Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Politik Balas Budi, Politik Merusak Negeri



Oleh: Alfisyah Ummu Arifah S.Pd (Guru dan Pegiat Literasi Islam Kota Medan)

Heboh seantero negeri tak lagi bisa disembunyikan. Dunia maya dan nyata mempertanyakan kebijakan diangkatnya beberapa orang yang memimpin lembaga plat merah. Mereka yang ditunjuk itu disinyalir sangat berjasa dalam menyukseskan naiknya kembali rezim petahana. Banyak komentar miring, namun ada juga yang mendukung.

Beberapa anggota legislatif berkomentar juga akan hal ini. Bukhori yusuf dari PKS menyatakan jika kebijakan politik balas budi itu sebagai sesuatu yang berbahaya. Sebab itu membuka peluang untuk terjadinya tindakan korupsi ikutan. 

Bukan cuma komentar keberatan, ada juga desakan yang ditujukan kepada Bapak Presiden agar mengevaluasi lagi keputusannya. Wakil Sekretaris Jendral Dewan Pimpinan Pusat Lumbung Informasi Rakyat (Wasekjend DPP LSM LIRA), Sandri Rumanama mengomentari pergantian komisaris di beberapa BUMN termaksud PT. Telkom Indonesia.

Menurutnya BUMN PT. Telkom Indonesia bukan lembaga eksperimen tapi ini lembaga _sharing profit_ sebagai dapurnya negara. Menurutnya sebaiknya dievaluasi kembali kebijakan itu. (REAKSIMEDIA.COM, 31/05/21)

Politik balas budi kini menjadi perhatian negeri. Aromanya sangat menyengat dan terbuka. Tak seharusnya ada lagi komentar bahwa kita masih harus berprasangka baik. Sebab siapapun bisa mencium aroma itu dengan jelas. Rekam jejaknya pun belum terhapus. Masih hangat sehangat gorengan yang baru diangkat.

Komentar anggota legislatif dari PKS itu tak keliru. Inilah yang di dalam islam itu dilarang agar tak terbuka peluang kecurangan berikutnya. Namun bagi sistem kapitalisme itu adalah hal yang biasa.

Padahal menurut islam ini harus dicegah. Karena yang dirugikan adalah kepentingan orang banyak. Kepentingan masyarakat yang menginginkan lembaga negara plat merah itu terap untung dan tidak merugi.

Jika yang ditunjuk itu kapabel dan sangat profesional, maka masih ada peluang BUMN itu rugi. Sebab sistem kapitalisme yang mendasari manajemen pengelolaannya membuka peluang juga untuk rugi.Apatah lagi jika yang menjadi nakhodanya orang yang diduga tidak layak secara akademis dan keahliannya. Nakhoda itu akan mudah dikendalikan dalam politik balas budi lanjutan. Sebab itu akan terus menurun agar kepentingan masing-masing terpenuhi. Lantas bagaimanakah nasib negeri ini?

Ya, betul ini negeri para "bedebah". Kekayaan alam dan asetnya direbut secara ganas. Orang-orang yang lemah akan tewas. Tak layak hidup. Orang kuat lah yang bertahan. Itulah tabiat sistem kapitalisme itu. Bersiaplah akan termakan dan tergilas sistem ini. Harus ada sistem baru yang mengakhiri kebengisan sistem yang tidak berprikemanusiaan ini.

Islam memaknai kekuasaan itu sebagai kekuatan dan amanah. Amanah itu harus di tangan orang yang tepat. Tidak boleh meletakkan jabatan pada orang yang tidak kapabel.

Rasulullah melarangnya, dengan pernyataannya yang tegas...tunggulah saatnya (maksudnya kehancurannya). Maka sebagai orang yang mengimani kerasulan beliau, selayaknya memahami maksud kalimat ini sebagai larangan yang tegas. Inilah kebusukan sistem Kapitalisme ini. Memang tidak akan memihak untuk kebaikan masyarakat. Namun kebaikan para kapital lah yang lebih dibela. Sesuai dengan namanya.

Oleh karena itu selayaknya kita merujuk bagaimana Rasulullah menjadikan seseorang layak memegang jabatan yang strategis itu. Sebab dampaknya akan langsung memberikan kebaikan untuk masyarakat. Ada panduan dalam mengangkat seseorang untuk dijadikan pemimpin dalam meriayah masyarakatnya.

Syaikh Taqiyuddin Annabhaani menuturkan setidaknya ada tiga penilaian yang menjadi dasar kelayakan untuk suatu jabatan. Pertama adalah kekuatan akal baik secara akademis,kecakapan, keahlian dan profesional. Kekuatan yang lain adalah kekuatan jiwanya tang lembut, qowwwamah, adil dan sangat menyayangi masyarakatnya.

Kedua adalah ketakwaannya yang memastikan dia melayani urusan masyarakat berdasarkan panduan hukum Allah. Sebab hanya hukum Allah sajalah yang tepat untuk manusia, yang tanpa cacat, cela dan coba-coba (try and eror).

Ketiga pemimpin itu mestilah memiliki sifat penyayang. Sebab dia tak boleh menyusahkan masyarakat. Rasulullah sampai berdoa di rumahnya dengan doa yang khusus untuk seorang pemimpin. Beliau meminta agar Allah membebani pemimpin yang membebani masyarakat dengan kesulitan yang dibuatnya, dan agar Allah melembutkan pemimpin yang bersikap lembut kepada masyarakatnya.

Namun mengharapkan pemimpin dengan tiga kelayakan itu dalam sistem kapitalis itu hanyalah mimpi di siang bolong. Tabiat sistem itu sampai kiamat tak akan melahirkan pemimpin yang demikian. Hanya sistem shohih dari ilahi saja yang mampu mencetak pemimpin dengan kapabilitas seperti di atas. Bukan hanya seorang, akan banyak pemimpin tercetak sedemikian rupa secara massal. 13 abad penerapan sistem itu di dunia menjadi bukti yang tak terbantahkan. Mari terapkan sistem itu, niscaya pemimpin idaman akan mudah diwujudkan semudah kedipan mata. Wallahu a'lam bish-showaab.

Posting Komentar untuk "Politik Balas Budi, Politik Merusak Negeri"