Membanting Narasi Kotor Media Massa Liberal-Sekuler


Oleh : Lalang Darma (Praktisi Media)

Media-media massa liberal pragmatis hari ini mendapatkan tempat dalam peradaban demokrasi-sekuler. Tugasnya adalah untuk melangsungkan ekspansi budaya Barat yang sekularistik, materialistik, dan liberal. Secara demikian, tugas media massa tersebut dipastikan akan mengikis dan menggerus nilai-nilai spiritualitas dan religiusitas berbagai agama. 

Media massa sekuler liberal mengarahkan manusia untuk mengubah (revise) atau merombak (deconstruct) pemikiran-pemikiran dan keyakinan-keyakinan agama tradisional agar seirama dengan semangat zaman, zeitgeist, dan nilai-nilai yang diyakini “universal.

Maka nilai-nilai agama yang dikatakan tradisional seperti penolakan aborsi, homoseksual, dan lesbianisme, dapat luntur ketika berhadapan dengan media massa liberal yang tak mengenal moral. Namun persoalannya, apakah respon resistensi (penolakan) sudah cukup? Jelas tidak. Yang diperlukan tak sekedar menolak atau mengkritik media mainstream tersebut, tapi juga bagaimana solusi alternatif yang dapat diajukan, termasuk jalan untuk menuju solusi itu. Inilah perkara yang belum jelas ketika kita berbicara kaitan agama dengan media massa dan pembebasan.

Bagi umat Islam, media liberal dan pragmatis dan agen-agen liberal memang sangat berbahaya. Sebab umat Islam tidak hanya merasakan bahayanya dari sudut ekonomi, budaya, namun juga bahayanya secara ideologi, yakni terancamnya ghirah Islam umat. 

di negara-negara Arab, seperti Arab Saudi, Kuwait, Yordania, Mesir, dan lain-lain telah dilakukan perubahan kurikulum Islam  diusung oleh agen-agen liberal dengan dalih perkembangan jaman. Arab Saudi mengubah materi al-wala` wa al-bara` (loyalitas dan disloyalitas). Sementara Yordania, Mesir, dan Kuwait mengubah materi tentang jihad dan perang melawan kafir agresor, seperti Yahudi dan Nasrani. Negara-negara itu juga mengubah konsep-konsep Islam yang dibenci AS. Dari sini media massa berpengaruh menggerakkan pikiran publik.

Ingat, media massa liberal yang digerakkan Barat hanyalah satu bentuk dari sekian bentuk penjajahan (imperialisme, isti’mar) yang dilancarkan oleh negara-negara penjajah atas dunia. Padahal bagi kita, penjajahan dalam segala bentuknya harus dihapuskan dari muka bumi, baik di bidang militer, budaya, politik, ekonomi, maupun di bidang lainnya (seperti kesehatan dan energi).

Bagi kita alasan menentang penjajahan bukan sekedar bertolak dari argumen empiris, seperti terjadinya kemiskinan, namun lebih karena argumen normatif, yakni menentang karena Allah. Sebab bagi kita penjajahan adalah suatu kondisi yang diharamkan dalam Islam, karena Allah SWT tidak membenarkan adanya dominasi atau hegemoni kaum kafir atas kaum muslimin, sebagaimana firman Allah SWT :

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan /menguasai orang-orang yang beriman.” (QS An-Nisaa` [4] : 141).

Lebih dari itu, imperialisme yang menjadi bagian integral ideologi kapitalisme berikut negara pengembannya, khususnya Amerika Serikat, harus dilumpuhkan tanpa kompromi lagi. Karena ideologi kapitalisme itulah yang menjadi sumber penderitaan dan kesengsaraan seluruh umat manusia di dunia. Memang saat ini Amerika Serikat sedang meluncur menuju jurang kehancurannya. Namun demikian, nampaknya masih perlu satu tangan kuat lagi perkasa untuk memukulnya. Dan hanya kebangkitan umat Islam dalam bingkai tegaknya syariah kiranya yang mampu memikul tugas suci itu, insya Allah.[vm]

Belum ada Komentar untuk "Membanting Narasi Kotor Media Massa Liberal-Sekuler"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...