Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Democracy : 404 Not found

 


Oleh: Abu Mush’ab Al Fatih Bala (Penulis Nasional dan Pemerhati Politik Asal NTT)


Demokrasi selalu diagung-agungkan Barat sebagai sistem modern yang riil yang mampu memakmurkan dunia. Demokrasi adalah lambang kemajuan suatu negara, persamaan hak dan penegak keadilan. Demokrasi dianggap mampu mewakili aspirasi rakyat.

Sistem ini diartikan sebagai suatu pemerintahan yang berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Sepintas terlihat bagus. Rakyat seolah-olah telah berdaulat dan mendapatkan apa yang diharapkannya. 

Namun sayang ini hanyalah teori tanpa praktik nyata.

Memang benar, lewat demokrasi, rakyat mendapatkan kekuasaan untuk memilih para wakilnya tetapi yang menjadi penguasa sejati adalah mereka yang memiliki modal. Sedangkan rakyat hanya diperlukan pada momen pemilu. Setelah pemilu, sebagian besar rakyat kembali pada keadaan semula yakni tetap menjadi miskin, tertindas dan tidak mendapatkan keadilan.

Sistem demokrasi adalah sistem palsu. Di sebuah negeri khatulistiwa, 50 orang pengusaha menjadi orang paling kaya dengan total kekayaan Rp.1700 tirlyun hampir menyamai pendapatan negara yang berjumlah Rp. 2.000 trilyun. Sedangkan laporan di negeri itu menyatakan ada 27 juta warga yang sangat miskin.

Harusnya demokrasi mampu menaikkan taraf hidup masyarakat. Sistem harusnya mampu menekan jumlah angka kemiskinan dan meratakan kekayaan kepada segenap rakyatnya, tidak berkutip di salahsatu kelompok orang tertentu saja. 

Demokrasi juga tak mampu melunasi utang negara. Bahkan, seorang penguasa yang terpilih lewat proses demokrasi (terlepas dari jujur atau tidaknya pemilihan pemimpinnya) diprediksikan akan mewarisi utang negara sebesar Rp.8.000 trilyun di akhir kepemimpinannya. Kalau yang diwarisi itu adalah devisa tentu akan mensejahterakan rakyatnya. Namun, jika warisan itu adalah utang negara, siapakah yang akan membayar utang tersebut?

Apakah penguasa yang telah menjual aset negara secara murah kalau tidak mau dikatakan gratis? Ataukah para wakil rakyat yang dianggap merakyat namun sejatinya mendapatkan keuntungan proyek kapitalis atas SDA negaranya? Para pejabat yang semakin kaya di tengah pandemi atau yang mendapat tunjangan ratusan juta karena menduduki jabatan wakil menteri?

Haruskah mereka berpangku tangan atau kah dikembalikan kepada mayoritas rakyat yang setiap harinya membayar pajak? Pandemi sulit diatasi. Selain itu, para pejabat yang terpilih secara demokratis banyak yang tertangkap basah menikmati uang rakyat.

Bukannya melayani kepentingan rakyat. Banyak pejabat yang korup dilindungi oleh sistem hukum yang dibuat dalam demokrasi itu sendiri. Koruptor-koruptor kelas kakap mendapatkan hukuman yang sangat ringan. Sudah begitu mendapatkan remisi.

Para koruptor dana bansos pada saat pandemi beberapanya telah ditangkap. Namun sebagian besar yang merupakan orang terdekat penguasa tidak disentuh hukum. Sakit hati rakyat dibuatnya.

Bahkan buronan dengan inisial HM telah bertahun-tahun tidak ditemukan.

Dimana demokrasi? Dimana kekuatannya? Apa sebenarnya peran demokrasi dalam memberantas korupsi, tirani, pengangguran dan lain-lain? Apakah demokrasi hanya menjadi sistem yang menyuburkan para kapitalis saja.

Dimana peran demokrasi ketika suatu negeri yang seharusnya panen raya malah kebanjiran ribuan ton barang impor? Cabai dan garam pun diimpor dengan alasan yang dibuat-buat meskipun dalam negeri saja kebanjiran panen. Sehingga harga barang dalam negeri anjlok.

Inilah yang bisa disebut sebagai demokrasi yang tidak ada. Tidak eksis. Ibarat suatu website atau informasi yang dicari di internet namun tak pernah ada. 

Democracy: 404 not found. 

Diketik di papan pencarian dan dicari lagi tetap tidak ditemukan meski jaringannya telah 5G. 

Ini tentunya berbeda dengan sistem Islam yang bisa “disearching” ada bukti emperis, historis dan teologisnya. Sistem Islam menjadi “keyword yang paling banyak dicari”. “Yang paling banyak kemunculan atau kontribusinya”. 

Sistem ini telah mendapatkan pengakuan dari para sejarahwan Muslim maupun Non Muslim. Yang telah terbukti mampu mensejahterakan 2/3 dunia selama 14 abad lamanya. Mari segenap umat perjuangkan kembali dan “install” dalam peradaban modern ini agar sejahtera semuanya dalam rahmat Allah SWT. []  

Bumi Allah SWT, 2 September 2021


#DenganPenaMembelahDunia

#SeranganPertamaKeRomaAdalahTulisan

Posting Komentar untuk "Democracy : 404 Not found "