Alexandria; Namamu Hadir dalam Memoriku


Oleh : Ima Susiati
(Mahasiwi Univ. Darul Lughah Al Azhar Cairo Mesir)

Selalu ada kisah di balik sebuah perjalanan. Sensasi dari sebuah cerita perjalanan yaitu bagaimana kita bisa merasakan ‘nyawa’ dari suatu tempat, dan menuangkannya dalam sebuah tulisan atau foto. Begitu pula dengan perjalananku bersama mudir dan mudirah beserta teman-teman dari Indonesia 7 Januari 2017 kemarin. Semenjak datang di Mesir 29 Juli 2016, akhirnya sampai juga kaki ini di tanah Alexandria (Iskandriyah). Kami mengunjungi beberapa tempat bersejarah seperti; Istana Raja Faruq di Montaza, Alexandria Library, Benteng Sulthan Qaitbay, Masjid dan Maqam Luqman al Hakim.

Perpustakaan Alexandria, pernah menjadi yang terbesar di dunia. Diperkirakan perpustakaan ini menyimpan sekitar 400 ribu hingga 700 ribu naskah penting bersejarah. Di perpustakaan ini terdapat naskah yang dihasilkan para cendekiawan dengan karya di bidang geometri, trigonometri, astronomi, bahasa, sastra dan kedokteran, dll.

Benteng Qaitbay yang dibangun pada masa kepemimpinan Sultan Al-Asyraf Al-Nasr Syaifuddin Qaitbay, dari dinasti mamluk tahun 1423. Benteng yang berdiri kokoh di tepi laut mediterania ini membuat kami bisa melihat keindahan laut lepas dari tempat ini. Benteng ini saat didirikan difungsikan untuk menahan serangan yang akan datang ke Mesir. Karena itulah benteng ini dibangun berbentuk lorong panjang, dan banyak celah untuk mengintip musuh, dengan ornamen membentuk lubang udara agar bisa melihat lepas ke laut mediterania.

Saya terkesan dengan Alexandria. Wilayah di Mesir yang kaya dengan peradaban. Alexandria adalah ibukota Mesir sebelum akhirnya diganti menjadi Kairo, pernah dikepung selama empat bulan sebelum ditaklukan oleh pasukan Islam di bawah pimpinan Ubadah bin ash shamit yang dikirim oleh Khollifah Umar bin Al khaththab sebagai bantuan pasukan ‘Amr bin ‘Ash yang sudah berada di front peperangan Mesir. 

Bicara Alexandria maka jangan lupakan kisah-kisahnya, fase pemerintahan khalifah Umar bin Khathab adalah sebuah fase dimana umat Islam hidup dalam keadilan. Beliau mengikuti bagaimana Peranan umar dalam sejarah Islam masa permulaan merupakan yang paling menonjol kerena perluasan wilayahnya, disamping kebijakan-kebijakan politiknya yang lain. Adanya penaklukan besar-besaran pada masa pemerintahan Umar merupakan fakta yang diakui kebenarannya oleh para sejarahwan. Bahkan, ada yang mengatakan, bahwa jika tidak karena penaklukan-penaklukan yang dilakukan pada masa Umar, Isalm belum tentu bisa berkembang seperti zaman sekarang. Alexandria muai mendapat sinaran cahaya Islam pada masa beliau.

Di masa kekhilafahan Islam, Alexandria memiliki peran strategis bagi Islam hingga akhirnya ‘Amru bin Ash membangun kota Fusthat setelah penaklukan Alexandria tahun ke 21 H/631 M dan menjadi kota Islam di Mesir dan Afrika yang terletak di dekat sungai Nil dan masuk wilayah Old Cairo. Ada beberapa pendapat tentang asal usul nama Fustat. Ibnu Qutaybah mengatakakan bahwa setiap kota dinamai Fustat, maka Mesir dinamakan Fustat. Sementara Az-Zamakhsyari mengatakan bahwa fustat adalah nama untuk sebuah bangunan yang tidak memiliki faviliun. Inilah diyakini sebagian besar sejarawan. Mereka meyakini bahwa yang dimaksud dengan fustat adalah kemahnya Amr Bin Ash. Ada juga pendapat Al-Maqrizi bahwa fustat adalah bait dalam suatu syair, dan dalam syair itu ada Fustat Mesir.

Kemudian disitulah dibangun masjid ‘Amru bin ‘Ash, beliau juga mambangun sebuah rumah disamping masjid hingga banyak orang saling berdatangan yang menyebabkan kota ini menjadi kota yang besar. Disini dibangun gedung-gedung pemerintahan dan fasilitas umum lainnya. Begitu luar biasa bagaimana dulu Alexandria hidup dalam naungan Daulah Islamiyah. Kejayaan bisa dirasakan oleh penduduk Mesir khususnya dan dunia dengan pengaruhnya yang tersinari oleh Islam. 

Lalu kita kenal nama nenek moyang kita, Sang pembebas, Shalahuddin Yusuf al-Ayyubi dianggap sebagai mujadid di Mesir karena dapat mengembalikan mazhab sunni. Melihat keberhasilannya itu Khlaifah al-Mustadi dari Bani Abbasiyah memberi gelar kepadanya al-Mu’izz li Amiiril mu’miniin (penguasa yang mulia). Khalifah al-Mustadi juga memberikan Mesir, an-Naubah, Yaman, Tripoli, Suriah dan Maghrib sebagai wilayah kekuasaan Salahuddin Yusuf al-Ayyubi pada tahun 1175 M. sejak saat itulah Salahuddin dianggap sebagai Sultanul Islam Wal Muslimiin (Pemimpin umat ilam dan kaum muslimin).

Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi tidak hanya dikenal sebagai seorang panglima perang yang gagah berani dan ditakuti, akan tetapi lebih dari itu, beliau adalah seorang yang sangat memperhatikan kemajuan pendidikan. Salah satu karya monumental yang disumbangkannya selama beliau menjabat sebagai sultan adalah bangunan sebuah benteng pertahanan yang diberi nama Qal’atul Jabal yang dibangun di Kairo pada tahun 1183 M.

Saat ini, Alexandria jauh dari peradaban Islam di masa Umar bin Al Khattab atau Shalahudin Al Ayubi. Jauh sekali. Di saat mata ini memandang dengan pandangan pertama kali, justru yang muncul adalah ‘ini Alexandria ataukah Eropa’. Itulah ungkapan yang terlintas. Adalah Alexandria saat ini bernuansa kehidupan Eropa yang seakan jauh dari Islam meski dulu menjadi ibukota Mesir yang pernah diayomi Islam melalui utusan Khalifah Umar bin Khattab, ‘Amru bin ‘Ash.

Tidak bisa dipungkiri selama bukan Islam yang memimpin dunia, hingga ujung benua manapun tidak akan pernah dijumpai sebuah peradaban yang agung, mulia nan diberkahi oleh Allah SWT. Berbeda dengan tempat kami tinggal saat ini, Kairo. Di Kairo, meski sama-sama ‘sekuler’ masih jauh bernuansa Islam dibandingkan kehidupan di Alexandria. Perempuan yang menutup aurat secara sempurna jarang terlihat di saat kami rihlah ke Alexandria. 

“Inikah negeri para Nabi, dimana di setiap jengkal tanah Mesir selalu menjadi tempat diberkahi. Ujung demi ujung tanah Mesir menjadi tempat yang mustajab untuk berdo’a. Namun sekarang? Seakan sekejap hilang Mesir digerus oleh Kapitalisme”, gumam dalam hati.

Corak politik masyarakat Mesir kini bergeliat menuju peradaban Islam. Tak lama lagi, Alexandria dan seluruh kota di dunia akan kembali ke pangkuan khilafah, terpancang kembali ar royah berkibar di atasnya. Mengembalikan peradaban yang telah dimusnakan oleh para penjajah yang telah mengubah Iskandariyah (Alexandria) menjadi corak yang jauh dari Islam. Khilafah akan mengembalikan kejayaan kaum muslimin seperti halnya dulu bahkan akan jauh melebihi Islam di masa sebelum keruntuhan. Khilafah akan menjadi payung yang menyatukan dan mengembalikan kemuliaan umat Islam. Iskandariyah, peradaban Islam yang agung akan segera kembali menyelimutimu kembali…[VM]

0 Response to "Alexandria; Namamu Hadir dalam Memoriku"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel