Jika para imam mewajibkan tegaknya kepemimpinan umum untuk kaum muslimin sedunia, maka selayaknya kaum muslimin meyakini dan memperjuangkannya tegaknya Khilafah, jangan malah jadi penghalangnya. [vm]

Belum ada Komentar untuk "DEMONOLOGI ESENSI KHILAFAH Tanggapan atas Artikel Mahfud MD 'Menolak Ide Khilafah'"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...